Notification

×

Iklan

Iklan

Biografi Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi dan Kontribusinya dalam Ilmu Kalam Kontemporer

Sabtu, 03 Januari 2026 | Januari 03, 2026 WIB Last Updated 2026-01-03T12:38:51Z

Memorial Bersama Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi 


CELEBES POST, PONOROGO — Nama Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi bukanlah sosok baru dalam khazanah keilmuan Islam di Indonesia. Akademisi, intelektual Muslim, sekaligus ulama yang menekuni bidang ‘aqidah, filsafat Islam, dan ilmu Kalam ini dikenal sebagai figur yang memainkan peran penting dalam menjaga tradisi intelektual Islam—khususnya melalui Pondok Modern Darussalam Gontor.


Lahir di Ponorogo, Jawa Timur, Amal adalah putra dari KH. Imam Zarkasyi, salah satu pendiri Gontor. Sejak usia muda ia telah ditempa dalam tradisi pesantren, menamatkan pendidikan dasar hingga Kulliyyatul Mu’allimin al-Islamiyyah (KMI) Gontor pada 1969. Perjalanannya di dunia akademik pun berlanjut hingga ke luar negeri.


Ia meraih gelar Sarjana Muda dari Institut Pendidikan Darussalam (kini UNIDA Gontor) pada 1973, kemudian menyelesaikan Sarjana Perbandingan Agama di IAIN Sunan Ampel Surabaya pada 1978. Kehausan intelektual membawanya menimba ilmu Filsafat Islam di Universitas Kairo, Mesir, hingga meraih gelar magister pada 1987. Pendidikan doktoralnya diselesaikan di Universiti Malaya, Kuala Lumpur pada 2006 dengan kajian mendalam tentang konsep tauhid Ibn Taymiyyah dan pengaruhnya di Indonesia.


Guru Besar dan Rektor Pertama UNIDA Gontor


Sebagai akademisi, Amal Fathullah mengabdikan diri di Gontor sejak 1969. Ia pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Ushuluddin, Pembantu Rektor, hingga akhirnya dipercaya menjadi Rektor pertama Universitas Darussalam Gontor (2014–2020). Pada tahun yang sama, ia juga dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Kalam.


Saat dua pimpinan Gontor — KH. Abdullah Syukri Zarkasyi dan KH. Syamsul Hadi Abdan — wafat pada 2020, Badan Wakaf Gontor menunjuknya sebagai Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, amanah besar yang mengakhiri masa baktinya sebagai rektor.


Penjaga Tradisi Ilmu Kalam di Era Modern


Amal Fathullah dikenal sebagai cendekiawan yang konsisten memperjuangkan kemurnian akidah Islam melalui pendekatan ilmu Kalam. Baginya, Kalam adalah benteng keyakinan umat Islam dari berbagai keraguan dan infiltrasi pemikiran yang mereduksi kebenaran agama.


Di tengah perkembangan pemikiran modern yang kerap merelatifkan nilai kebenaran, ia menegaskan bahwa objek utama Ilmu Kalam tetaplah pengukuhan hakikat agama, seperti keberadaan Tuhan, kenabian, hari pembalasan, serta prinsip-prinsip dasar syariah. Ia menawarkan dua metode utama dalam penguatan akidah, yakni:


  • Metode Filsafat, melalui argumentasi rasional dan etika

  • Metode Ilmiah, berbasis penelitian dan observasi empiris


Semua itu menurutnya harus berpijak pada epistemologi Islam, bukan pada relativisme atau skeptisisme Barat.


Penggerak Pendidikan Mu’allimin


Selain berdakwah melalui gagasan, ia juga aktif mendorong model pendidikan mu’allimin—integrasi ilmu agama dan umum—untuk pesantren yang telah memperoleh status mu’adalah. Kini ia menjabat sebagai Ketua Umum Forum Komunikasi Pesantren Mu’adalah, sebagai ruang sinergi antar-pesantren dalam kerangka Undang-Undang Pendidikan Pesantren.


Aktif di Forum Akademik Dunia


Jejak keilmuannya melampaui batas Indonesia. Amal kerap menjadi pembicara di berbagai konferensi internasional di Malaysia, Mesir, Thailand, Bosnia, Maroko, hingga Yaman, membahas filsafat, pendidikan Islam, hingga dialog peradaban.


Karya-Karya Pemikiran


Di antara karya akademiknya yang menjadi rujukan antara lain:

  • Theology Hindu Dharma dan Islam (1996)

  • Manhaj al-Bahth al-Falsafi (1997)

  • ‘Ilmu Kalam (1998)

  • al-Salaf wa al-Salafiyyah fi al-Fikr al-Islami (2002)

  • Nazariyah al-Fana’ ‘inda Abi Yazid al-Bustami (2003)

  • al-Ittijah al-Salafi al-Fikr al-Islami al-Hadith bi Indonesiya (2006)

  • Aqidah al-Tawhid ‘inda al-Falasifah wa al-Mutakallimin wa al-Sufiyah (2009)


Warisan Intelektual


Sebagai pimpinan Gontor, Amal Fathullah Zarkasyi tidak hanya mewarisi tradisi, melainkan memperkuat visi besar pesantren: mencetak ulama-intelektual yang berakhlak, berwawasan luas, dan berkarakter kuat. Keteguhan ilmiahnya menempatkan dirinya sebagai salah satu penjaga marwah keilmuan Islam di Nusantara.



— Celebes Post

Banner Utama

coklat-inspirasi-berita-baru-instagram-post-20241022-060924-0000
×
Berita Terbaru Update