![]() |
| Ilustrasi Celebes Post |
CELEBES POST | MAKASSAR — Polemik dugaan insiden medis yang sempat menjadi perhatian publik terkait kondisi bayi Alzeena Syauqia Agil di RSIA Paramount akhirnya mencapai penyelesaian damai.
Kesepakatan tersebut dicapai melalui proses mediasi yang berlangsung di Polrestabes Makassar pada Senin pagi, dengan dihadiri oleh pihak rumah sakit, keluarga pasien, serta mediator yang memfasilitasi dialog antara kedua belah pihak.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak sepakat mengakhiri polemik melalui perjanjian perdamaian tertulis setelah melalui proses komunikasi terbuka dan musyawarah.
Proses Mediasi Berjalan Kondusif
Mediator yang memimpin pertemuan menjelaskan bahwa dialog antara pihak rumah sakit dan keluarga bayi berlangsung dalam suasana kondusif serta penuh semangat penyelesaian secara kekeluargaan.
“Alhamdulillah, pagi ini kita bertempat di Polrestabes Makassar dan kedua pihak telah sepakat melakukan perjanjian perdamaian secara tertulis. Prosesnya berjalan lancar dan semua pihak sepakat berdamai,” ujar mediator kepada awak media.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh Direktur rumah sakit, Wakil Direktur Pelayanan Medik, jajaran manajemen serta Humas rumah sakit. Dari pihak keluarga hadir langsung orang tua bayi Alzeena Syauqia Agil, yakni Pak Haji Agil ( ayah ALzeena ) & Ibu Nurjannah ( Ibu ALzeena ).
Rumah Sakit Sampaikan Permintaan Maaf
Dalam forum mediasi itu, manajemen RSIA Paramount menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada orang tua bayi atas kejadian yang menimpa anak mereka.
Permohonan maaf tersebut disampaikan oleh Direktur rumah sakit bersama jajaran manajemen, staf medis, hingga pihak pemilik rumah sakit sebagai bentuk empati dan tanggung jawab moral kepada keluarga pasien.
Selain itu, pihak rumah sakit juga menyatakan kesediaannya untuk bertanggung jawab atas kejadian yang terjadi serta memberikan bentuk pertanggungjawaban kepada keluarga korban.
“Direktur rumah sakit, manajemen, staf, serta owner telah menyampaikan permintaan maaf kepada orang tua korban atas kejadian yang menimpa anak mereka,” ungkap salah satu pihak yang mengikuti proses mediasi tersebut.
Kesepakatan Pertanggungjawaban
Sebagai bagian dari kesepakatan damai, pihak rumah sakit memberikan bentuk pertanggungjawaban secara materiil kepada keluarga bayi Alzeena.
Meski nilai yang diberikan tidak sepenuhnya sesuai dengan tuntutan awal yang diajukan pihak keluarga, orang tua bayi memilih untuk menerima dan memaafkan serta menyelesaikan persoalan tersebut secara kekeluargaan.
“Orang tua korban memaafkan walaupun nilai yang diberikan tidak sepenuhnya sesuai dengan permintaan awal. Yang terpenting adalah adanya tanggung jawab dari pihak rumah sakit,” ujar sumber yang hadir dalam pertemuan tersebut.
Kesepakatan tersebut kemudian dituangkan dalam dokumen tertulis dan ditandatangani oleh kedua belah pihak di hadapan mediator di Polrestabes Makassar.
Momentum Evaluasi Pelayanan Kesehatan
Meski konflik telah berakhir melalui kesepakatan damai, berbagai pihak berharap peristiwa ini dapat menjadi momentum evaluasi bagi peningkatan kualitas pelayanan kesehatan.
Mediator dalam kasus ini menegaskan bahwa setiap tindakan medis memang memiliki risiko, namun standar pelayanan, komunikasi dengan keluarga pasien, serta sistem manajemen rumah sakit harus terus diperbaiki.
“Harapannya rumah sakit bisa lebih berbenah lagi dalam manajemen dan pelayanan medis agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” ujarnya.
Sementara itu, keluarga bayi Alzeena juga menyampaikan harapan agar seluruh fasilitas pelayanan kesehatan dapat meningkatkan transparansi serta standar pelayanan kepada pasien.
Dengan tercapainya kesepakatan damai tersebut, kedua pihak sepakat menutup polemik yang sempat berkembang dan berharap kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi peningkatan mutu pelayanan kesehatan di Kota Makassar.
Haerul DL, Adi DS | CELEBES POST

