Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

TEKAD TAK LAGI DIAM! 200 MAWAR BERBICARA DI JALANAN GOWA — SAPMA PP GUNCANG HARI KARTINI DENGAN SERUAN KERAS: STOP DISKRIMINASI PEREMPUAN!

Rabu, 22 April 2026 | April 22, 2026 WIB Last Updated 2026-04-22T01:20:04Z
SAPMA PP Gowa turun langsung menggelar aksi bertajuk “Stop Diskriminasi Perempuan”, Selasa (21/04/2026)


CELEBES POST | GOWA — Peringatan Hari Kartini tahun ini di Kabupaten Gowa tak sekadar seremoni penuh bunga dan kata-kata manis. Ia menjelma menjadi panggung perlawanan. Suara lantang menggema dari jalanan, menembus hiruk-pikuk lalu lintas, ketika SAPMA PP Gowa turun langsung menggelar aksi bertajuk “Stop Diskriminasi Perempuan”, Selasa (21/04/2026).


Dengan membawa semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini, para kader SAPMA PP Gowa bersama Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Pemuda Pancasila Gowa dan Koti Mahatidana tidak hanya berdiri—mereka bergerak. Sebanyak 200 bunga mawar ditebar kepada pengguna jalan, terutama kaum perempuan, sebagai simbol penghormatan sekaligus peringatan: perjuangan belum selesai.


Namun, di balik kelembutan mawar, tersimpan pesan yang tajam—bahwa ketidakadilan terhadap perempuan masih nyata dan tak bisa lagi ditoleransi.


Aksi Bukan Seremonial, Ini Perlawanan Sosial


Ketua SAPMA PP Gowa menegaskan bahwa kegiatan ini bukanlah seremoni tahunan tanpa makna.


“Kami menegaskan bahwa tidak boleh ada lagi diskriminasi terhadap perempuan dalam bentuk apa pun. Hari Kartini adalah momentum keberanian. Perempuan harus dihormati, dilindungi, dan diberi ruang setara. Ini bukan simbol semata, ini perlawanan,” tegasnya.

 

Pernyataan ini bukan tanpa dasar. Diskriminasi terhadap perempuan masih menghantui berbagai sektor—dari pendidikan, dunia kerja, hingga ruang sosial. Realitas itu yang coba ditampar keras oleh aksi ini.


Turun ke Jalan, Bukan Sekadar Bagi Bunga


Jenderal Lapangan, Nurifka Indriani, tampil dengan nada tegas dan tanpa kompromi. Ia menolak jika aksi ini dianggap sekadar kegiatan simpatik.


“Kami turun ke jalan bukan hanya membagikan bunga. Kami membawa pesan tegas: stop diskriminasi terhadap perempuan. Perempuan harus bebas dari stigma, tekanan, dan ketidakadilan. Mereka berhak atas ruang aman dan kesempatan yang sama,” ujarnya lantang.

 

Di tengah panasnya jalanan, suara itu menggema seperti alarm sosial—mengusik kesadaran publik yang selama ini kerap abai.


Puisi yang Menggetarkan: “Kami Tidak Lagi Diam”


Momentum aksi semakin kuat ketika Nurmianti membacakan puisi penuh emosi berjudul “Kami Tidak Lagi Diam”. Setiap baitnya bukan sekadar kata, tetapi jeritan panjang sejarah perempuan yang selama ini terpinggirkan.


“Kami adalah suara yang lama dipendam,
Yang kini bangkit menembus diam…
Kami tidak lagi diam.”

 

Puisi itu menjadi klimaks emosional—mengikat pesan aksi dalam satu kesadaran kolektif: perempuan bukan objek, bukan pelengkap, melainkan subjek utama dalam pembangunan bangsa.


Kartini Belum Usai: Jalan Panjang Masih Membentang


Aksi ini menegaskan satu hal yang tak terbantahkan: semangat Kartini belum selesai. Ia bukan hanya sejarah, tetapi perjuangan yang masih hidup dan menuntut keberlanjutan.


SAPMA PP Gowa berharap, aksi ini bukan sekadar gaung sesaat, melainkan pemantik gerakan lebih luas dalam melawan diskriminasi yang masih mengakar.


Di tengah derasnya arus modernisasi, pesan itu justru terasa semakin relevan—bahwa kesetaraan bukan hadiah, tetapi hak yang harus diperjuangkan.



STOP DISKRIMINASI PEREMPUAN!
HIDUP PEREMPUAN INDONESIA!



CELEBES POST
Pewarta Penyambung Lidah Rakyat

×
Berita Terbaru Update