![]() |
| Hidayat Akbar Konsultan Independen – Ekonom Berbasis Emas |
CELEBES POST | MAKASSAR— Kenaikan harga emas sepanjang 2026 hingga proyeksi 2027 bukan sekadar kabar baik bagi investor logam mulia. Lebih dari itu, lonjakan emas adalah alarm senyap—peringatan keras bahwa sistem ekonomi global sedang tidak baik-baik saja.
Dalam sejarah ekonomi, emas selalu berbicara jujur. Ia tidak terpengaruh pidato pejabat, tidak tunduk pada janji politik, dan tidak bisa dimanipulasi dengan retorika. Saat emas naik tajam, sesungguhnya dunia sedang kehilangan kepercayaan.
Emas Naik, Kepercayaan Turun
Kita harus jujur membaca realitas. Ketika bank sentral mencetak uang tanpa batas, inflasi dipoles dengan istilah “terkendali”, dan utang negara menumpuk seperti bom waktu, maka emas merespons dengan caranya sendiri: naik dan terus naik.
Kenaikan emas 2026–2027 adalah refleksi langsung dari:
melemahnya daya beli mata uang fiat,
ketidakpastian geopolitik global,
serta rapuhnya sistem keuangan berbasis utang.
Ini bukan spekulasi, ini mekanisme pasar yang alami.
Bank Sentral Menimbun Emas, Rakyat Baru Sadar
Ironisnya, saat bank-bank sentral dunia diam-diam menambah cadangan emas, masyarakat justru masih sibuk mengejar instrumen investasi berisiko tinggi yang dipoles iming-iming cuan cepat.
Padahal pesan pasar jelas:
yang paham ekonomi menyimpan emas, yang terlambat baru bertanya saat harga sudah tinggi.
Emas bukan alat memperkaya diri secara instan. Ia adalah alat bertahan hidup ekonomi.
Indonesia: Antara Peluang dan Kelalaian
Bagi Indonesia, kenaikan emas seharusnya menjadi momentum emas—bukan hanya secara harga, tetapi secara kebijakan. Negara kaya sumber daya ini semestinya menjadikan emas sebagai bagian serius dari strategi ketahanan ekonomi nasional.
Namun jika emas hanya dipandang sebagai komoditas dagang, bukan instrumen perlindungan nilai, maka kita sedang mengulang kesalahan lama: menjadi penonton di negeri sendiri.
2027: Saat Ujian Sebenarnya Datang
Jika tren global tidak berubah, maka 2027 bukan hanya tentang harga emas yang lebih tinggi, tetapi tentang ujian besar bagi sistem ekonomi dunia. Mereka yang memahami emas akan bertahan. Mereka yang bergantung penuh pada uang kertas akan merasakan tekanan paling besar.
Dalam ekonomi, tidak ada kebetulan.
Emas naik karena dunia sedang kehilangan pegangan.
Penutup: Emas Adalah Kejujuran
Sebagai ekonom berbasis emas, saya percaya satu hal:
emas tidak pernah berbohong.
Ia hanya mencerminkan kenyataan yang sering ingin disembunyikan: bahwa stabilitas yang kita yakini selama ini, ternyata rapuh. Maka ketika emas terus naik di 2026–2027, pertanyaannya bukan lagi berapa harganya, melainkan: apakah kita sudah siap?
Oleh: Hidayat Akbar Konsultan Independen – Ekonom Berbasis Emas

