
Korban penikaman di car free day
CELEBES POST | MAKASSAR — Ruang publik yang seharusnya menjadi tempat aman dan nyaman bagi warga justru berubah menjadi arena kekerasan brutal. Seorang petugas keamanan pusat perbelanjaan Ramayana, Syahril, menjadi korban pengeroyokan disertai penikaman saat kegiatan Car Free Day (CFD) di Jalan Boulevard, Kecamatan Panakkukang, Makassar, Minggu pagi (12/4).
Peristiwa berdarah ini terjadi saat korban tengah menjalankan tugas pengamanan di area akses masuk pusat perbelanjaan. Insiden bermula ketika Syahril menegur pihak pengelola parkiran CFD yang menutup jalur masuk menuju Ramayana, sehingga dinilai menghambat akses pengunjung.
“Jangan ditutup pintu akses ke dalam, supaya pengunjung juga bisa masuk,” ujar Syahril, menirukan ucapannya sebelum insiden terjadi.
Namun, teguran tersebut justru menyulut emosi sejumlah orang di lokasi. Tanpa banyak kata, salah satu pelaku langsung melayangkan pukulan ke arah korban. Situasi seketika memanas, berubah menjadi aksi brutal ketika beberapa orang lainnya ikut melakukan pengeroyokan secara membabi buta.
![]() |
| Syahril, menjadi korban pengeroyokan disertai penikaman saat kegiatan Car Free Day (CFD) di Jalan Boulevard, Kecamatan Panakkukang, Makassar, Minggu pagi (12/4) |
Tak berhenti di situ, aksi kekerasan meningkat ke level yang lebih mengerikan. Salah satu pelaku mengayunkan senjata tajam jenis parang ke arah tubuh korban. Syahril yang berusaha mempertahankan diri dengan tangan kiri tetap tak mampu menghindari serangan lanjutan. Ia akhirnya mengalami luka tusuk serius di bagian belakang tubuh sebelah kiri.
Korban yang bersimbah darah langsung dievakuasi ke RS Grestelina Makassar untuk mendapatkan penanganan medis. Hingga saat ini, Syahril masih menjalani perawatan intensif di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Aparat dari Polrestabes Makassar telah turun tangan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) serta mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi di lokasi. Polisi kini masih memburu para pelaku dan mendalami motif di balik aksi pengeroyokan dan penikaman tersebut.
Peristiwa ini sontak menjadi sorotan publik. Bagaimana mungkin kegiatan Car Free Day—yang sejatinya menjadi simbol ruang sehat, ramah, dan bebas kendaraan—justru ternodai oleh aksi kekerasan yang nyaris merenggut nyawa?
Minimnya pengaturan akses, lemahnya koordinasi antar pengelola, serta absennya pengamanan yang tegas dinilai menjadi celah yang membuka ruang konflik di tengah keramaian. Jika tidak segera dievaluasi secara menyeluruh, bukan tidak mungkin tragedi serupa akan kembali terulang—bahkan dengan korban yang lebih besar.
CELEBES POST menegaskan: ruang publik bukan arena kekuasaan kelompok tertentu. Ketika fungsi pengamanan diabaikan dan ego sektoral dibiarkan liar, maka yang lahir adalah kekacauan—dan rakyatlah yang menjadi korban.
Kini, publik menunggu langkah tegas aparat. Jangan sampai hukum kalah oleh arogansi jalanan. Jangan biarkan kekerasan menjadi wajah baru Car Free Day di Makassar.
DDL CELEBES POST
