![]() |
| Dokumentasi kontributor Celebes Post |
CELEBES POST | MAKASSAR, SULSEL — Media sosial kembali menjadi pintu masuk sebuah kisah yang berujung dugaan penipuan identitas. Seorang perempuan asal Bogor berinisial DW diduga menjadi korban seorang pria yang mengaku sebagai anggota Kepolisian Republik Indonesia (Polri).
Keduanya disebut berkenalan melalui aplikasi TikTok, sebelum hubungan tersebut berkembang semakin serius hingga berujung pada pernikahan.
Namun, kebahagiaan yang dibangun DW bersama pria tersebut perlahan berubah menjadi kecurigaan. Sejumlah hal yang sebelumnya tidak pernah dipertanyakan mulai memunculkan tanda tanya, terutama terkait identitas dan profesi sang suami yang disebut-sebut mengaku sebagai anggota Polri.
Berawal dari TikTok, Berujung Dugaan Penyamaran Identitas
Berdasarkan informasi yang diperoleh, persoalan mulai mencuat ketika pria tersebut pamit pulang ke Makassar dengan alasan hendak mencairkan pinjaman bank.
Keberangkatan sang suami ke Makassar kemudian menimbulkan kecurigaan di pihak keluarga DW. Ibu DW pun memutuskan untuk menyusul ke Makassar guna memastikan kondisi serta mencari kejelasan mengenai kehidupan pria yang telah menjadi suami anaknya tersebut.
Namun, sesampainya di kediaman sang pria, kecurigaan keluarga justru semakin menguat.
Kondisi ekonomi dan kehidupan sehari-hari pria tersebut disebut dinilai tidak sesuai dengan gambaran yang selama ini ditampilkan sebagai seorang anggota kepolisian.
Ketika persoalan mengenai pekerjaan dan statusnya sebagai anggota Polri dipertanyakan, pria tersebut disebut justru menunjukkan reaksi emosional dan tidak memberikan penjelasan yang dapat menjawab keraguan pihak keluarga.
Situasi itu membuat DW semakin yakin bahwa dirinya kemungkinan telah menjadi korban dugaan penipuan identitas.
DW Tinggalkan Rumah, Sempat Terlantar di Makassar
Merasa tidak lagi aman dan tidak mengetahui harus meminta bantuan kepada siapa, DW akhirnya memilih meninggalkan tempat tersebut.
Perempuan asal Bogor itu berada dalam kondisi terlantar di Makassar, jauh dari keluarga dan tanpa mengetahui langkah yang harus ditempuh untuk dapat kembali ke kampung halamannya.
Dalam situasi tersebut, DW kemudian bertemu dengan seorang warga yang bersedia memberikan pertolongan dan mengantarkannya ke Polsek Panakkukang.
Langkah itu menjadi titik balik bagi DW.
Setelah tiba di kantor polisi dan menceritakan persoalan yang dialaminya, jajaran Polsek Panakkukang memberikan bantuan kemanusiaan agar perempuan tersebut dapat kembali ke Bogor dan berkumpul dengan keluarganya.
Kapolsek Panakkukang dan Personel Turun Tangan
Mendengar langsung kisah yang dialami DW, Kapolsek Panakkukang Kompol Hj. Ema Ratna AR, S.H., bersama personel piket Mako Regu II, mengambil langkah cepat untuk membantu proses kepulangan perempuan tersebut.
Tidak berhenti pada pemberian perlindungan sementara, personel Polsek Panakkukang bahkan disebut melakukan patungan untuk membeli tiket pesawat DW agar dapat kembali ke Bogor.
Aksi tersebut menjadi bentuk kepedulian di tengah kondisi korban yang sedang berada jauh dari keluarga.
Kepulangan DW kemudian dikawal oleh personel Regu II SPKT Polsek Panakkukang hingga menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.
Pengawalan dipimpin Ka SPKT II Aiptu Haryanto, bersama Kepala Jaga Aipda Azhari Asri, serta personel Brigpol Nursalim dan Briptu Reza Rezki.
Dengan pengawalan tersebut, DW akhirnya dapat melanjutkan perjalanan pulang untuk kembali bersama keluarganya di Bogor.
