Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bukan Sekadar Kalah, Ada Alarm Besar di Balik Tumbangnya PSM — Stadion BJ Habibie Berubah Mencekam

Senin, 18 Mei 2026 | Mei 18, 2026 WIB Last Updated 2026-05-18T08:57:00Z
PSM Takluk Di Kandang sendiri 


JUKU EJA TERSUNGKUR DI KANDANG!


CELEBES POST | MAKASSAR - PSM Makassar kembali dipaksa menelan kenyataan pahit usai dibungkam Persib Bandung dengan skor 1-2 dalam laga penuh tensi di Stadion Gelora BJ Habibie, Minggu malam (17/5/2026).

Namun sorotan publik tidak hanya tertuju pada hasil akhir pertandingan. Kekalahan di kandang sendiri itu justru memantik ledakan emosi suporter hingga berujung ricuh di dalam lapangan.


Sesaat setelah peluit panjang dibunyikan wasit, suasana stadion berubah panas. Flare, smoke bomb, hingga petasan menyala dari tribun penonton. Sejumlah suporter turun ke lapangan dan mengejar pemain tim tamu yang sedang berusaha masuk ke ruang ganti.


Bahkan, dua pemain Persib Bandung dilaporkan sempat terkena tendangan di tengah kepanikan saat meninggalkan lapangan.


Namun di balik kericuhan itu, publik sepak bola Sulawesi Selatan juga mulai mempertanyakan satu hal besar: apa sebenarnya yang membuat PSM Makassar bisa kalah di kandang sendiri?


ANALISIS TEKNIS: PSM KEHILANGAN KONTROL PERMAINAN


Secara teknis, kekalahan PSM dinilai bukan hanya karena faktor keberuntungan lawan. Ada sejumlah kelemahan mendasar yang terlihat sepanjang pertandingan.


1. Lini Tengah PSM Kehilangan Dominasi

Sejak awal laga, permainan lini tengah PSM tampak mudah dipatahkan. Distribusi bola dari sektor tengah tidak berjalan maksimal sehingga alur serangan sering terputus sebelum memasuki area berbahaya.


Pemain-pemain Persib Bandung terlihat lebih disiplin menjaga ruang dan mampu memutus ritme permainan cepat yang biasa diperagakan PSM.


Akibatnya, serangan Juku Eja lebih banyak mengandalkan bola panjang dan crossing yang mudah dibaca lawan.


2. Transisi Bertahan Sangat Lambat


Salah satu titik lemah paling mencolok terlihat saat kehilangan bola. Ketika menyerang gagal, transisi bertahan PSM berjalan lambat sehingga memberikan ruang besar bagi Persib melakukan counter attack cepat.


Celah di sisi sayap beberapa kali dimanfaatkan tim tamu untuk membangun serangan balik berbahaya.


Kondisi ini memperlihatkan koordinasi antar lini yang belum solid, terutama saat menghadapi tekanan dan tempo cepat.


3. Finishing Kurang Efektif


PSM sebenarnya memiliki beberapa peluang penting. Namun penyelesaian akhir dinilai kurang tenang dan terburu-buru.


Beberapa peluang emas gagal dikonversi menjadi gol karena lemahnya akurasi tembakan dan minimnya ketenangan di depan gawang.


Dalam pertandingan besar, kegagalan memanfaatkan peluang sekecil apa pun bisa menjadi hukuman mahal.


4. Mental Permainan Menurun Setelah Tertinggal


Secara psikologis, permainan PSM mulai kehilangan kestabilan setelah tertinggal. Tekanan dari pertandingan kandang dan ekspektasi besar suporter membuat permainan terlihat emosional.


Tempo permainan menjadi tidak rapi. Umpan-umpan pendek mulai sering salah arah dan komunikasi antarpemain tampak menurun.


Sebaliknya, Persib Bandung tampil lebih tenang dan efektif menjaga keunggulan hingga akhir pertandingan.


KERUSUHAN JADI CATATAN BURUK SEPAK BOLA


Insiden masuknya suporter ke lapangan kini menjadi noda besar dalam pertandingan tersebut. Banyak pihak menilai kekecewaan tidak seharusnya dilampiaskan dengan aksi kekerasan terhadap pemain.


Sepak bola seharusnya menjadi ruang sportivitas dan hiburan rakyat, bukan berubah menjadi arena ketakutan.


Kekalahan memang menyakitkan bagi pendukung PSM Makassar, terlebih terjadi di hadapan publik sendiri. Namun evaluasi teknis dan pembenahan mental tim dinilai jauh lebih penting dibanding luapan emosi sesaat yang justru mencoreng nama besar klub kebanggaan Sulawesi Selatan tersebut.


DDL CELEBES POST 

×
Berita Terbaru Update