Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

GELOMBANG AI MENUJU 2036: BENARKAH MANUSIA TAK LAGI PERLU BEKERJA, ATAU JUSTRU TERANCAM MENJADI KONSUMEN DI NEGERI SENDIRI?

Selasa, 27 Oktober 2026 | Oktober 27, 2026 WIB Last Updated 2026-10-26T22:33:10Z
Dokumentasi Ilustrasi kontributor Celebes Post 


CELEBES POST | MAKASSAR — Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) diprediksi akan mengubah wajah perekonomian dunia dalam satu dekade mendatang. Otomatisasi pekerjaan, perkembangan robot humanoid, dan sistem produksi berbasis algoritma memunculkan satu pertanyaan mendasar: apakah kemajuan teknologi akan membawa manusia menuju era kelimpahan, atau justru memperlebar kesenjangan antara pemilik teknologi dan masyarakat yang hanya menjadi penggunanya?


Sebuah narasi futuristik tentang masa depan ekonomi memproyeksikan perubahan radikal sepanjang 2026–2036. Dalam skenario tersebut, AI diperkirakan mengambil alih semakin banyak pekerjaan digital, robot berpotensi mendominasi proses produksi, dan biaya pembuatan barang maupun jasa dapat semakin rendah berkat peningkatan efisiensi teknologi.


Namun, di balik gambaran masa depan yang menjanjikan itu, tersimpan persoalan besar yang tidak boleh diabaikan: siapa yang akan menguasai teknologi, siapa yang menikmati hasil produktivitas, dan bagaimana nasib masyarakat apabila perubahan berlangsung lebih cepat daripada kemampuan mereka untuk beradaptasi?


Perlu ditegaskan, proyeksi mengenai hilangnya seluruh pekerjaan digital pada 2027, tercapainya pendapatan tanpa bekerja pada 2034, hingga satu miliar robot humanoid aktif pada 2036 belum dapat dipastikan sebagai kenyataan. Angka dan jadwal tersebut merupakan skenario futuristik, bukan fakta yang sudah terkonfirmasi.


2026–2036: PETA PREDIKSI PERUBAHAN EKONOMI DUNIA


Dalam narasi futuristik tersebut, 2026 dipandang sebagai fase ketika kemampuan AI semakin mendekati atau melampaui manusia dalam sejumlah tugas tertentu. Perkembangan ini menjadi titik awal perubahan besar dalam cara manusia bekerja dan menghasilkan nilai ekonomi.


Memasuki 2027, otomatisasi diprediksi semakin luas menjangkau administrasi, industri kreatif, analisis data, dan pekerjaan digital lainnya. Pada 2028, AI diperkirakan semakin berperan dalam pengembangan perangkat lunak, termasuk proses penulisan kode dan pengujian sistem.


Tahun 2029 digambarkan sebagai periode ketika robot medis semakin canggih, termasuk dalam tindakan bedah yang membutuhkan presisi tinggi. Meski demikian, klaim bahwa robot Tesla Optimus akan melampaui kemampuan ahli bedah terbaik dunia pada tahun tersebut masih memerlukan bukti dan tidak dapat diperlakukan sebagai kepastian.


Pada 2030, skenario ini membayangkan lahirnya kecerdasan buatan yang melampaui kecerdasan kolektif manusia. Tahun 2031 kemudian diproyeksikan menjadi periode ketika populasi robot humanoid berkembang pesat, bahkan disebut berpotensi mencapai 100 juta unit.


Sementara itu, tahun 2032 digambarkan sebagai masa ketika perekonomian global dapat berkembang hingga dua kali lipat dibandingkan kondisi saat ini akibat lonjakan produktivitas mesin. Proyeksi ini belum dapat dipastikan dan sangat bergantung pada perkembangan teknologi, permintaan pasar, investasi, serta kebijakan ekonomi global.


Memasuki 2033, narasi tersebut memprediksi perubahan mendasar dalam pola menabung dan mempersiapkan masa pensiun. Selanjutnya, tahun 2034 digambarkan sebagai awal era pendapatan tinggi universal atau Universal High Income, ketika kebutuhan hidup manusia diharapkan dapat dipenuhi dengan keterlibatan tenaga kerja yang semakin kecil.


Pada 2035, bekerja diproyeksikan menjadi pilihan, bukan lagi keharusan ekonomi bagi setiap orang. Puncaknya, tahun 2036 dibayangkan sebagai era ketika satu miliar robot humanoid menopang kapasitas produksi dunia dan membawa manusia menuju era kelimpahan luar biasa atau extraordinary abundance.


Sekali lagi, seluruh rangkaian tersebut merupakan prediksi. Tidak ada kepastian bahwa perkembangan teknologi akan mengikuti jadwal itu, terlebih bahwa seluruh manusia akan menikmati pendapatan tinggi tanpa harus bekerja.


