Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

DIBERONDONG ISU TAK BERKONTRIBUSI, FAKTA TERUNGKAP! Aktivis AP3BMR Bongkar Peran Nyata Cherish Mokoagow dalam Perjuangan Pemekaran PBMR

Minggu, 07 Juni 2026 | Juni 07, 2026 WIB Last Updated 2026-06-06T17:37:55Z

 

Dokumentasi kontributor Celebes Post 

JAKARTA, CELEBES POST – Di tengah menguatnya gelombang perjuangan pembentukan Provinsi Bolaang Mongondow Raya (PBMR), muncul polemik yang memantik perhatian publik. Nama Senator muda asal Sulawesi Utara, Cherish Harriette Mokoagow, menjadi sasaran tudingan di media sosial setelah beredar narasi yang menyebut dirinya tidak memiliki kontribusi dalam perjuangan pemekaran daerah yang telah diperjuangkan masyarakat selama bertahun-tahun.


Namun tudingan tersebut kini mendapat bantahan langsung dari salah satu aktivis yang berada di garis depan perjuangan di Jakarta.


Adalah Amin Laiya, pegiat yang tergabung dalam Aliansi Percepatan Pembentukan Provinsi Bolaang Mongondow Raya (AP3BMR), yang angkat bicara untuk meluruskan informasi yang menurutnya tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan.


Menurut Amin, narasi yang berkembang di media sosial berpotensi menyesatkan publik dan mengaburkan fakta-fakta yang sebenarnya terjadi selama perjuangan pemekaran PBMR berlangsung.


"Saya tidak punya kepentingan apa pun. Bahkan saya tidak begitu mengenal beliau secara pribadi dan belum pernah bertemu langsung. Tapi ketika muncul tudingan bahwa beliau tidak pernah berkontribusi, saya merasa perlu menyampaikan fakta yang saya ketahui," ujar Amin kepada awak media.

 

Perjuangan di Jakarta Tak Mudah, Bantuan Datang Saat Dibutuhkan


Amin menggambarkan bagaimana beratnya perjuangan yang harus dijalani para aktivis AP3BMR di Jakarta. Dengan keterbatasan biaya, sejumlah pejuang pemekaran bahkan harus menggunakan dana pribadi untuk membiayai perjalanan dan kebutuhan selama mengawal aspirasi masyarakat Bolaang Mongondow Raya di ibu kota.


Di tengah kondisi tersebut, kata Amin, bantuan dari Cherish Harriette Mokoagow hadir dan dirasakan langsung manfaatnya oleh para pejuang pemekaran.


Menurut pengakuannya, melalui orang kepercayaannya, Cherish pernah menjamu para aktivis AP3BMR dalam sebuah pertemuan di kawasan Apartemen Kalibata, Jakarta Selatan.


Tak hanya itu, beberapa hari kemudian bantuan kembali diberikan untuk membantu biaya kepulangan tiga orang aktivis yang sebelumnya berjuang di Jakarta.


"Beliau membantu biaya kepulangan tiga orang teman kami. Dana sebesar Rp10 juta ditransfer langsung kepada penanggung jawab AP3BMR, Parindo Potabuga. Ini fakta yang terjadi dan bisa dipertanggungjawabkan," ungkap Amin.


Ia menegaskan bahwa bantuan tersebut sangat berarti bagi para aktivis yang tengah berjuang dengan segala keterbatasan.


"Saya sendiri tidak termasuk yang menerima bantuan tiket kepulangan itu. Tetapi saya menyaksikan dan mengetahui langsung bahwa bantuan tersebut benar-benar ada dan sangat membantu teman-teman yang sedang berjuang," katanya.


Jangan Hapus Jejak Kontribusi yang Nyata


Bagi Amin, perbedaan pandangan dalam perjuangan adalah hal yang lumrah. Namun ia mengingatkan agar perbedaan tersebut tidak berubah menjadi upaya menghapus atau menafikan kontribusi pihak lain yang telah membantu.


Menurutnya, bantuan yang diberikan Cherish bukanlah kewajiban, melainkan bentuk kepedulian terhadap perjuangan masyarakat Bolaang Mongondow Raya.


"Kalau ada yang mengatakan beliau tidak pernah berkontribusi sama sekali, itu tidak sesuai fakta. Kita harus jujur. Orang yang sudah membantu jangan sampai dihapus kontribusinya hanya karena perbedaan pandangan atau kepentingan tertentu," tegasnya.


Amin bahkan menyebut tudingan yang berkembang tanpa dasar yang jelas berpotensi menjadi fitnah yang merugikan pihak yang telah menunjukkan kepeduliannya terhadap perjuangan daerah.


Momentum Persatuan, Bukan Saling Menjatuhkan


Lebih jauh, Amin mengajak seluruh elemen masyarakat Bolaang Mongondow Raya untuk kembali fokus pada tujuan utama, yakni mewujudkan terbentuknya Provinsi Bolaang Mongondow Raya.


Menurutnya, energi perjuangan seharusnya diarahkan untuk memperkuat solidaritas dan mempercepat proses administrasi serta regulasi yang sedang berjalan di tingkat pemerintah pusat.


Ia menilai polemik yang berujung pada saling serang dan saling menjatuhkan hanya akan menghambat cita-cita besar masyarakat BMR yang telah diperjuangkan selama bertahun-tahun.


"Kita harus bersatu. Jangan habiskan energi untuk berdebat kusir. Yang lebih penting adalah bagaimana perjuangan ini terus bergerak dan mendapatkan dukungan dari semua pihak," ujarnya.


Harapan Besar Menuju Terwujudnya PBMR


Amin juga mengungkapkan optimisme terhadap perkembangan terbaru perjuangan pemekaran daerah. Menurut informasi yang diperolehnya dari jajaran Direktorat Jenderal Otonomi Daerah, proses penyusunan regulasi pendukung pembentukan daerah otonomi baru terus berjalan.


Ia berharap Peraturan Pemerintah (PP) terkait desain penataan daerah dan pembentukan daerah otonomi baru dapat segera dirampungkan sehingga membuka jalan bagi terwujudnya Provinsi Bolaang Mongondow Raya.


"Ini perjuangan bersama. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk mengawalnya hingga tuntas. Mari fokus pada tujuan besar, yaitu menghadirkan kesejahteraan dan kemajuan bagi masyarakat Bolaang Mongondow Raya," pungkas Amin Laiya.


Perdebatan mengenai siapa yang paling berjasa dalam perjuangan pemekaran mungkin akan terus terjadi. Namun di tengah dinamika tersebut, satu hal yang mengemuka adalah pentingnya menempatkan fakta di atas segala kepentingan. Sebab bagi para pejuang PBMR, tujuan akhir yang diperjuangkan bukanlah popularitas individu, melainkan lahirnya sebuah provinsi baru yang diharapkan mampu mempercepat pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Bolaang Mongondow Raya.


Iv _ CELEBES POST 

×
Berita Terbaru Update