Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

GENERASI TERANCAM, DESA BERGERAK: MAHASISWA TURUN GUNUNG LAWAN STUNTING DI BULO WATTANG!

Jumat, 24 April 2026 | April 24, 2026 WIB Last Updated 2026-04-24T09:13:21Z
Dokumentasi Kontributor Celebes Post 


CELEBES POST | Bulo Wattang,  — Ancaman stunting yang kian mengintai masa depan generasi bangsa tak lagi dipandang sebagai isu biasa. Di Desa Bulo Wattang, langkah konkret mulai digerakkan. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata dari UIN Alauddin Makassar (UINAM) Posko 6, bersama KKN Universitas Panca Sakti Posko 1 dan Posko 9, menggandeng Pemerintah Desa setempat dalam sebuah aksi nyata: program pencegahan stunting yang digelar di Kantor Desa Bulo Wattang.


Kegiatan ini bukan sekadar seremonial. Ia hadir sebagai respons atas ancaman laten yang selama ini diam-diam menggerogoti kualitas sumber daya manusia sejak usia dini. Fokus utama diarahkan pada pemantauan tumbuh kembang anak, memastikan setiap fase pertumbuhan berjalan optimal, serta mendeteksi sejak dini potensi gangguan gizi kronis yang dapat berdampak jangka panjang.


Kepala Desa Bulo Wattang, Andi Wawan Indrawan, S.IP., M.IP., hadir langsung dan memberikan penegasan keras dalam sambutannya. Ia menyebut bahwa persoalan stunting bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga tanggung jawab moral setiap orang tua.


Dokumentasi Kontributor Celebes Post 


“Asupan gizi, pola makan, hingga pemeriksaan kesehatan rutin bukan pilihan, tetapi keharusan. Kita tidak boleh membiarkan generasi kita tumbuh dalam kondisi yang tidak ideal,” tegasnya.

 

Mahasiswa KKN tampil sebagai garda terdepan dalam edukasi. Mereka menyampaikan pemahaman sederhana namun krusial kepada masyarakat—mulai dari pentingnya gizi seimbang, pola asuh yang tepat, hingga urgensi pemeriksaan rutin di posyandu. Edukasi ini menjadi titik masuk perubahan pola pikir masyarakat yang selama ini kerap menganggap persoalan gizi sebagai hal sepele.


Di balik kegiatan ini, terselip realitas yang tak bisa diabaikan: masih rendahnya kesadaran sebagian masyarakat terhadap pentingnya pemenuhan nutrisi anak. Kondisi ini menjadi alarm keras bahwa perang melawan stunting belum usai—bahkan masih panjang.


Koordinator Desa (Kordes) KKN UINAM Posko 6, Adhe Syafutra, menegaskan bahwa gerakan ini tidak boleh berhenti sebagai agenda sesaat.


“Edukasi harus terus berjalan. Mahasiswa bukan sekadar datang dan pergi, tapi harus meninggalkan dampak. Kami bagian dari masyarakat, dan punya tanggung jawab untuk ikut membangun desa,” ujarnya dengan penuh tekad.

 

Kolaborasi lintas kampus dan pemerintah desa ini menjadi contoh bahwa sinergi adalah kunci. Namun di sisi lain, kegiatan ini juga menyentil keras: di tengah gencarnya program nasional, masih banyak desa yang membutuhkan sentuhan nyata, bukan sekadar wacana.


Jika tidak ditangani serius, stunting bukan hanya persoalan kesehatan—ia adalah ancaman nyata terhadap masa depan bangsa. Desa Bulo Wattang hari ini memberi pesan kuat: perubahan harus dimulai dari bawah, dari desa, dari kesadaran kolektif.


CELEBES POST menilai, gerakan seperti ini harus menjadi alarm nasional—bahwa melawan stunting bukan pilihan, melainkan keharusan mutlak demi menyelamatkan generasi penerus bangsa.

×
Berita Terbaru Update