Notification

×

Iklan

Iklan

Bone Bergolak! Mahasiswa Kepung Polres dan DPRD: Narkoba Menggila, Wakil Rakyat Menghilang

Jumat, 13 Maret 2026 | Maret 13, 2026 WIB Last Updated 2026-03-13T03:17:30Z

Aksi DEMA IAIN BONE 


CELEBES POST | BONE  — Gelombang kritik dari kalangan mahasiswa kembali menggema di Bone. Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone bersama kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Bone menggelar aksi demonstrasi di sejumlah lembaga pemerintahan sebagai bentuk protes terhadap lemahnya pengawasan publik dan lambannya respons institusi negara terhadap persoalan yang dianggap semakin meresahkan masyarakat.


Aksi mahasiswa tersebut menyasar tiga titik strategis pemerintahan, yakni di Polres Bone, DPRD Kabupaten Bone, serta Kantor Pemerintah Daerah Kabupaten Bone. Demonstrasi ini menjadi simbol tekanan moral mahasiswa terhadap para pemangku kebijakan agar tidak menutup mata terhadap berbagai persoalan krusial di daerah.


Narkoba dan Program MBG Jadi Sorotan Utama


Dalam aksinya, mahasiswa mengangkat dua isu yang dinilai sangat mendesak untuk segera ditangani secara serius. Pertama, maraknya peredaran narkotika yang dinilai semakin mengkhawatirkan di wilayah Bone. Kedua, pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menurut mahasiswa membutuhkan pengawasan ketat agar berjalan transparan dan tepat sasaran.


Presiden Mahasiswa IAIN Bone, Muhammad Farhan, dalam orasinya menyampaikan peringatan keras kepada aparat penegak hukum agar tidak bersikap pasif terhadap persoalan narkoba yang semakin mengakar.


“Kami memberikan ultimatum kepada aparat penegak hukum di Kabupaten Bone agar tidak menutup mata terhadap maraknya peredaran narkotika. Jika persoalan ini tidak ditangani secara serius dan terbuka, maka kami akan terus turun ke jalan untuk memastikan hukum benar-benar hadir melindungi masyarakat,” tegas Farhan di hadapan massa aksi.

 

Menurut Farhan, tingginya jumlah narapidana kasus narkotika di lembaga pemasyarakatan menjadi cerminan nyata betapa seriusnya ancaman narkoba di daerah tersebut. Kondisi itu, kata dia, seharusnya menjadi alarm keras bagi aparat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan pengawasan dan penindakan.


Depan Kantor Kapolres Bone

Depan Kantor Gedung DPRD Bone

Depan Kantor Bupati Bone


DPRD Disorot: Mahasiswa Kecewa Tak Ada Wakil Rakyat yang Menemui


Usai menyampaikan aspirasi di Polres Bone, massa aksi kemudian bergerak menuju gedung DPRD Kabupaten Bone. Namun, kedatangan mahasiswa justru disambut kekecewaan karena tidak satu pun anggota dewan yang hadir sejak awal untuk menerima aspirasi mereka.


Situasi tersebut sempat memicu ketegangan antara mahasiswa dan aparat kepolisian yang berjaga di lokasi. Aksi saling dorong pun tidak terhindarkan ketika massa berusaha mendesak agar aspirasi mereka segera diterima oleh perwakilan lembaga legislatif.


Dalam insiden tersebut, Presiden Mahasiswa IAIN Bone dilaporkan mengalami luka di bagian tangan akibat dorongan yang terjadi di tengah kericuhan.


Farhan menilai ketidakhadiran anggota dewan sejak awal mencerminkan lemahnya respons wakil rakyat terhadap suara masyarakat.


“Sangat disayangkan, dari 45 anggota DPRD Kabupaten Bone yang seharusnya menjadi representasi rakyat, tidak ada yang hadir sejak awal untuk menemui kami. Kami datang membawa aspirasi masyarakat, namun justru harus menunggu lama hingga akhirnya situasi memanas,” ujarnya.


Mahasiswa mengungkapkan bahwa mereka menunggu sekitar dua jam di depan gedung DPRD sebelum akhirnya ketegangan terjadi karena tidak ada kepastian mengenai pihak yang akan menerima aspirasi mereka.


Respons Pemerintah Daerah Dinilai Lambat


Aksi kemudian berlanjut ke Kantor Pemerintah Daerah Kabupaten Bone. Namun, kekecewaan kembali dirasakan mahasiswa karena pejabat yang memiliki kewenangan langsung tidak hadir menemui massa aksi.


Pihak yang akhirnya datang untuk menerima aspirasi adalah perwakilan dari Satgas Percepatan Program Makanan Bergizi Gratis. Namun menurut mahasiswa, kehadiran tersebut terjadi cukup terlambat.


Farhan menilai lambannya respons tersebut mencerminkan kurangnya kepekaan pejabat publik terhadap suara masyarakat, terutama terkait program yang menyangkut kesehatan dan keselamatan pelajar.


“Kami sangat menyayangkan respons yang begitu lambat dari Satgas Percepatan MBG yang baru hadir menjelang sore. Padahal ini menyangkut program yang berkaitan langsung dengan kesehatan dan keselamatan siswa,” katanya.

 

Mahasiswa Tegaskan Akan Terus Mengawal


Di akhir rangkaian aksi, DEMA IAIN Bone bersama PMII Cabang Bone menegaskan komitmennya untuk terus mengawal berbagai persoalan publik di daerah tersebut. Mereka meminta pemerintah daerah, DPRD, serta aparat penegak hukum untuk lebih terbuka terhadap kritik dan aspirasi masyarakat.


Bagi mahasiswa, keterlibatan mereka dalam mengawasi jalannya pemerintahan bukan sekadar aksi demonstrasi, tetapi merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan akademik dalam menjalankan fungsi kontrol sosial terhadap kebijakan publik.


Mahasiswa menilai transparansi, akuntabilitas, dan keberpihakan terhadap kepentingan rakyat harus menjadi prinsip utama dalam setiap kebijakan pemerintah.


CELEBES POST mencatat, aksi ini menjadi pengingat bahwa peran mahasiswa sebagai penjaga nurani publik masih tetap hidup. Ketika masyarakat menuntut keadilan dan transparansi, suara dari kampus sering kali menjadi alarm pertama yang menggugah kesadaran para pemegang kekuasaan.



MF CELEBES POST

Banner Utama

coklat-inspirasi-berita-baru-instagram-post-20241022-060924-0000
×
Berita Terbaru Update