Pada 2035, bekerja diproyeksikan menjadi pilihan, bukan lagi keharusan ekonomi bagi setiap orang. Puncaknya, tahun 2036


ELON MUSK DAN GAGASAN ERA KELIMPAHAN


Nama Elon Musk kerap dikaitkan dengan gagasan bahwa kemajuan AI dan robotika berpotensi membawa manusia menuju era kelimpahan. Dalam gambaran optimistis tersebut, mesin dapat meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, dan memperluas akses masyarakat terhadap barang serta jasa.


Namun, peningkatan produktivitas tidak otomatis menjamin setiap orang memperoleh penghasilan tanpa bekerja.


Terwujudnya pendapatan universal atau pemenuhan kebutuhan hidup tanpa pekerjaan bergantung pada banyak faktor, termasuk kepemilikan aset produktif, sistem distribusi kekayaan, kebijakan pemerintah, ketersediaan sumber daya, dan kemampuan masyarakat mengakses teknologi.


Dengan demikian, gagasan mengenai masa depan ketika manusia tidak lagi harus bekerja perlu dipahami sebagai kemungkinan yang masih membutuhkan pembuktian, bukan jaminan bahwa seluruh masyarakat akan memperoleh pendapatan tinggi pada 2034.


PEKERJAAN BERUBAH, NILAI TENAGA MANUSIA IKUT DIPERTARUHKAN


Salah satu dampak paling penting dari perkembangan AI adalah perubahan nilai pekerjaan manusia.


Ketika sebagian tugas dapat diselesaikan lebih cepat dan murah oleh mesin, pekerjaan yang mengandalkan aktivitas berulang berpotensi mengalami tekanan. Sebagian profesi dapat menyusut, sebagian lainnya berubah, sementara bidang pekerjaan baru muncul seiring berkembangnya teknologi.


Situasi ini menjadi tantangan bagi pekerja, pelaku usaha, lembaga pendidikan, dan pemerintah. Ketergantungan pada satu sumber pendapatan tanpa peningkatan keterampilan atau persiapan menghadapi perubahan ekonomi dapat meningkatkan kerentanan sebagian rumah tangga.


Meski demikian, tidak tepat menyimpulkan bahwa setiap orang yang mengandalkan gaji bulanan pasti akan jatuh miskin. Dampak otomatisasi akan berbeda menurut sektor, jenis pekerjaan, tingkat keterampilan, kebijakan ketenagakerjaan, dan kecepatan adaptasi masing-masing negara.


Yang semakin penting adalah kemampuan beradaptasi, memahami teknologi, meningkatkan keterampilan, serta membangun ketahanan keuangan sesuai kondisi masing-masing.


Masa depan bukan semata-mata tentang siapa yang mampu bekerja paling lama, tetapi juga tentang bagaimana manusia memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan nilai tambah. Namun, perubahan tersebut harus disertai perlindungan yang memadai agar pekerja tidak dibiarkan menanggung sendiri seluruh risiko otomatisasi.


AI MENJADI ASET BISNIS, TETAPI BUKAN JAMINAN KEUNTUNGAN


Bagi pelaku usaha, penerapan AI berpotensi meningkatkan efisiensi operasional, mempercepat pelayanan, mengoptimalkan proses produksi, dan membantu pengambilan keputusan berbasis data.


Otomatisasi juga membuka peluang bagi usaha kecil dan menengah untuk mengembangkan layanan digital tanpa harus menambah tenaga kerja dalam jumlah besar.


Gagasan membangun sistem sekali lalu memperoleh pendapatan berulang setiap bulan memang menarik. Namun, anggapan bahwa sebuah sistem AI dapat menghasilkan keuntungan tanpa henti dan tanpa pengelolaan merupakan penyederhanaan yang berisiko menyesatkan.


Sistem AI tetap membutuhkan biaya pengembangan, infrastruktur komputasi, energi listrik, pemeliharaan, keamanan data, dan pengawasan manusia. Keuntungan usaha juga bergantung pada kebutuhan pasar, kualitas produk, persaingan, serta kemampuan pengelola menjalankan bisnis secara berkelanjutan.


Karena itu, AI sebaiknya dipandang sebagai instrumen produktivitas dan peluang pengembangan usaha, bukan jalan pintas yang menjamin keuntungan tanpa risiko.


Pelaku usaha yang mampu mengidentifikasi kebutuhan pasar dan menggunakan teknologi secara tepat berpeluang meningkatkan daya saing. Sebaliknya, penerapan AI tanpa perencanaan bisnis yang matang dapat menambah biaya tanpa memberikan hasil yang sepadan.


