![]() |
| Dokumentasi Kontributor Celebes Post |
CELEBES POST | MAKASSAR, — Langkah strategis Presiden Prabowo Subianto dalam mengamankan pasokan energi nasional menuai apresiasi luas. Pendiri sekaligus Direktur Eksekutif Green Diplomacy Network (GDN), Muh. Zulhamdi Suhafid, menyebut kebijakan tersebut sebagai terobosan besar yang mampu menjadi tameng Indonesia di tengah badai geopolitik global.
Apresiasi ini muncul setelah Utusan Khusus Presiden bidang Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, mengungkap keberhasilan Indonesia mengantongi komitmen pasokan 150 juta barel minyak mentah dari Rusia dengan harga khusus. Kesepakatan itu merupakan hasil diplomasi intens selama tiga jam antara Presiden Prabowo dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, di Moskow pada 13 April 2026.
Menurut Zulhamdi, langkah tersebut bukan sekadar transaksi energi biasa, melainkan strategi besar menjaga stabilitas nasional.
“Apa yang dilakukan Presiden Prabowo bukan sekadar dagang minyak. Ini adalah Diplomasi Ketahanan—strategi cerdas di tengah ancaman lonjakan harga energi global. Komitmen 150 juta barel ini adalah tameng bagi ekonomi Indonesia,” tegasnya.
Ketahanan Energi Jadi Benteng Ekonomi
Di tengah konflik global yang memicu ketidakpastian harga minyak dunia, langkah ini dinilai sebagai buffer nasional yang akan menjaga kestabilan pasokan dan harga energi dalam negeri.
Zulhamdi menekankan, keberadaan cadangan minyak tersebut memberi ruang strategis bagi Indonesia untuk tetap tumbuh tanpa terguncang gejolak eksternal.
“Saat dunia dilanda volatilitas energi, Indonesia justru menyiapkan bantalan. Ini langkah preventif yang sangat visioner,” ujarnya.
Fondasi Menuju Energi Hijau
Lebih jauh, GDN melihat bahwa penguatan energi fosil saat ini bukan kontradiksi, melainkan bagian dari strategi transisi menuju ekonomi hijau.
Menurut Zulhamdi, stabilitas energi konvensional justru menjadi fondasi penting dalam mendorong transformasi ke energi bersih.
“Menuju green economy tidak bisa instan. Kita butuh stabilitas. Dengan cadangan ini, Indonesia punya ruang napas untuk bertransisi tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.
Sinergi Pemerintah Jadi Kunci
GDN juga menyoroti peran Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang memastikan tindak lanjut teknis, termasuk jaminan pasokan energi turunan seperti LPG.
Sinergi antara kepemimpinan Presiden dan eksekusi kementerian disebut sebagai faktor utama keberhasilan Indonesia dalam memperkuat posisi tawar di kancah global.
“Indonesia kini bukan sekadar penonton, tapi pemain aktif dalam geopolitik energi dunia,” tambah Zulhamdi.
Harapan untuk Rakyat
GDN berharap momentum ini terus dikawal agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat, khususnya dalam menjaga ketersediaan dan keterjangkauan energi.
Langkah diplomasi ini sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia tengah membangun kedaulatan energi nasional—sebuah fondasi penting menuju masa depan ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan.
MZ - CELEBES POST | Pewarta Penyambung Lidah Rakyat)
