Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

DARI MIMBAR AKADEMIK KE ATAS ASPAL! "MANIFESTO JALANAN" RESMI DIRILIS, MUH. ZULHAMDI SUHAFID TANTANG PUBLIK MENGUJI ARAH DEMOKRASI INDONESIA

Sabtu, 11 Juli 2026 | Juli 11, 2026 WIB Last Updated 2026-07-11T09:51:37Z
Dokumentasi kontributor Celebes Post 


MAKASSAR, CELEBES POST Di tengah menguatnya perdebatan mengenai kualitas demokrasi, ketimpangan sosial, hingga derasnya arus globalisasi, mantan Presiden Mahasiswa UIN Alauddin Makassar periode 2025, Muh. Zulhamdi Suhafid, memilih tidak berhenti pada mimbar-mimbar diskusi kampus. Ia membawa gagasannya ke ruang publik melalui peluncuran buku Manifesto Jalanan: Globalisasi, Demokrasi, dan Amarah Rakyat, Sabtu (11/7/2026).


Karya tersebut menjadi buku perdana yang ditulis oleh alumnus Hubungan Internasional UIN Alauddin Makassar itu. Lebih dari sekadar kumpulan tulisan, buku ini diposisikan sebagai dokumentasi perjalanan intelektual yang lahir dari pengalaman akademik sekaligus dinamika gerakan sosial yang pernah ia ikuti.


Menurut Zulhamdi, gagasan dalam buku tersebut merupakan refleksi atas berbagai dinamika politik, sosial, dan demokrasi yang berkembang di Indonesia. Salah satu momentum yang banyak memengaruhi proses penulisannya adalah rangkaian demonstrasi yang terjadi pada 29 Agustus 2025 di kawasan Jalan Sultan Alauddin hingga bawah Fly Over Makassar.


Momentum tersebut, menurutnya, menjadi titik balik yang mendorongnya menyusun kembali berbagai esai, opini, serta catatan kritis yang telah dipublikasikan di sejumlah media sejak 2024 menjadi satu kesatuan pemikiran yang utuh.


Membedah Dunia, Menyentuh Jalanan


Dalam buku tersebut, Zulhamdi mengawali pembahasannya dari isu-isu global seperti globalisasi, perkembangan teknologi, Sustainable Development Goals (SDGs), diplomasi internasional, hingga tantangan krisis lingkungan.


Pembahasan kemudian bergerak menuju konteks nasional dengan menyoroti dinamika politik luar negeri Indonesia pada era pemerintahan Prabowo–Gibran. Setelah itu, narasi dipersempit menuju realitas sosial di daerah asalnya, Jeneponto, hingga berbagai titik aksi demonstrasi di Kota Makassar yang menjadi ruang ekspresi gerakan mahasiswa.


Menurutnya, pendekatan tersebut dipilih untuk menunjukkan bahwa perubahan dunia tidak pernah berhenti pada ruang internasional, melainkan selalu bermuara pada kehidupan masyarakat di tingkat lokal.


"Narasi itu kemudian menyempit untuk menganalisis arah politik luar negeri Indonesia di bawah pemerintahan Prabowo–Gibran, lalu bergerak lebih dekat ke tanah kelahiran saya di Jeneponto, sebelum akhirnya 'meledak' di titik-titik krusial gerakan perlawanan di Makassar," ujar Zulhamdi.

 

Globalisasi, Demokrasi, dan Amarah Rakyat dalam Satu Benang Merah


Zulhamdi menilai bahwa istilah globalisasi, demokrasi, maupun keresahan masyarakat tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Baginya, berbagai fenomena tersebut merupakan pengalaman nyata yang dialami generasi muda dalam menghadapi perubahan sosial dan politik.


Ia menyebut buku tersebut lahir dari proses panjang seorang mahasiswa yang mempelajari dinamika internasional di ruang akademik, kemudian menyaksikan langsung berbagai realitas sosial di lapangan.


"Globalisasi bukan sekadar istilah di buku teks, demokrasi bukan prosedur lima tahunan, dan amarah rakyat bukan sekadar headline berita yang lewat. Ketiganya adalah satu rangkaian pengalaman hidup utuh yang saya alami langsung," tegasnya.

 

Bukan Vonis, Tetapi Arsip Perlawanan Intelektual


Zulhamdi menegaskan bahwa Manifesto Jalanan tidak dimaksudkan sebagai kesimpulan mutlak terhadap kondisi bangsa. Sebaliknya, buku itu dipersembahkan sebagai catatan pemikiran yang merekam cara pandang generasi muda terhadap dinamika demokrasi Indonesia.


Ia berharap karya tersebut dapat menjadi ruang dialog yang terbuka bagi kalangan akademisi, mahasiswa, aktivis, hingga masyarakat umum untuk mendiskusikan arah perjalanan demokrasi nasional secara lebih kritis.


Peluncuran buku ini sekaligus menjadi penanda bahwa ruang akademik dan ruang gerakan sosial tidak harus dipertentangkan. Keduanya justru dapat saling melengkapi sebagai instrumen lahirnya gagasan dan kontrol sosial yang konstruktif.


SOROT CELEBES POST


Peluncuran Manifesto Jalanan: Globalisasi, Demokrasi, dan Amarah Rakyat menunjukkan bahwa tradisi menulis masih menjadi salah satu instrumen penting dalam menyampaikan kritik dan refleksi terhadap berbagai persoalan publik. Di tengah derasnya arus informasi digital, kehadiran karya literatur yang lahir dari pengalaman akademik dan aktivitas sosial diharapkan dapat memperkaya ruang diskusi publik mengenai demokrasi, kebijakan, serta masa depan Indonesia.


Buku tersebut kini telah resmi dirilis dan diharapkan menjadi bahan bacaan sekaligus pemantik dialog kritis di lingkungan kampus, komunitas intelektual, organisasi kepemudaan, serta masyarakat luas yang memiliki perhatian terhadap perkembangan demokrasi Indonesia.


Dokumentasi kontributor Celebes Post 


(Redaksi CELEBES POST | Pewarta Penyambung Lidah Rakyat)

×
Berita Terbaru Update