Notification

×

Iklan

Iklan

Polisi Diperdagangkan: Dugaan Suap Rp50 Juta Menelanjangi Institusi

Jumat, 05 Desember 2025 | Desember 05, 2025 WIB Last Updated 2025-12-05T01:01:55Z
Ilustrasi Dokumentasi 


CELEBES POST, Makassar — Di Jeneponto, sebuah kasus narkoba yang semula dianggap rutin kini berubah menjadi skandal yang mencengangkan. Skandal ini berawal dari satu bisik-bisik yang tak sengaja lolos dari lingkaran tertutup aparat. Bisik-bisik itu menyebut tentang “Rp50 juta yang hilang di lorong senyap kepolisian.”


Tak ada lampu sorot, tak ada berita resmi, tak ada kehebohan pada awalnya. Namun sesuatu terjadi—sesuatu yang tidak bisa lagi disembunyikan.
Dan ketika kabar itu sampai ke telinga Simpul Pergerakan Mahasiswa dan Pemuda (SPMP), segala sesuatunya meledak.


Babak I — “Pertemuan Gelap”


Dari penelusuran awal SPMP, dugaan suap itu tidak terjadi di ruang penyidikan resmi. Tidak ada tanda tangan, tidak ada catatan.
Justru, menurut mereka, transaksi diduga dilakukan di sebuah tempat yang sengaja dipilih karena tidak menimbulkan perhatian.


“Kami menemukan informasi adanya pertemuan tertutup antara oknum Satnarkoba dan keluarga terduga bandar. Ini bukan pertemuan biasa,” ujar Andi Baso Makawaru, Jenderal Lapangan SPMP.



SPMP menemukan pola komunikasi yang mencurigakan:
• panggilan telepon singkat,
• pertemuan spontan,
• dan sebuah amplop berisi uang tunai Rp50 juta yang mereka yakini sebagai “tiket keselamatan” untuk sang terduga.


Menurut sumber internal yang ditemui Celebes Post, beberapa anggota Polres sendiri mulai bertanya-tanya mengapa kasus tersebut mendadak meredup dan tidak terdengar lagi perkembangannya.


Babak II — “Harga Sebuah Kebebasan”


Rp50 juta.
Itulah angka yang berulang kali disebut dalam penelusuran SPMP.


Uang itu diduga diserahkan sebagai “kompensasi” agar proses hukum dilunakkan. Bukan penghentian total, tetapi dikondisikan sedemikian rupa agar sang terduga bandar sabu lolos dari jerat pasal berat.


“Ini bukan sekadar suap. Ini transaksi yang menggadaikan masa depan anak-anak kita,” tegas Andi Baso.

 


Menurutnya, jaringan narkoba tidak akan pernah mati jika aparat justru ikut menjadi bagian dari lingkaran transaksi gelap tersebut.


Babak III — “Komandan yang Hilang Kendali”


SPMP kemudian menembakkan tudingan lebih keras lagi:
Kasat Narkoba Polres Jeneponto dianggap gagal total mengawasi anggotanya.


Tidak tanggung-tanggung, SPMP menuntut pencopotan segera.


“Jika komandan tidak bisa mengontrol anak buahnya, maka ia tidak layak memimpin satuan secanggih Satnarkoba. Kegagalan pengawasan seperti ini membiarkan kejahatan tumbuh subur,” ujar Andi Baso.

 


SPMP menilai kasus ini bukan kecacatan individu, melainkan tanda bahwa ada retakan besar dalam sistem pengawasan internal.


Babak IV — “Jalan Menuju Mapolda: Gelombang Demo yang Akan Meledak”


Apa yang dimulai sebagai desas-desus kini berubah menjadi gelombang kemarahan.
SPMP mengumumkan akan menggelar aksi besar-besaran di halaman Mapolda Sulsel.


Tidak hanya ratusan, SPMP mengklaim ribuan mahasiswa dari berbagai kampus siap bergabung.


“Kami akan mengepung Polda. Tidak boleh ada lagi permainan uang yang menjadi penghalang keadilan,” ujar Andi Baso dalam nada yang lebih keras dari sebelumnya.


Aksi ini disebut sebagai “aksi peringatan” — dan jika Polda tidak bergerak tegas, aksi lanjutan yang lebih besar lagi akan digelar.


Babak V — “Pertanyaan yang Belum Dijawab”


Hingga berita ini rampung, Polda Sulsel maupun Polres Jeneponto belum memberikan pernyataan resmi.
Tidak ada klarifikasi. Tidak ada bantahan. Tidak ada pembelaan.


Diam.
Dan justru dalam diam itulah publik bertanya:


Apa yang sebenarnya terjadi di Jeneponto?
Mengapa Rp50 juta bisa menguap tanpa jejak?
Siapa yang melindungi siapa?


Celebes Post mendapatkan informasi bahwa Propam mulai melakukan pemantauan internal, namun belum membuka penyelidikan secara formal. Ketegangan ini membuat dinamika di tubuh Polres Jeneponto disebut-sebut mulai “panas”.


Epilog — “Pilihan Kapolda: Menindak atau Membiarkan?”


Di meja Kapolda Sulsel, laporan publik kini menumpuk.
Di jalan, mahasiswa bersiap untuk turun.
Di Jeneponto, teka-teki Rp50 juta masih gelap dan menggantung.


Pertanyaannya kini sederhana namun berat:
Kapolda akan memilih membongkar atau membiarkan?


Sebab dalam perang melawan narkoba, tidak ada musuh yang lebih berbahaya daripada oknum aparat yang bermain di dua kaki.



MDS — CELEBES POST

Banner Utama

coklat-inspirasi-berita-baru-instagram-post-20241022-060924-0000
×
Berita Terbaru Update