![]() |
| Mantan sekretaris tim, Shesie Erisoya, secara terbuka menuntut pelunasan utang yang nilainya nyaris menyentuh Rp15 miliar |
CELEBES POST | MAKASSAR, SULSEL — Badai finansial kembali menghantam tubuh PSM Makassar. Kali ini, sorotan tajam publik mengarah pada dugaan utang miliaran rupiah yang belum diselesaikan, menyeret nama besar klub kebanggaan Sulawesi Selatan itu ke pusaran krisis kepercayaan.
Mantan sekretaris tim, Shesie Erisoya, secara terbuka menuntut pelunasan utang yang nilainya nyaris menyentuh Rp15 miliar. Tuntutan itu bukan sekadar gertakan. Melalui kuasa hukumnya, Agus Amri, ia menegaskan akan membawa perkara ini ke ranah hukum hingga Pengadilan Niaga jika tidak ada penyelesaian konkret dari pihak manajemen.
SISA UTANG MILIARAN, BOM WAKTU BAGI PSM
Dari total klaim hampir Rp15 miliar yang berasal dari periode kerja 2016 hingga 2019, disebutkan masih tersisa sekitar Rp5,6 hingga Rp5,67 miliar yang belum dibayarkan hingga Agustus 2023. Angka ini bukan kecil—ini adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja dan mengguncang stabilitas klub.
“Jika tidak ada itikad baik, kami akan tempuh jalur hukum, termasuk opsi pailit,” tegas pihak kuasa hukum. Pernyataan ini menjadi alarm keras, menandakan bahwa persoalan ini telah memasuki fase serius dan berpotensi mematikan.
ANCAMAN PAILIT, PSM DI UJUNG TANDUK?
Langkah hukum yang disiapkan bukan hanya gugatan perdata biasa. Opsi pengajuan pailit terhadap PT Persaudaraan Sepakbola Makassar menjadi ancaman nyata. Jika ini benar-benar terjadi, maka dampaknya bisa sangat luas—mulai dari operasional klub, kontrak pemain, hingga eksistensi PSM di kompetisi nasional.
Situasi ini juga membuka kembali luka lama terkait isu finansial PSM, termasuk dugaan keterlambatan pembayaran gaji pemain yang sempat mencuat sebelumnya. Publik pun mulai mempertanyakan transparansi dan tata kelola keuangan klub.
MANAJEMEN BUNGKAM, PUBLIK MENUNGGU JAWABAN
Di tengah tekanan yang semakin menguat, pihak manajemen PSM Makassar menyatakan masih melakukan peninjauan terhadap kondisi keuangan dan klaim utang tersebut. Namun hingga kini, belum ada kejelasan penyelesaian yang disampaikan secara terbuka.
Diamnya manajemen justru memperbesar spekulasi. Apakah ini sekadar persoalan administratif yang belum tuntas, atau benar-benar indikasi krisis keuangan yang lebih dalam?
NASIB KLUB LEGENDARIS DI UJUNG JURANG
Kasus ini bukan sekadar sengketa utang. Ini adalah ujian besar bagi integritas dan keberlanjutan salah satu klub tertua dan paling bersejarah di Indonesia. Jika tidak segera diselesaikan, bukan tidak mungkin krisis ini akan menyeret PSM ke jurang yang lebih dalam—baik secara hukum maupun reputasi.
Publik Makassar kini menanti: akankah manajemen bangkit dan menyelesaikan persoalan ini dengan elegan, atau justru membiarkan klub kebanggaan mereka terjerumus dalam krisis yang memalukan?
CELEBES POST akan terus mengawal dan mengungkap fakta di balik kasus ini.
DDL CELEBES POST
