![]() |
| Dokumentasi Kontributor Celebes Post |
CELEBES POST | BIMA, NTB — Gelombang perlawanan mahasiswa mengguncang institusi keuangan milik negara, PT Pegadaian. Aksi demonstrasi serentak di empat titik berbeda menjadi bukti bahwa amarah publik tak lagi terbendung. Mahasiswa dari berbagai organisasi kepemudaan (OKP) turun ke jalan, menuntut pengembalian emas nasabah seberat 478 gram yang diduga bermasalah.
Aksi ini bukan sekadar unjuk rasa biasa—ini adalah ledakan kekecewaan yang terakumulasi. Di tingkat lokal hingga pusat, suara mahasiswa menggema, menuding adanya dugaan praktik gadai ilegal yang mencederai kepercayaan masyarakat.
Empat Titik, Satu Tuntutan: Keadilan
Di Kecamatan Ambalawi, massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Peduli Ambalawi menggelar aksi di Kantor UPC Pegadaian. Dipimpin Korlap Deden, demonstrasi sempat memanas dengan aksi pembakaran ban di depan kantor sebagai simbol perlawanan atas dugaan ketidakadilan.
Sementara itu, di Kantor Cabang Pegadaian Bima, massa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Bima yang dikomandoi Hariman juga menyuarakan tuntutan serupa.
Di level provinsi, aksi digelar di Kantor Wilayah Pegadaian NTB oleh Aliansi Mahasiswa Mataram di bawah komando Arif Albimawi. Bahkan di ibu kota negara, Jakarta, Persatuan Mahasiswa Bima turut mengepung Kantor Direktur Utama PT Pegadaian, dipimpin Kasnoval.
![]() |
| Dokumentasi Kontributor Celebes Post |
![]() |
| Dokumentasi Kontributor Celebes Post |
![]() |
| Dokumentasi Kontributor Celebes Post |
![]() |
| Dokumentasi Kontributor Celebes Post |
![]() |
| Dokumentasi Kontributor Celebes Post |
![]() |
| Dokumentasi Kontributor Celebes Post |
![]() |
| Dokumentasi Kontributor Celebes Post |
Empat titik. Satu suara: Kembalikan emas nasabah!
Tuduhan Serius: Gadai Ilegal hingga Desakan Audit
Dalam orasinya, massa aksi secara tegas menuding adanya praktik gadai ilegal di wilayah Bima. Mereka mendesak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk turun tangan melakukan audit menyeluruh dan komprehensif terhadap operasional Pegadaian.
Tak berhenti di situ, tuntutan juga mengarah pada pencopotan Kepala UPC Pegadaian Ambalawi dan Kepala Cabang Pegadaian Bima. Massa bahkan mendesak Kepolisian Negara Republik Indonesia, khususnya Polres Bima Kota, agar segera memproses kasus ini secara hukum.
“Jika tuntutan kami tidak diindahkan, maka kami akan melakukan penyegelan total terhadap UPC Pegadaian Ambalawi!” teriak salah satu orator, disambut riuh massa.
Respons Pegadaian: Tunggu Proses, Audit Internal Berjalan
Di tengah tekanan publik yang semakin kuat, Kepala Pegadaian Cabang Bima yang baru, Taufik, akhirnya angkat suara. Ia mengaku baru bertugas dan belum sepenuhnya memahami kronologi persoalan.
“Saya baru hari ini menginjakkan kaki di sini. Persoalan ini sudah ditangani bagian humas dan hukum. Kita tunggu proses yang berjalan, baik di kepolisian maupun di pengadilan,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa saat ini tengah berlangsung audit internal terhadap pegawai di Ambalawi.
“Semua pegawai bekerja berdasarkan SOP. Jika ada pelanggaran, tentu akan ada tindakan sesuai aturan. Kita tunggu hasil audit,” tambahnya.
Aksi Belum Usai: DPRD Jadi Target Berikutnya
Meski aksi hari itu berakhir tertib, bukan berarti perjuangan usai. Mahasiswa memastikan akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas. Bahkan, mereka berencana membawa persoalan ini ke DPRD untuk membuka ruang penyelesaian yang lebih luas dan transparan.
Gelombang demonstrasi ini menjadi alarm keras: kepercayaan publik terhadap lembaga keuangan tidak bisa dipermainkan. Ketika hak nasabah diduga diabaikan, jalanan menjadi ruang pengadilan pertama—dan mahasiswa, hakim yang tak bisa dibungkam.
(CP)