Identitas di Media Sosial Tidak Boleh Ditelan Mentah-Mentah
Peristiwa yang dialami DW menjadi peringatan serius bagi masyarakat mengenai risiko membangun kepercayaan penuh terhadap seseorang yang dikenal melalui media sosial.
TikTok, Instagram, Facebook maupun berbagai platform digital memang dapat mempertemukan banyak orang. Namun, ruang digital juga memungkinkan seseorang menampilkan identitas yang berbeda dari kenyataan.
Foto seragam, atribut tertentu, jabatan, pekerjaan, bahkan gaya hidup di media sosial tidak selalu dapat dijadikan bukti bahwa identitas seseorang benar-benar sesuai dengan yang diklaim.
Terlebih apabila sebuah hubungan berkembang sangat cepat hingga menyangkut persoalan pernikahan, keuangan, pinjaman, maupun penyerahan aset pribadi, proses verifikasi menjadi hal yang sangat penting.
Masyarakat perlu memastikan identitas seseorang melalui sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, terutama ketika orang tersebut mengaku bekerja pada institusi negara atau lembaga resmi.
Kontrol CELEBES POST: Jangan Sampai Cinta Menutup Ruang Verifikasi
Kasus yang dialami DW, apabila dugaan tersebut terbukti melalui proses hukum, bukan sekadar persoalan hubungan rumah tangga yang kandas.
Ada persoalan yang jauh lebih serius: bagaimana identitas seseorang dapat dipercaya begitu jauh hingga sebuah hubungan berujung pada pernikahan, sebelum kebenaran mengenai latar belakangnya benar-benar dipastikan.
Media sosial telah mengubah cara manusia bertemu dan membangun hubungan. Namun, kemudahan berkenalan di dunia digital tidak boleh membuat masyarakat kehilangan kewaspadaan.
Cinta membutuhkan kepercayaan, tetapi kepercayaan tidak boleh menghapus kewajiban untuk melakukan verifikasi.
Apalagi ketika seseorang mengaku sebagai aparat negara, anggota TNI, Polri, ASN, pejabat, pengusaha besar, atau profesi tertentu yang memiliki konsekuensi terhadap tingkat kepercayaan publik.
Pengakuan semata bukan bukti.
Foto bukan selalu identitas.
Seragam bukan selalu jaminan.
Dan penampilan di media sosial belum tentu menggambarkan kehidupan yang sebenarnya.
Kasus ini juga memperlihatkan sisi lain yang patut mendapat perhatian: ketika seseorang berada dalam kondisi terpuruk dan terlantar, kehadiran aparat yang memberikan pertolongan secara manusiawi dapat menjadi penyelamat.
Langkah Kapolsek Panakkukang Kompol Hj. Ema Ratna AR, S.H. bersama personel yang membantu DW hingga patungan membeli tiket dan mengawalnya ke bandara patut menjadi gambaran bahwa pelayanan kepolisian tidak hanya berbicara tentang penindakan hukum.
Di tengah persoalan yang dialami seorang warga dari luar daerah, tindakan cepat dan kepedulian tersebut memberikan rasa aman ketika korban berada dalam situasi yang tidak menentu.
Namun demikian, persoalan utama mengenai dugaan identitas pria yang mengaku sebagai anggota Polri tersebut tetap menjadi hal yang penting untuk mendapatkan kejelasan.
Jika terdapat dugaan tindak pidana, maka pembuktiannya harus dilakukan secara profesional melalui proses hukum. Sebaliknya, semua pihak juga tetap harus menjunjung asas praduga tak bersalah sebelum adanya kepastian hukum.
Masyarakat harus mengambil pelajaran dari peristiwa ini.
Kenali sebelum percaya. Verifikasi sebelum menikah. Pastikan sebelum menyerahkan uang. Dan jangan pernah takut meminta bantuan ketika berada dalam situasi yang mengancam keselamatan.
Karena di era digital, seseorang bisa saja membuat identitas yang terlihat meyakinkan.
Tetapi kebenaran tetap membutuhkan pembuktian.
DDL - CELEBES POST — Pewarta Penyambung Lidah Rakyat.

