Notification

×

Iklan

Gemini-Generated-Image-ga8bifga8bifga8b

Iklan

Gemini-Generated-Image-o40kr0o40kr0o40k

Indeks Berita

Tag Terpopuler

SAMPAH GOWA MENGGUNUNG, JABAL NUR TURUN TANGAN! Siapkan Lahan Pribadi hingga Gagas Sampah Jadi Listrik

Kamis, 24 September 2026 | September 24, 2026 WIB Last Updated 2026-09-24T10:08:44Z
Dokumentasi kontributor Celebes Post 


CELEBES POST | GOWA - Persoalan sampah di Kabupaten Gowa kembali menjadi perhatian publik setelah tumpukan sampah terlihat di sejumlah titik. Kondisi tersebut terjadi di tengah terganggunya aktivitas pengangkutan dan persoalan akses menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Caddika.


Sejumlah laporan media menyebut gangguan pengelolaan sampah di Gowa berkaitan dengan persoalan operasional armada, termasuk pembayaran BBM, serta akses menuju TPA Caddika yang mengalami kendala. ANTARA juga melaporkan adanya estimasi sekitar 1.200 ton sampah yang menumpuk di sejumlah wilayah Gowa. 


Di tengah situasi tersebut, politisi PAN Sulawesi Selatan, Jabal Nur, angkat bicara.


Bukan sekadar memberikan komentar, Jabal Nur menyatakan dirinya siap menawarkan lahan yang dimilikinya sebagai salah satu opsi penanganan sementara terhadap persoalan sampah yang sedang dihadapi masyarakat Gowa.


Menurut Jabal, lahan tersebut dapat dimanfaatkan untuk menampung sampah sementara sembari pemerintah menyelesaikan persoalan yang terjadi di TPA Caddika.


“Saya siapkan tanah saya dan lokasi semen yard untuk pembuangan dan pengolahan sampah jadi listrik. Kalau minggu ini tidak selesai urusan lahan Haji Nyampa,” ujar Jabal Nur, sebagaimana disampaikan dalam narasi keterangannya.

 


Pernyataan tersebut muncul ketika persoalan akses TPA Caddika masih menjadi salah satu isu utama dalam penanganan sampah Gowa.


Pemilik lahan yang digunakan di kawasan TPA Caddika, Haji Abdul Kadir Daeng Nyampa, sebelumnya menyatakan siap membuka kembali akses apabila terdapat kesepakatan dengan Pemerintah Kabupaten Gowa terkait persoalan pembayaran lahan. 


JABAL: SAMPAH BUKAN LAGI MASALAH PERORANGAN


Bagi Jabal Nur, persoalan sampah tidak semestinya dipandang sebagai persoalan pemerintah semata.


Ia menilai kondisi tersebut telah menyentuh kepentingan masyarakat luas sehingga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.


“Sampah ini adalah masalah bersama. Jadi bukan lagi masalah orang per orang, tetapi masalah masyarakat umum yang harus dicari solusi bersama,” tegasnya.

 


Pernyataan itu sekaligus menjadi ajakan agar persoalan persampahan tidak hanya dibebankan kepada pemerintah daerah.


Menurut Jabal, masyarakat, tokoh masyarakat, pelaku usaha, organisasi kemasyarakatan, maupun pihak-pihak yang memiliki sumber daya dapat mengambil bagian dalam mencari solusi.


LAHAN SIAP, MENUNGGU LANGKAH BERSAMA


Jabal menambahkan, lahan yang dimilikinya siap digunakan sebagai tempat penampungan sementara, sembari menunggu penyelesaian persoalan TPA Caddika.


Ia berharap langkah tersebut dapat membantu pemerintah mengurangi tekanan akibat sampah yang menumpuk di sejumlah wilayah.


Namun, gagasan tersebut tentu membutuhkan pembahasan lebih lanjut dengan pemerintah dan pihak terkait, terutama menyangkut aspek teknis, lingkungan, perizinan, keamanan, serta tata kelola pengolahan sampah.


Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Gowa sendiri telah menyatakan tengah mencari solusi terkait akses menuju TPA Caddika, termasuk opsi akses alternatif sembari menyelesaikan persoalan dengan pihak pemilik lahan.


DARI SAMPAH MENJADI ENERGI


Yang menarik, Jabal tidak hanya menawarkan lahan untuk penampungan.


Ia juga menyampaikan gagasan agar sampah tidak berhenti sebagai limbah yang menumpuk, tetapi dapat diarahkan menuju pengolahan menjadi energi listrik.


Gagasan tersebut membuka perspektif yang lebih jauh: bahwa persoalan sampah tidak semata-mata tentang bagaimana membuang sampah, tetapi bagaimana sampah dapat dikelola sehingga memiliki nilai manfaat.


Konsep pengolahan sampah menjadi energi sendiri bukan gagasan yang sepenuhnya baru dalam diskursus pengelolaan persampahan. Kajian mengenai pengelolaan sampah Gowa sebelumnya juga mencatat adanya pembahasan mengenai potensi pengolahan sampah menjadi gas dan keterlibatan pihak investor dalam pengelolaan sampah.


BUKAN SAATNYA HANYA MENUNGGU


Jabal Nur menegaskan, dirinya tidak ingin hanya melihat persoalan yang terjadi tanpa mengambil bagian dalam mencari jalan keluar.


“Jangan hanya tinggal diam melihat masalah yang ada. Mari kita sama-sama melakukan aksi nyata untuk membersamai membantu pemerintah menangani persoalan sampah,” ujarnya.

 


Baginya, persoalan sampah merupakan pekerjaan besar yang membutuhkan kebersamaan, keberanian mengambil langkah, dan solusi konkret.


Sebab ketika sampah mulai menumpuk di ruang publik, persoalannya tidak lagi berhenti pada urusan kebersihan.


Ia menyentuh kenyamanan masyarakat, kesehatan lingkungan, aktivitas ekonomi, wajah kota, hingga kepercayaan publik terhadap kemampuan semua pihak dalam menyelesaikan persoalan bersama.


MENANTI AKSI, BUKAN SEKADAR JANJI


Kini, tawaran lahan dan gagasan pengolahan sampah menjadi energi yang disampaikan Jabal Nur menjadi sebuah opsi yang masih perlu dibuktikan melalui langkah konkret dan pembahasan bersama pemerintah serta pihak berwenang.


Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Gowa masih menghadapi pekerjaan besar untuk memulihkan sistem pengangkutan dan pembuangan sampah. Sejumlah titik yang sebelumnya dipenuhi tumpukan sampah dilaporkan mulai ditangani melalui gerakan lintas sektor.


Pada akhirnya, krisis sampah tidak mengenal batas kelompok, kepentingan, maupun jabatan.


Ketika sampah menjadi masalah bersama, maka solusi pun harus menjadi gerakan bersama.


Dan dari Gowa, satu pesan kembali menggema:


Jangan hanya bertanya siapa yang bertanggung jawab. Saatnya bertanya, siapa yang mau ikut mengambil tanggung jawab.

 


CELEBES POST — Pewarta Penyambung Lidah Rakyat

(Adi Kruch)

×
Berita Terbaru Update