KEDAULATAN DIGITAL: JANGAN SAMPAI INDONESIA HANYA MENJADI PASAR


Di tengah persaingan teknologi global, Indonesia menghadapi pertanyaan strategis: apakah hanya akan menjadi pasar pengguna teknologi asing, atau ikut membangun dan memiliki infrastruktur digital yang menopang perekonomian masa depan?


Kepemilikan pusat data, kapasitas komputasi, sumber daya manusia digital, jaringan energi, dan kemampuan mengembangkan teknologi menjadi faktor penting dalam membangun kemandirian digital.


Narasi futuristik tersebut juga menyoroti perubahan geopolitik, termasuk upaya sejumlah negara memperluas penggunaan mata uang selain dolar Amerika Serikat serta mengamankan pasokan komoditas strategis seperti emas, perak, dan mineral industri.


Namun, dedolarisasi dan peningkatan cadangan logam mulia tidak serta-merta membuktikan bahwa satu blok ekonomi tertentu telah menguasai masa depan teknologi. Persaingan global melibatkan banyak faktor, mulai dari perdagangan, investasi, industri semikonduktor, energi, hingga kebijakan moneter.


AI dan pusat data membutuhkan pasokan listrik yang andal. Industri teknologi juga bergantung pada komponen elektronik, mineral strategis, dan rantai pasok global. Artinya, pengembangan infrastruktur AI nasional harus berjalan beriringan dengan penguatan energi, pendidikan, riset, dan industri dalam negeri.


Indonesia perlu memastikan bahwa pembangunan ekosistem AI tidak hanya meningkatkan konsumsi layanan digital, tetapi juga memperkuat kemampuan nasional dalam menciptakan, mengembangkan, dan mengelola teknologi.


SIAPA YANG AKAN MEMILIKI MESIN PRODUKSI MASA DEPAN?


Inilah pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar memperdebatkan apakah robot akan menggantikan manusia.


Jika AI mampu menekan biaya produksi secara signifikan, masyarakat berpotensi menikmati barang dan jasa yang lebih terjangkau. Akan tetapi, apabila kepemilikan teknologi dan aset produktif terkonsentrasi pada sebagian kecil pelaku ekonomi, peningkatan produktivitas belum tentu diikuti pemerataan kesejahteraan.


Sebaliknya, jika akses terhadap teknologi terbuka, keterampilan masyarakat meningkat, dan pelaku usaha lokal mampu berinovasi, otomatisasi dapat menciptakan peluang ekonomi baru.


Karena itu, pemerintah perlu menimbang iklim investasi, kepastian hukum, perpajakan, perlindungan pekerja, pendidikan vokasi, pengembangan riset, dan dukungan terhadap usaha lokal secara seimbang.


Kritik terhadap kebijakan ekonomi merupakan bagian dari pengawasan publik. Namun, tudingan bahwa pemerintah sengaja menciptakan ketergantungan digital atau bahwa Indonesia pasti menjadi negara miskin digital pada 2036 membutuhkan bukti dan analisis yang memadai.


Yang patut menjadi perhatian adalah risiko ketimpangan apabila kemampuan teknologi berkembang pesat, sementara akses terhadap pendidikan, modal, infrastruktur, dan kesempatan ekonomi tidak mengalami kemajuan yang sebanding.


Sebab, persoalan mendasarnya bukan hanya siapa yang mampu menciptakan mesin paling canggih, melainkan siapa yang memiliki teknologi, menguasai infrastruktur, menikmati hasil produktivitas, dan menentukan arah ekonomi masa depan.


REKOMENDASI: PEMERINTAH HARUS BERGERAK, BUKAN SEKADAR BERWACANA


Gelombang AI tidak cukup dijawab dengan seminar, slogan transformasi digital, atau sekadar memamerkan kecanggihan teknologi. Indonesia membutuhkan langkah nyata agar kemajuan kecerdasan buatan tidak hanya memperbesar keuntungan pemilik modal, sementara pekerja kehilangan kesempatan dan masyarakat sekadar menjadi pelanggan teknologi buatan luar negeri.


Ada sejumlah langkah strategis yang patut menjadi perhatian pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan masyarakat.


Pertama, memperkuat infrastruktur AI nasional. Pemerintah perlu mendorong pengembangan pusat data, kapasitas komputasi, riset, dan pasokan energi yang andal dengan memperhatikan efisiensi, keamanan, serta dampak lingkungan.


Kedua, memperluas pendidikan dan pelatihan keterampilan AI. Pekerja, pelajar, pelaku UMKM, dan masyarakat umum perlu memperoleh akses terhadap pelatihan yang relevan agar tidak sekadar menjadi pengguna, tetapi juga mampu menciptakan solusi teknologi.


