![]() |
| Upacara kenaikan pangkat 47 perwira tinggi (Pati) Polri yang dipimpin langsung oleh Listyo Sigit Prabowo di Markas Besar (Mabes) Polri, Kamis (19/3/2026) |
CELEBES POST | Jakarta, – Upacara kenaikan pangkat 47 perwira tinggi (Pati) Polri yang dipimpin langsung oleh Listyo Sigit Prabowo di Markas Besar (Mabes) Polri, Kamis (19/3/2026), berlangsung khidmat. Namun di balik seremoni tersebut, publik kembali dihadapkan pada pertanyaan klasik: apakah kenaikan pangkat ini benar-benar mencerminkan meritokrasi, atau sekadar rotasi elit di tubuh institusi berseragam cokelat itu?
Upacara korps rapor yang digelar di Jakarta Selatan itu menjadi simbol penghargaan atas kinerja. Tetapi dalam konteks kepercayaan publik yang masih fluktuatif terhadap Polri, momentum ini justru menjadi titik uji: apakah promosi jabatan benar-benar berbasis integritas dan rekam jejak, atau hanya formalitas struktural?
Kadiv Humas Polri, Johnny Eddizon Isir, menegaskan bahwa kenaikan pangkat bukan sekadar seremoni.
“Ini adalah amanah besar. Para perwira dituntut meningkatkan profesionalisme, integritas, serta pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.
Namun, pernyataan normatif tersebut tak cukup meredam sorotan publik yang kian kritis terhadap transparansi dan akuntabilitas di tubuh Polri.
![]() |
| Polri yang dipimpin langsung oleh Listyo Sigit Prabowo di Markas Besar (Mabes) Polri, Kamis (19/3/2026) |
![]() |
| Upacara kenaikan pangkat 47 perwira tinggi (Pati) |
Nama Menonjol dan Rotasi Strategis
Satu nama yang mencuat dalam daftar adalah Achmad Kartiko yang resmi menyandang pangkat Komisaris Jenderal (Komjen) atau bintang tiga. Kenaikan ini menempatkannya sebagai salah satu figur strategis dalam penguatan pendidikan dan pembentukan karakter internal Polri.
Selain itu, 14 perwira naik dari Brigadir Jenderal (Brigjen) menjadi Inspektur Jenderal (Irjen). Di antaranya:
Alfred Papare
Totok Suharyanto
Asep Guntur Rahayu
Sementara itu, sebanyak 32 perwira lainnya naik dari Komisaris Besar (Kombes) menjadi Brigjen. Dua di antaranya bahkan menerima kenaikan pangkat luar biasa (KPLB):
Sambas Kurniawan
Medyanta
Sorotan Kritis: Reformasi atau Rutinitas?
Kenaikan pangkat dalam tubuh Polri bukan hal baru. Namun dalam beberapa tahun terakhir, publik semakin menuntut transparansi—terutama di tengah berbagai kasus yang menyeret nama institusi ini, mulai dari pelanggaran etik hingga dugaan penyalahgunaan kewenangan.
Pertanyaannya sederhana namun tajam:
Apakah sistem promosi di Polri sudah benar-benar bersih, objektif, dan berbasis kinerja?
Jika tidak, maka seremoni seperti ini berisiko menjadi sekadar ritual tahunan yang kehilangan makna substantif.
Transformasi Polri menuju konsep Presisi (Prediktif, Responsibilitas, Transparansi Berkeadilan) yang digaungkan Kapolri harus diuji bukan lewat pidato, tetapi lewat tindakan nyata. Kenaikan pangkat seharusnya menjadi cerminan dari rekam jejak yang bersih, bukan sekadar jenjang administratif.
Catatan CELEBES POST: Ujian Kepercayaan Publik
CELEBES POST menilai, kenaikan pangkat ini harus dijadikan momentum evaluasi menyeluruh. Institusi Polri tidak hanya membutuhkan perwira tinggi, tetapi pemimpin yang berani, bersih, dan berpihak pada rakyat.
Di tengah sorotan publik, setiap bintang yang disematkan di pundak perwira tinggi bukan sekadar simbol kehormatan—melainkan utang moral kepada masyarakat.
Jika amanah itu diabaikan, maka yang runtuh bukan hanya citra individu, tetapi kepercayaan terhadap institusi penegak hukum itu sendiri.
(DDL CELEBES POST)



