![]() |
| Dokumentasi kontributor Celebes Post |
CELEBES POST | GOWA – Di tengah masih banyaknya kritik yang menyebut mahasiswa hanya aktif dalam ruang diskusi dan teori kampus, Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Keolahragaan (HMPS IKOR) Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Makassar (UNM) justru menunjukkan wajah lain dunia akademik. Mereka turun langsung ke tengah masyarakat, membangun akses jalan, sekaligus menanamkan semangat pendidikan kepada generasi muda di pelosok Kabupaten Gowa.
Selama tiga hari, mulai 3 hingga 5 Juli 2026, HMPS IKOR FIKK UNM sukses melaksanakan program Bakti Sosial di Dusun Matteko, Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa. Program tersebut menjadi implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, yang diwujudkan melalui aksi gotong royong dan edukasi.
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial organisasi kemahasiswaan. Lebih dari itu, bakti sosial tersebut menghadirkan solusi konkret terhadap kebutuhan masyarakat, terutama dalam memperbaiki akses infrastruktur yang selama ini menjadi urat nadi aktivitas warga.
Salah satu kegiatan utama adalah gotong royong memperbaiki jalan bersama masyarakat setempat. HMPS IKOR turut memberikan bantuan material bangunan berupa semen dan pasir yang digunakan dalam proses perbaikan akses jalan tersebut.
Kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat berlangsung penuh semangat. Warga bahu-membahu bersama mahasiswa memperbaiki jalan yang selama ini menjadi jalur utama mobilitas masyarakat. Kehadiran mahasiswa pun mendapat sambutan hangat karena dinilai tidak hanya datang membawa program, tetapi juga membawa kepedulian dan tenaga nyata.
Namun pengabdian itu tidak berhenti pada pembangunan fisik.
HMPS IKOR juga menggelar kegiatan edukasi kepada para siswa sekolah dasar dengan mengangkat pentingnya pendidikan sebagai bekal masa depan. Dalam suasana yang interaktif, mahasiswa memberikan motivasi agar anak-anak terus semangat belajar, berani memiliki cita-cita tinggi, serta memahami bahwa pendidikan merupakan kunci utama untuk mengubah kehidupan.
Pendekatan edukatif tersebut mendapat perhatian positif karena mampu membangun kedekatan emosional antara mahasiswa dan para pelajar. Melalui berbagai metode penyampaian yang komunikatif, mahasiswa berupaya menumbuhkan optimisme bahwa keterbatasan kondisi geografis bukanlah penghalang untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Ketua Umum HMPS IKOR FIKK UNM, Danur, menegaskan bahwa bakti sosial bukan sekadar memenuhi program kerja organisasi, melainkan bentuk tanggung jawab moral mahasiswa sebagai agen perubahan.
"Bakti sosial ini bukan sekadar menjalankan program kerja organisasi, melainkan bentuk nyata pengabdian kami kepada masyarakat. Kami ingin hadir tidak hanya melalui kontribusi dalam pembangunan infrastruktur, tetapi juga dengan menanamkan semangat belajar kepada adik-adik siswa sekolah dasar. Harapan kami, kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan dan semakin mempererat hubungan antara HMPS IKOR dengan masyarakat Desa Matteko," ujarnya.
Mahasiswa Dituntut Hadir Memberi Solusi
Bakti sosial yang dilaksanakan HMPS IKOR menjadi gambaran bahwa organisasi kemahasiswaan memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan masyarakat. Tidak hanya melalui gagasan dan kritik, tetapi juga lewat aksi nyata yang langsung dirasakan manfaatnya.
Di tengah tantangan pembangunan wilayah pedesaan, keterlibatan mahasiswa menjadi energi positif yang mampu memperkuat budaya gotong royong, mempererat hubungan kampus dengan masyarakat, sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial di kalangan generasi muda.
Program ini juga menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari proyek-proyek besar. Perubahan dapat lahir dari langkah sederhana, ketika mahasiswa, masyarakat, dan seluruh elemen mampu bekerja bersama demi kepentingan bersama.
Sorotan CELEBES POST
Bakti sosial seperti yang dilakukan HMPS IKOR FIKK UNM menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat bukan sekadar slogan akademik. Ketika mahasiswa hadir membawa tenaga, gagasan, dan kepedulian, maka kampus benar-benar menjalankan fungsinya sebagai motor perubahan sosial.
Ke depan, kegiatan serupa diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, melainkan menjadi gerakan berkelanjutan yang mampu menjangkau lebih banyak daerah yang masih membutuhkan perhatian, baik dalam pembangunan infrastruktur maupun peningkatan kualitas pendidikan. Dengan demikian, semangat gotong royong yang menjadi identitas bangsa dapat terus hidup melalui aksi nyata generasi muda Indonesia.
(Redaksi CELEBES POST | Pewarta Penyambung Lidah Rakyat)
