Notification

×

Iklan

Gemini-Generated-Image-ga8bifga8bifga8b

Iklan

Gemini-Generated-Image-o40kr0o40kr0o40k

Indeks Berita

Tag Terpopuler

AKSI HEROIK BOCAH 13 TAHUN DI TENGAH KEBAKARAN ASRAMA TNI AD MATTOANGING, DANPOMDAM HASANUDDIN BERI APRESIASI

Jumat, 04 September 2026 | September 04, 2026 WIB Last Updated 2026-09-04T14:39:06Z
Dokumentasi Kontributor Celebes Post 


CELEBES POST | MAKASSAR — Musibah kebakaran yang melanda kawasan Asrama TNI AD Mattoanging, Kota Makassar, pada Selasa, 1 September 2026, menyisakan duka bagi warga. Kebakaran tersebut dilaporkan menghanguskan 19 rumah, meninggalkan puing-puing serta kerugian material bagi masyarakat yang terdampak.


Namun, di tengah kepanikan dan kepungan api, terselip sebuah kisah kemanusiaan yang menarik perhatian.


Seorang anak berusia 13 tahun bernama Rahmat, disebut turut membantu personel TNI, Polri dan petugas pemadam kebakaran saat berjibaku mengendalikan kobaran api.


Di saat petugas berupaya memadamkan api, Rahmat justru mengambil peran sederhana tetapi berarti. Ia turun ke dalam got yang berisi air untuk mengambil air menggunakan ember.


Air tersebut kemudian dimanfaatkan oleh personel TNI dan Polri untuk menyiram sejumlah titik api yang masih menyala.


Rahmat tetap bertahan di dalam got dan membantu mengambilkan air ketika petugas membutuhkan pasokan air tambahan.


BERANI DI TENGAH KEKACAUAN


Aksi tersebut menjadi perhatian karena dilakukan oleh seorang anak yang masih berusia 13 tahun. Di tengah situasi yang penuh risiko dan kepanikan, Rahmat memilih membantu dengan cara yang menurutnya dapat dilakukan.


Perannya mungkin terlihat sederhana, hanya mengambil air dengan ember. Namun, di tengah perjuangan petugas memadamkan api, bantuan tersebut menjadi bagian dari semangat gotong royong warga dan aparat di lokasi kejadian.


Dokumentasi Kontributor Celebes Post 


Kisah Rahmat sekaligus menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap sesama tidak selalu harus dilakukan melalui tindakan besar.


DANPOMDAM HASANUDDIN BERIKAN APRESIASI


Semangat Rahmat tersebut kemudian mendapat perhatian dari jajaran Pomdam Hasanuddin.


Pada Jumat siang, 4 September 2026, Rahmat diundang untuk berkunjung dan makan bersama di kantor Pomdam Hasanuddin, Jalan Monginsidi No.19A, Maricaya Baru, Kecamatan Makassar, Kota Makassar.


Dalam kesempatan tersebut, Rahmat menerima apresiasi langsung dari Kolonel CPM M. Rokib Jabar, S.H., Danpomdam Hasanuddin, atas keberanian dan kepeduliannya ketika membantu dalam penanganan kebakaran.


Aksi Rahmat menjadi bukti bahwa kepedulian dan keberanian tidak mengenal usia. Di tengah musibah, aksi anak 13 tahun ini mengingatkan kita bahwa gotong royong dan kepedulian sesama adalah kekuatan yang tak ternilai. Layak kita apresiasi,” ujarnya.


Apresiasi tersebut tidak hanya menjadi bentuk penghargaan terhadap keberanian Rahmat, tetapi juga memperlihatkan bahwa kepedulian masyarakat dalam situasi bencana memiliki nilai kemanusiaan yang besar.


DI BALIK AKSI HEROIK, ADA PERSOALAN PENDIDIKAN


Di balik kisah keberanian tersebut, terdapat persoalan lain yang patut menjadi perhatian publik.


Rahmat kini tinggal bersama keluarganya di kawasan Jalan Kakatua, Makassar. Dalam informasi yang diterima redaksi, kedua orang tua Rahmat telah berpisah dan saat ini Rahmat disebut tidak lagi bersekolah.


Fakta tersebut semestinya tidak berhenti pada kisah apresiasi semata.


CELEBES POST memandang keberanian Rahmat di tengah musibah layak diapresiasi, tetapi masa depan dan hak pendidikannya juga perlu mendapatkan perhatian.


Karena itu, pemerintah, khususnya Pemerintah Kota Makassar, diharapkan dapat melihat kondisi Rahmat secara lebih menyeluruh dan membuka ruang bantuan agar anak tersebut dapat kembali memperoleh pendidikan yang layak.


Jangan sampai seorang anak hanya dikenang karena keberaniannya ketika musibah terjadi, tetapi persoalan pendidikan dan masa depannya justru luput dari perhatian.


SOROT CELEBES POST


Musibah kebakaran bukan hanya tentang rumah yang terbakar dan kerugian material. Di dalamnya terdapat cerita tentang solidaritas, keberanian, kepedulian, sekaligus persoalan sosial yang muncul setelah api dipadamkan.


Rahmat telah menunjukkan kepeduliannya di tengah situasi sulit.


Kini pertanyaannya: siapa yang akan memastikan keberanian dan kepedulian anak tersebut mendapat balasan dalam bentuk masa depan yang lebih baik?


Apresiasi penting. Tetapi pendidikan dan masa depan seorang anak jauh lebih penting untuk dikawal bersama.


CELEBES POST | Pewarta Penyambung Lidah Rakyat

×
Berita Terbaru Update