![]() |
Ilustrasi |
JAKARTA, Celebes Post — Dalam diskursus keagamaan dan politik di Indonesia, istilah "Islam Kiri" sering kali dihantui bayang-bayang stigma. Disebut "radikal", "komunis", atau "asing dari Islam", istilah ini kerap dipahami secara sempit, bahkan digunakan sebagai alat stigmatisasi terhadap kelompok yang kritis terhadap struktur kekuasaan. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, "Islam Kiri" bukanlah ideologi impor, melainkan sebuah upaya menerjemahkan kembali ruh Islam yang penuh keadilan, pembebasan, dan solidaritas sosial.
Seperti diungkapkan oleh penulis dalam esainya, "Kiri tak selamanya berbicara arah, kiri tak selamanya berkonotasi negatif, dan kiri tak selamanya komunis." Istilah "kiri" sendiri lahir dari konteks sejarah Perancis abad ke-18, ketika dalam sidang parlemen pasca-Revolusi Prancis, para wakil rakyat yang mendukung perubahan dan reformasi sosial duduk di sisi kiri, sementara kelompok konservatif menempati sisi kanan. Sejak saat itu, "kiri" menjadi simbol perlawanan terhadap status quo, dorongan untuk perubahan progresif, dan komitmen terhadap keadilan sosial.
Dalam konteks Islam, istilah "Islam Kiri" pertama kali diperkenalkan oleh A.G. Salih pada tahun 1972, yang mendefinisikannya sebagai kecenderungan sosialistik dalam Islam—yakni, hasrat untuk menghapus penindasan terhadap mustad’afin (kaum yang lemah dan tertindas). Namun, penting dicatat: Islam Kiri bukanlah penyalinan buta terhadap sosialisme atau marxisme. Ia bukan ideologi sekuler yang mengusung ateisme, melainkan pemahaman keagamaan yang menekankan dimensi sosial, ekonomi, dan politik dari ajaran Islam.
Islam di Jalanan, Bukan di Istana
Islam tidak lahir di balik tembok istana atau di ruang-ruang elit kekuasaan. Ia muncul di tengah masyarakat Mekkah yang timpang: budak diperlakukan layaknya barang, perempuan tidak punya hak waris, dan kaum miskin terpinggirkan. Di tengah realitas itu, Nabi Muhammad hadir membawa misi pembebasan—tahrir, ‘adalah, rahmah.
Zakat, misalnya, bukan sekadar ritual spiritual, melainkan mekanisme redistribusi kekayaan yang revolusioner. Larangan riba adalah bentuk kritik tajam terhadap sistem ekonomi yang eksploitatif. Amar ma’ruf nahi munkar bukan hanya ajakan moral, tetapi perintah untuk melawan tirani dan kedzaliman. Bahkan Nabi bersabda, "Sebaik-baik jihad adalah berkata benar di hadapan penguasa yang zalim." (HR. Abu Daud, Tirmidzi).
Bukankah ini semua nilai-nilai yang menjadi inti dari "kiri"? Bukan kiri dalam arti ideologis sempit, tetapi kiri sebagai etika perlawanan terhadap ketidakadilan.
Islam Kiri: Ketika Agama Berpihak pada Rakyat
Sayangnya, wajah Islam yang membebaskan ini sering kali terdistorsi. Di banyak tempat, agama dijadikan alat legitimasi kekuasaan. Khutbah di masjid digunakan untuk membela penguasa, fatwa dikeluarkan untuk membungkam kritik, dan ajaran Islam disederhanakan hanya pada ritual dan akhlak individual, sementara isu sosial—seperti kemiskinan, ketimpangan, dan penindasan struktural—ditinggalkan.
Di sinilah "Islam Kiri" menemukan relevansinya. Ia bukan menawarkan doktrin baru, melainkan mengingatkan umat akan dimensi sosial yang sering terlupakan dalam praktik keagamaan. Islam Kiri adalah Islam yang:
Berdiri di samping petani yang lahannya dirampas korporasi,
Mendampingi buruh yang upahnya tidak layak,
Menjadi suara bagi perempuan yang dieksploitasi,
Dan membela warga yang digusur demi proyek-proyek pembangunan tanpa kompensasi adil.
Ia adalah Islam yang tidak takut mengatakan "tidak" pada kekuasaan yang zalim, karena ia hanya tunduk pada satu kekuasaan: Allah SWT.
Bukan Ideologi Asing, Tapi Pengingat Kembali
Maka, ketika muncul istilah "Islam Kiri", kita tidak perlu takut. Ia bukan ancaman terhadap akidah, melainkan pemanggilan kembali kepada jati diri Islam sebagai agama pembebasan. Ia mengingatkan kita bahwa iman tidak hanya diukur dari banyaknya salat dan puasa, tetapi juga dari seberapa besar kita berdiri bersama yang tertindas.
Seperti kata penulis, "Islam yang sejati bukan di balik mimbar penguasa, melainkan di sawah yang dirampas korporasi, di kampung yang digusur, di jalanan tempat rakyat menjerit lapar."
Dan di situlah, Islam Kiri menemukan rumahnya.
Penutup: Kembali ke Jantung Ajaran Islam
Dalam dunia yang semakin timpang, dengan kesenjangan ekonomi yang melebar dan kekuasaan yang semakin otoriter, "Islam Kiri" hadir sebagai gema lembut namun tegas dari nilai-nilai Qur’ani yang sering terlupakan. Ia bukan sekadar wacana akademik, melainkan panggilan moral bagi umat Islam untuk kembali pada misi awal agama ini: keadilan, pembebasan, dan rahmat bagi seluruh alam.
Karena pada akhirnya, Islam bukan agama yang netral terhadap ketidakadilan.
Islam adalah agama yang berpihak—dan pilihannya jelas: berpihak pada yang lemah.
#IslamKiri #KeadilanSosial #Mustadafin #Agsalih #Zakat #LaranganRiba #AmarMaarufNahiMunkar #AgamaDanKekuasaan #RefleksiIslam #AhmadHilaluddin
Oleh: Ahmad Hilaluddin (Dimuat dengan penyuntingan redaksi untuk konteks reflektif dan jurnalistik)
Analisis Sosial-Keagamaan, 24 Agustus 2025
Editor: @mds