![]() |
| Dokumentasi: (https://www.instagram.com/reel/DWBTiofEWw4/?igsh=dDFlNnNydW1kNXlp) |
CELEBES POST | Jakarta, — Publik kembali diguncang oleh praktik kekerasan terhadap aktivis sipil. Kali ini, kasus penyiraman air keras yang menimpa aktivis KontraS, Andrie Yunus, menyeret nama institusi militer.
Pusat Polisi Militer TNI (Puspom TNI) secara resmi telah menangkap empat oknum anggota Detasemen Markas (Denma) dari Badan Intelijen Strategis TNI (BAIS TNI). Penangkapan ini menjadi titik terang awal dalam kasus yang memantik kecaman luas dari berbagai kalangan.
Identitas Pelaku: Perwira hingga Bintara
Keterangan resmi disampaikan oleh Yusri Nuryanto di Mabes TNI, Jakarta, Rabu (18/3/2026). Ia menegaskan bahwa keempat terduga pelaku bukan berasal dari satuan tempur, melainkan dari lingkup internal Denma BAIS TNI.
Empat oknum tersebut masing-masing berinisial:
Kapten NDB
Lettu SL
Lettu BHW
Serda ES
“Tiga di antaranya merupakan perwira pertama dengan pangkat tertinggi Kapten,” ungkap Yusri.
Fakta bahwa pelaku berasal dari unsur intelijen strategis menimbulkan pertanyaan serius: apakah tindakan ini murni kriminal individu atau memiliki keterkaitan lebih luas?
Sumber Dokumentasi: https://www.instagram.com/reel/DWBTiofEWw4/?igsh=dDFlNnNydW1kNXlp
Ditahan dan Diperiksa Intensif
Saat ini, seluruh tersangka telah diamankan di fasilitas Polisi Militer TNI untuk menjalani pemeriksaan intensif.
Tim penyidik tengah mendalami:
Peran masing-masing pelaku
Motif di balik aksi penyiraman air keras
Kemungkinan adanya aktor lain di balik peristiwa ini
Belum ada keterangan resmi mengenai apakah tindakan tersebut dilakukan atas perintah atau inisiatif pribadi.
Teror terhadap Aktivis: Alarm Bahaya Demokrasi
Kasus ini tidak berdiri sendiri. Serangan terhadap aktivis, khususnya yang bergerak di bidang hak asasi manusia seperti KontraS, kerap menjadi indikator memburuknya ruang demokrasi.
Penyiraman air keras bukan sekadar tindak kriminal biasa. Ini adalah bentuk:
Intimidasi brutal
Upaya membungkam kritik
Serangan langsung terhadap kebebasan sipil
Jika benar melibatkan aparat negara, maka dampaknya jauh lebih serius: krisis kepercayaan publik terhadap institusi negara.
Desakan Transparansi dan Penegakan Hukum
Publik kini menuntut agar Tentara Nasional Indonesia membuka kasus ini secara transparan dan akuntabel.
Penanganan perkara ini akan menjadi ujian penting bagi komitmen reformasi di tubuh militer, sekaligus tolok ukur keberpihakan negara terhadap perlindungan aktivis dan kebebasan sipil.
Catatan CELEBES POST
Kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus adalah pengingat keras bahwa ancaman terhadap pejuang keadilan masih nyata.
Jika aparat yang seharusnya melindungi justru diduga menjadi pelaku, maka yang dipertaruhkan bukan hanya hukum—tetapi juga masa depan demokrasi itu sendiri.
CELEBES POST akan terus mengawal perkembangan kasus ini hingga tuntas.
Sumber: https://www.instagram.com/reel/DWBTiofEWw4/?igsh=dDFlNnNydW1kNXlp