Ketiga, menyiapkan perlindungan bagi pekerja terdampak otomatisasi. Program peningkatan keterampilan, transisi pekerjaan, informasi pasar kerja, dan jaring pengaman sosial perlu disiapkan agar perubahan teknologi tidak membebankan seluruh risiko kepada pekerja dan keluarganya.


Keempat, memperkuat perusahaan teknologi lokal. Peneliti, pengembang, dan pelaku usaha nasional membutuhkan akses terhadap pembiayaan, infrastruktur, riset, serta kepastian hukum untuk mengembangkan produk AI sendiri. Kebijakan perpajakan, perizinan, investasi, dan pengadaan pemerintah perlu mendukung inovasi tanpa mengabaikan kepentingan publik.


Kelima, memastikan manfaat otomatisasi tidak hanya terkonsentrasi pada segelintir pihak. Pemerintah perlu mengkaji kebijakan distribusi manfaat ekonomi digital yang adil, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Peningkatan produktivitas seharusnya membuka peluang bagi kesejahteraan yang lebih luas.


Keenam, memperkuat kedaulatan data dan keamanan digital. Informasi masyarakat serta infrastruktur strategis Indonesia harus terlindungi, tanpa menutup peluang kolaborasi internasional dan pertukaran pengetahuan.


Ketujuh, membangun indikator kesiapan nasional yang terukur. Pemerintah perlu menyampaikan target, anggaran, capaian, serta evaluasi berkala terkait adopsi AI, kesiapan tenaga kerja, pengembangan industri lokal, dan dampaknya terhadap produktivitas maupun kesempatan kerja. Dengan demikian, masyarakat dapat menilai hasil kebijakan berdasarkan data, bukan sekadar janji.


Bagi masyarakat dan pelaku usaha, persiapan juga tidak boleh ditunda. Mempelajari AI, memanfaatkan teknologi secara produktif, membangun usaha yang memiliki nilai tambah, dan mengelola keuangan dengan disiplin merupakan langkah yang relevan untuk menghadapi perubahan.


Namun, masyarakat juga perlu waspada terhadap janji pendapatan pasif tanpa risiko, investasi yang mengatasnamakan AI, atau klaim bahwa seluruh pekerjaan akan lenyap pada tahun tertentu. Perubahan teknologi perlu disikapi dengan pengetahuan dan perhitungan, bukan ketakutan maupun euforia berlebihan.


PENUTUP: JANGAN BIARKAN RAKYAT HANYA MENJADI PENONTON KEMAKMURAN DIGITAL


Tahun 2036 belum tentu menjadi era ketika manusia berhenti bekerja. Pendapatan universal juga belum dapat dipastikan menjadi kenyataan. Akan tetapi, perubahan menuju ekonomi yang semakin otomatis merupakan tantangan yang layak dipersiapkan sejak sekarang.


Pemerintah harus menjawab tantangan ini dengan kebijakan, anggaran, target, dan evaluasi yang jelas—bukan sekadar retorika. Publik berhak mengetahui sejauh mana kesiapan Indonesia menghadapi otomatisasi, bagaimana nasib pekerja yang terdampak, dan strategi apa yang disiapkan agar nilai ekonomi dari teknologi tidak seluruhnya mengalir ke luar negeri.


Indonesia tidak harus menolak kemajuan AI. Yang dibutuhkan adalah strategi agar teknologi berkembang bersama penguatan sumber daya manusia, industri nasional, perlindungan pekerja, dan pemerataan kesempatan ekonomi.


Jika investasi teknologi dibarengi pendidikan, inovasi, tata kelola yang baik, serta akses yang lebih luas, AI berpotensi menjadi pengungkit produktivitas dan kesejahteraan rakyat. Namun, jika Indonesia hanya mengimpor teknologi tanpa membangun kemampuan sendiri, ketergantungan digital dapat menjadi tantangan serius bagi kemandirian ekonomi nasional.


Jangan sampai rakyat Indonesia hanya menjadi penonton ketika mesin menghasilkan kekayaan, sementara akses terhadap kekayaan itu tetap berada di tangan segelintir pihak. Teknologi boleh bergerak semakin cepat, tetapi keadilan ekonomi tidak boleh tertinggal.


Kini pertanyaannya bukan sekadar apakah Indonesia siap menghadapi AI, melainkan apakah pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan masyarakat bersedia mengambil langkah nyata sebelum perubahan itu semakin sulit dikejar.


Sebab, masa depan tidak cukup ditunggu. Masa depan harus dipersiapkan melalui pengetahuan, inovasi, kebijakan yang berpihak pada kepentingan publik, serta kesempatan yang lebih merata bagi masyarakat untuk ikut memiliki dan mengembangkan ekonomi digital.


MDS | CELEBES POST — Pewarta Penyambung Lidah Rakyat.

×
Berita Terbaru Update