Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Di Balik Senjata dan Seragam: Ketika TNI AU Diuji Bukan oleh Perang, Tapi Kecerdasan Bernegosiasi

Jumat, 24 April 2026 | April 24, 2026 WIB Last Updated 2026-04-24T09:30:39Z

Dokumentasi Kontributor Celebes Post 

CELEBES POST | JAKARTA — Di tengah derasnya arus disrupsi hukum dan kompleksitas konflik global, langkah strategis Markas Besar TNI AU mengundang tokoh advokat nasional menjadi pembicara utama patut menjadi sorotan tajam. Bukan sekadar agenda seremonial, melainkan sinyal kuat bahwa kekuatan militer tak lagi cukup hanya bertumpu pada senjata, tetapi juga pada kecerdasan komunikasi dan kedalaman berpikir.


Sosok yang dimaksud adalah Dr. Tahir Musa Luthfi Yazid, Ketua Umum Dewan Pergerakan Advokat Republik Indonesia, yang hadir memenuhi undangan untuk memberikan materi peningkatan kapasitas perwira TNI AU, Kamis (23/04/2026). Kegiatan ini digelar secara hybrid dan diikuti ratusan perwira dari Sabang hingga Merauke—menandakan skala dan urgensi yang tidak main-main.


Sorotan: Militer Harus Cerdas, Bukan Sekadar Kuat


Dalam paparannya, Luthfi tak sekadar berbicara teori. Ia membedah realitas lapangan: konflik modern bukan lagi soal siapa paling kuat, tetapi siapa paling cakap membaca situasi, mengelola komunikasi, dan memenangkan negosiasi.


Ia menekankan bahwa kemampuan komunikasi adalah senjata strategis.
“Semakin baik komunikasi, semakin besar peluang memengaruhi,” tegasnya—sebuah pesan yang menyentil langsung paradigma lama yang masih mengagungkan pendekatan koersif.


Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa para perwira adalah “the man behind the gun”—aktor kunci di balik setiap keputusan militer. Artinya, kesalahan membaca situasi atau bias dalam pengambilan keputusan bisa berdampak luas, bahkan fatal.


Konflik Nilai: Bom Waktu yang Tak Terlihat


Yang paling tajam dari pemaparan Luthfi adalah peringatannya soal konflik nilai. Ia mengutip pemikiran Christopher W. Moore, pakar resolusi konflik internasional, bahwa konflik nilai adalah yang paling sulit diselesaikan.


Konflik ini tidak sekadar soal kepentingan atau struktur, tetapi menyentuh akar keyakinan—agama, budaya, hingga ideologi. Dalam konteks Indonesia yang plural, pesan ini menjadi sangat relevan dan bahkan krusial.


Ia juga mengingatkan bahaya informasi yang tidak akurat sebagai pemicu konflik laten. Dalam era digital, kesalahan persepsi bisa menyulut ketegangan lebih cepat daripada peluru.


Belajar dari Jenderal Intelektual


Untuk menjawab tantangan tersebut, Luthfi mendorong para perwira meneladani figur-figur militer intelektual seperti Jenderal Soedirman, A.H. Nasution, T.B. Simatupang, hingga Try Sutrisno.


Menurutnya, kekuatan militer Indonesia di masa depan harus berpijak pada keseimbangan antara kekuatan fisik dan kejernihan intelektual.


Era “Rule of Algorithm”: Ancaman atau Peluang?


Dalam bagian penutup yang cukup menggugah, Luthfi menyinggung fenomena “The Rule of Algorithm”—era di mana keputusan dan opini publik semakin dipengaruhi oleh teknologi dan data.


Ia mengingatkan, jika aparat negara—termasuk militer—tidak adaptif, maka mereka akan tertinggal dalam pusaran perubahan global yang sangat cepat.


“Jangan sampai stagnan. Perwira harus hadir sebagai penjaga keadilan sosial, bukan sekadar pelaksana perintah,” ujarnya.


CELEBES POST MENILAI


Langkah TNI AU menggandeng kalangan advokat dan pakar resolusi konflik merupakan langkah progresif yang patut diapresiasi. Namun, pertanyaan mendasarnya: apakah materi ini akan berhenti sebagai wacana di ruang seminar, atau benar-benar diterjemahkan dalam praktik di lapangan?


Di tengah tantangan geopolitik, konflik sosial, hingga derasnya arus informasi, Indonesia membutuhkan perwira yang bukan hanya tegas, tetapi juga bijak, komunikatif, dan berintegritas tinggi.


Jika tidak, maka kekuatan besar yang dimiliki bisa berubah menjadi bumerang.


CELEBES POST akan terus mengawal—karena di balik setiap senjata, ada keputusan. Dan di balik setiap keputusan, ada masa depan bangsa.

×
Berita Terbaru Update