![]() |
| Dokumentasi Ilustrasi Celebes Post |
CELEBES POST | MAKASSAR, – Amarah dan frustrasi para purna bhakti Perum DAMRI meledak ke permukaan. Gaji yang tertunggak sejak 2022, PHK sepihak, dan perlakuan manajemen yang dianggap semena-mena kini menjadi sorotan publik. Puluhan tahun pengabdian para pekerja tampaknya dihargai dengan janji kosong dan ancaman keamanan kerja.
Salah seorang purna bhakti, berinisial An, menuturkan betapa lelahnya mereka menagih hak yang seharusnya sudah diterima.
“Di sini kita cuma menuntut gaji kita yang tertinggal! Selalu dijanji-janjikan! Kalau masalah pesangon katanya pusat yang bayar, tapi gaji yang tertinggal itu yang kita cari! Banyak teman-teman sudah satu tahun pensiun tapi masih belum dibayar, termasuk saya!” teriak An, nada suaranya penuh amarah dan kecewa.
An menegaskan, ini bukan sekadar soal uang, tapi penghargaan terhadap puluhan tahun pengabdian mereka.
“Capek ki mengemis minta, padahal ini hak kita! Gaji kita! Dari 2022 begini terus sampai sekarang, sampai kita pensiun, tetap dijanji-janji!” tambahnya dengan nada getir.
PHK Sepihak yang Memicu Kemarahan
Kemarahan semakin memuncak saat An menyinggung kasus PHK sepihak yang ia saksikan sendiri, menimpa seorang pekerja akibat video terkait keselamatan kendaraan.
“Saya melihat langsung korban PHK sepihak dari JM-nya DAMRI Makassar! Sudah dari Morowali baru di-PHK sepihak gara-gara video itu!” tegasnya, mata berapi-api.
Video yang dimaksud memperlihatkan kondisi ban bus yang sudah gundul, bahkan terlihat kawatnya, membahayakan penumpang. An menyebarkan video itu sebagai peringatan kepada manajemen agar tidak mengabaikan keselamatan.
“Video itu saya sebarkan supaya lain kali jangan seenaknya mengganti ban yang sudah gundul! Ini demi keselamatan penumpang, karena saya driver DAMRI Makassar!” katanya, penuh emosi.
Kecelakaan Majene: Alarm Keras untuk Manajemen
Belum selesai, isu keselamatan kembali mengemuka setelah insiden kecelakaan bus Perum DAMRI di Majene, menjelang arus pra-mudik. Para pekerja menilai manajemen lalai dalam menjaga standar keselamatan armada.
“Ini alarm keras! Keselamatan penumpang jangan dipermainkan. Jangan sampai kejadian ini terulang,” ujar seorang driver.
Harapan yang Terkubur Janji
An dan rekan-rekannya masih menunggu kepastian gaji, meski manajemen selalu memberi janji kosong. Setiap SMS banking dicek dengan harap-harap cemas.
“Periksa-periksa, siapa tahu sudah ada SMS banking,” tulisnya dalam percakapan.
Namun kabar dari bank pun masih simpang siur, belum ada kepastian seluruh tunggakan dibayarkan.
SKARDA Bertemu Direksi DAMRI
Dewan Pimpinan Pusat Serikat Karyawan DAMRI (SKARDA) akhirnya menggelar pertemuan dengan direksi Perum DAMRI pada 11 Maret 2026, menyoroti gaji tertunggak, kompensasi pekerja aktif, evaluasi cabang, hak normatif purna tugas, kenaikan upah, dan pengangkatan PKWTT.
Beberapa poin kunci:
Tunggakan gaji dijanjikan akan dibayarkan, mekanisme dikonfirmasi langsung ke cabang dengan pengawasan SKARDA.
Kompensasi pekerja aktif dibayarkan melalui cabang masing-masing.
Evaluasi kinerja cabang melibatkan SKARDA untuk menilai pejabat yang tidak kompeten.
Hak normatif purna tugas naik dari Rp1 miliar menjadi minimal Rp1,5 miliar per bulan, prioritas bagi yang sakit parah atau meninggal dunia.
Kenaikan upah dan pengangkatan PKWTT akan direalisasikan, dengan prioritas anggota SKARDA.
Meski ada janji, para pekerja masih menuntut bukti nyata, bukan sekadar surat atau kata-kata.
Kritik Pedas Terhadap Manajemen
Ketidakpuasan pekerja semakin meluas saat aksi protes mereka hanya dihadapi pegawai baru yang dianggap belum berpengalaman.
“Anak baru kemarin masuk DAMRI disuruh hadapi pendemo. Ngomongnya saja tidak meyakinkan,” keluh seorang pekerja.
Hal ini menunjukkan manajemen dianggap tidak serius menanggapi tuntutan purna bhakti yang telah berkorban puluhan tahun untuk perusahaan.
Menunggu Keadilan
Bagi para purna bhakti, masalah ini bukan soal uang semata, tapi soal penghargaan terhadap pengabdian dan keadilan. Mereka menuntut hak mereka tanpa kompromi.
“Ini bukan minta-minta! Ini hak kami!” tegas seorang purna bhakti, suara penuh amarah dan kecewa.
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen Perum DAMRI belum memberikan kepastian kapan seluruh tunggakan gaji dan hak pekerja akan direalisasikan.
Redaksi CELEBES POST

