
Direktur MAKI Sulsel, Hidayat Akbar Bersama Kepala BNNP Sulsel, Agung Prabowo
CELEBES POST | MAKASSAR — Selasa siang (03/03) itu, ruang pertemuan di Kantor Badan Narkotika Nasional Provinsi Sulawesi Selatan terasa berbeda. Bukan sekadar agenda formal penuh basa-basi. Ada kegelisahan yang sama, ada kemarahan yang terpendam, dan ada tekad yang perlahan berubah menjadi api.
Di ruangan itulah, dua kekuatan—negara dan masyarakat sipil—duduk sejajar. Masyarakat Anti Korupsi Indonesia Sulawesi Selatan (MAKI Sulsel) datang bukan hanya membawa dokumen dan program kerja, tetapi membawa satu pesan keras: narkoba dan korupsi adalah dua wajah dari uang haram yang sama, dan keduanya sedang menggerogoti masa depan Sulawesi Selatan.
Ini bukan lagi soal statistik. Ini soal nyawa. Soal generasi. Soal masa depan Butta Passere.
Ketika Kejahatan Luar Biasa Tak Bisa Dilawan dengan Cara Biasa
Kepala BNNP Sulsel, Agung Prabowo, berbicara lugas tanpa tedeng aling-aling. Perang melawan narkotika, katanya, tak bisa dimenangkan sendirian.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Dukungan MAKI Sul-Sel sangat krusial, terutama dalam mengawasi integritas penegakan hukum dan memberikan edukasi kepada masyarakat luas.”
Kalimat itu sederhana, tetapi maknanya dalam. Di baliknya tersimpan pengakuan bahwa narkoba hari ini bukan lagi sekadar transaksi gelap di lorong-lorong kota. Ia sudah menjelma menjadi jaringan rapi yang sering berkelindan dengan suap, perlindungan oknum, dan pencucian uang.
Diskusi siang itu mengerucut pada satu fakta pahit: uang hasil narkoba kerap menjadi bahan bakar korupsi. Ia membeli diam, membeli pengaruh, bahkan mencoba membeli hukum.
Dan ketika hukum mulai goyah, yang runtuh bukan hanya satu institusi—tetapi kepercayaan publik.
![]() |
| Perjanjian Kesepakatan Kerjasama BNNP dan MAKI SULSEL |
Dua Sisi Uang Haram: Narkoba dan Korupsi
Narkoba merusak tubuh dan jiwa. Korupsi merusak sistem dan keadilan. Ketika keduanya bersatu, yang hancur adalah fondasi bangsa.
Direktur MAKI Sulsel, Hidayat Akbar, menegaskan bahwa organisasinya siap menjadi mitra kritis sekaligus strategis.
Bukan sekadar mendukung, tetapi mengawal.
“Memutus rantai narkoba dan korupsi adalah langkah konkret menuju Indonesia Emas 2045. Tanpa integritas, kita hanya membangun istana di atas pasir.”
Pernyataan itu menggema di ruangan. Sebab semua yang hadir tahu, perang ini bukan hanya soal menangkap pengguna atau kurir. Ini soal membongkar sistem, menutup celah kebocoran, dan memastikan tak ada ruang aman bagi pelaku—siapa pun dia.
Komitmen Nyata: Bukan Sekadar Seremoni
Pertemuan itu melahirkan komitmen konkret:
Mengawasi transparansi penanganan kasus besar agar berjalan sesuai prosedur tanpa intervensi oknum.
Sosialisasi terpadu anti-narkoba dalam setiap advokasi masyarakat.
Pertukaran informasi cepat terkait wilayah rawan dan aktivitas mencurigakan.
Edukasi langsung ke sekolah-sekolah di Sulawesi Selatan dengan melibatkan berbagai stakeholder.
Langkah ini bukan simbolik. Ini strategi. Ini penutupan pintu-pintu gelap yang selama ini mungkin dibiarkan terbuka.
Menyelamatkan Generasi Butta Passere
Sulawesi Selatan—tanah yang dijuluki Butta Passere—tidak boleh menjadi ladang subur bagi sindikat narkoba. Setiap anak muda yang terjerat adalah satu mimpi yang dirampas. Setiap keluarga yang hancur adalah satu luka kolektif.
Di lorong-lorong Makassar, di pesisir, di pegunungan, ada orang tua yang bekerja keras demi masa depan anaknya. Ada siswa yang bercita-cita menjadi dokter, guru, tentara, pengusaha. Narkoba datang bukan hanya membawa euforia sesaat, tetapi membawa kehancuran panjang.
Ketika negara membuka ruang kolaborasi dan masyarakat sipil berani masuk mengawasi, di situlah harapan mulai tumbuh.
Dan harapan—seperti yang selalu diyakini—adalah energi paling kuat untuk terus melangkah maju.
Publik Kini Menunggu
Sinergi BNNP Sulsel dan MAKI Sulsel telah dimulai. Program aksi nyata disiapkan. Sosialisasi bersama ke zona merah narkoba akan menjadi langkah awal.
Namun publik menunggu lebih dari sekadar foto bersama dan siaran pers.
Apakah gerakan ini akan menjadi gelombang besar yang mengguncang jaringan narkoba hingga ke akarnya?
Ataukah ia akan meredup sebagai dokumentasi seremonial?
Jawabannya akan ditentukan oleh konsistensi, keberanian, dan integritas.
Satu hal yang pasti: ketika narkoba dan korupsi dikepung bersama, Sulawesi Selatan sedang menyalakan api perlawanan.
Api itu sudah menyala.
Dan ia tak boleh padam.
CELEBES POST
Pewarta Penyambung Lidah Rakyat.

