Notification

×

Iklan

Gemini-Generated-Image-ga8bifga8bifga8b

Iklan

Gemini-Generated-Image-o40kr0o40kr0o40k

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Mahasiswa Trisakti Asal Aceh Tegaskan Dukungan untuk Polri: Kamtibmas Bukan Hanya Tugas Polisi

Senin, 07 September 2026 | September 07, 2026 WIB Last Updated 2026-09-07T04:06:46Z
Rifqi Maulana, Koordinator Presidium Persatuan Pemuda Aceh Serantau sekaligus mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Trisakti asal Aceh


CELEBES POST | JAKARTA — Menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) bukan semata-mata tanggung jawab Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Generasi muda, mahasiswa, hingga seluruh elemen masyarakat dinilai memiliki peran penting dalam memastikan stabilitas dan persatuan bangsa tetap terjaga.


Pesan tersebut disampaikan Rifqi Maulana, Koordinator Presidium Persatuan Pemuda Aceh Serantau sekaligus mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Trisakti asal Aceh, dalam Forum Kebangsaan Merah Putih bertajuk “Suara Masyarakat untuk Polri” di Jakarta.


Rifqi secara terbuka menyampaikan dukungannya terhadap Polri. Namun, dukungan tersebut menurutnya tidak boleh dimaknai sebagai alasan untuk menghilangkan sikap kritis masyarakat.


Baginya, hubungan antara Polri dan masyarakat justru harus dibangun melalui komunikasi yang terbuka, partisipatif, dan saling menghormati.


“Menjaga keamanan Indonesia bukan hanya tugas Polri. Mahasiswa punya tanggung jawab, masyarakat punya tanggung jawab, kita semua punya tanggung jawab,” ujar Rifqi.

 

Mahasiswa Jangan Hanya Jadi Penonton


Rifqi menilai mahasiswa sebagai bagian dari generasi muda memiliki posisi strategis dalam kehidupan kebangsaan. Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya menyaksikan berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.


Menurut dia, mahasiswa harus berani menyampaikan gagasan, melakukan kritik, sekaligus menawarkan solusi. Namun, seluruhnya harus dilakukan dengan tetap menjunjung etika, hukum, dan penghormatan terhadap institusi negara.


“Kami ingin menjadi generasi yang menyampaikan pendapat dengan mengedepankan etika serta adab. Berani mengoreksi, tetapi tidak menanam kebencian,” tegasnya.

 

Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa kritik terhadap institusi negara dan dukungan terhadap Polri bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan.


Justru, kata Rifqi, kritik yang disampaikan secara konstruktif dapat menjadi bagian dari kontrol sosial sekaligus kontribusi masyarakat dalam memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara.


Apresiasi untuk Polisi yang Bekerja di Tengah Masyarakat


Di sisi lain, Rifqi memberikan apresiasi kepada jajaran kepolisian yang menurutnya terus bekerja menjaga keamanan dan memberikan rasa aman kepada masyarakat.


Ia menyampaikan penghormatan kepada anggota kepolisian yang menjalankan tugas di lapangan serta mengabdikan diri untuk bangsa dan negara.


“Kami menghargai dan menghormati setiap anggota kepolisian yang bekerja tulus menjaga keamanan, berdiri di tengah masyarakat dan mengabdikan dirinya kepada bangsa ini,” tuturnya.

 

Namun, dukungan masyarakat terhadap Polri, menurut Rifqi, semestinya tidak berhenti pada dukungan verbal. Partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan dan menciptakan situasi yang kondusif juga merupakan bagian penting dari upaya menjaga Kamtibmas.


Dukungan Tidak Berarti Mematikan Kritik


Rifqi berharap komunikasi antara mahasiswa, pemuda, masyarakat dan Polri semakin terbuka. Ia menilai ruang dialog perlu terus diperkuat agar berbagai persoalan kebangsaan dapat diselesaikan melalui komunikasi dan pendekatan yang konstruktif.


Menurutnya, masyarakat dapat mendukung Polri tanpa harus kehilangan keberanian untuk melakukan kritik.


Sikap kritis, kata dia, justru harus diarahkan untuk melahirkan solusi dan memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi negara.


Dengan demikian, dukungan terhadap Polri tidak diposisikan sebagai sikap membenarkan seluruh tindakan institusi, melainkan sebagai bagian dari upaya bersama menjaga keamanan, demokrasi dan persatuan nasional.


Persatuan Jangan Berhenti Menjadi Slogan


Lebih jauh, Rifqi menekankan bahwa persatuan Indonesia harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Perbedaan pandangan, latar belakang maupun kepentingan politik dan sosial tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menebar kebencian.


“Persatuan tidak boleh menjadi cita-cita yang kehilangan pijakan. Kita harus bersama-sama merawat Kamtibmas, menjaga persatuan dan memastikan perbedaan menjadi kekuatan bangsa,” pungkasnya.

 

Sikap Rifqi tersebut sekaligus memperlihatkan posisi generasi muda yang ingin menempatkan diri sebagai mitra kritis sekaligus mitra strategis Polri.


Di satu sisi, mahasiswa tetap memiliki fungsi kontrol sosial untuk menyampaikan kritik ketika menemukan persoalan. Di sisi lain, generasi muda juga dituntut mengambil bagian dalam menjaga ketertiban, persatuan dan kehidupan demokrasi.


Pada akhirnya, menjaga Indonesia bukan pekerjaan satu institusi. Polri memiliki tanggung jawab dalam menjaga keamanan dan ketertiban, sementara masyarakat memiliki peran untuk ikut menciptakan suasana yang kondusif.


Dukungan, kritik dan partisipasi publik semestinya berjalan beriringan—karena demokrasi yang sehat bukan demokrasi tanpa kritik, melainkan demokrasi yang mampu mengubah kritik menjadi energi perbaikan bagi bangsa.



CELEBES POST — Pewarta Penyambung Lidah Rakyat.

×
Berita Terbaru Update