![]() |
| Dokumentasi Kontributor Celebes Post |
CELEBES POST | SIDRAP — Di tengah tekanan ekonomi yang terus menghimpit masyarakat akar rumput, secercah harapan justru lahir dari tangan-tangan mahasiswa. Bukan sekadar program seremonial, Mahasiswa KKN UIN Alauddin Makassar (UINAM) Posko 6 Desa Bulo Wattang menunjukkan aksi nyata: mengubah kebutuhan dapur menjadi peluang ekonomi.
Bertempat di Kantor Desa Bulo Wattang, Kecamatan Pancarijang, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), pada 11 April 2026, kegiatan workshop pembuatan sabun cuci piring sukses menyedot perhatian warga. Antusiasme terlihat jelas—ibu rumah tangga hingga pemuda desa memadati lokasi, bukan hanya untuk mendengar, tetapi ikut terlibat langsung dalam praktik.
Program ini bukan lahir tanpa dasar. Mahasiswa KKN terlebih dahulu melakukan observasi mendalam, menemukan satu fakta sederhana namun krusial: tingginya ketergantungan masyarakat terhadap produk kebutuhan sehari-hari yang sebenarnya bisa diproduksi sendiri secara mandiri dan murah.
Dari Dapur ke Peluang Usaha
Dalam workshop tersebut, warga diajarkan bagaimana membuat sabun cuci piring menggunakan bahan-bahan sederhana, bahkan sebagian berasal dari alam sekitar seperti daun pandan dan jeruk nipis. Prosesnya praktis, biayanya rendah, dan hasilnya tidak kalah efektif dari produk pabrikan.
Narasumber kegiatan, Nur Rokhmah Sr Sidha, Sekretaris KKN Posko 6, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar pelatihan biasa.
“Ini bukan hanya soal sabun. Ini tentang bagaimana masyarakat bisa mandiri, mengurangi pengeluaran, bahkan membuka peluang usaha baru dari hal sederhana,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi tamparan halus bagi pola konsumsi masyarakat yang selama ini bergantung pada produk komersial, tanpa menyadari potensi ekonomi di sekitar mereka.
Menggugat Ketergantungan, Menumbuhkan Kemandirian
Lebih jauh, kegiatan ini membuka ruang kesadaran baru. Di tengah mahalnya harga kebutuhan pokok, kemampuan memproduksi sabun sendiri menjadi solusi konkret. Tidak hanya menekan biaya rumah tangga, tetapi juga membuka peluang usaha mikro berbasis rumahan.
Warga yang hadir pun mengaku terinspirasi. Mereka melihat peluang untuk mengembangkan produk sabun cuci piring sebagai sumber pendapatan tambahan, bahkan berpotensi menjadi usaha kolektif desa.
Bukan Sekadar KKN, Ini Gerakan Sosial
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa program Kuliah Kerja Nyata tidak boleh berhenti pada formalitas. Mahasiswa hadir bukan hanya sebagai pelengkap administrasi desa, tetapi sebagai agen perubahan yang mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat.
Di Desa Bulo Wattang, langkah kecil ini telah menjadi awal dari gerakan besar: membangun kemandirian ekonomi dari dapur sendiri.
CELEBES POST mencatat, jika program semacam ini terus dikawal dan dikembangkan, bukan tidak mungkin desa-desa di Sulawesi Selatan mampu berdiri di atas kaki sendiri—tanpa terus bergantung pada pasar yang kian tidak bersahabat.
Red CELEBES POST
