Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

MIMBAR BEBAS MAY DAY 2026 DI BONE MENGGEMA: MAHASISWA DAN RAKYAT BERSUARA, KEADILAN BURUH DIPERTANYAKAN!

Jumat, 01 Mei 2026 | Mei 01, 2026 WIB Last Updated 2026-05-01T12:32:01Z
Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) IAIN Bone menggelar Mimbar Bebas May Day 2026 yang dirangkaikan dengan aksi solidaritas terhadap korban kekerasan,



CELEBES POST | BONE — Gelombang perlawanan intelektual dan solidaritas kemanusiaan menggema di jantung Kabupaten Bone. Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) IAIN Bone menggelar Mimbar Bebas May Day 2026 yang dirangkaikan dengan aksi solidaritas terhadap korban kekerasan, Jumat (1/5/2026), di kawasan Tugu Jam Kota Bone.


Kegiatan yang dimulai pukul 14.00 WITA hingga menjelang magrib itu berlangsung damai, namun sarat pesan perlawanan terhadap ketimpangan sosial yang masih menghimpit kaum buruh dan aktivis. Lebih dari 100 peserta, terdiri dari mahasiswa dan masyarakat umum, tumpah ruah menyuarakan kegelisahan kolektif.


Aksi ini tidak sekadar seremoni peringatan Hari Buruh Internasional, tetapi menjelma menjadi panggung rakyat. Berbagai penampilan menghidupkan suasana, mulai dari orasi tajam organisasi kemahasiswaan, pembacaan puisi yang menyayat nurani, hingga pertunjukan teater reflektif dari SSB IAIN Bone.


Presiden Mahasiswa IAIN Bone, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa mimbar bebas ini merupakan ruang kritis untuk menguji realitas antara das sollen (yang seharusnya) dan das sein (yang terjadi).


“Kami ingin mempertanyakan, apakah buruh sudah benar-benar sejahtera? Apakah aktivis di Bone bebas dari intimidasi? Realitas di lapangan menunjukkan masih banyak keluhan. Karena itu, ruang seperti ini menjadi penting,” tegas Farhan.

 


Ia menambahkan, gerakan ini bukan sekadar momentum tahunan, melainkan awal dari konsolidasi perjuangan yang berkelanjutan.


“Ini bukan akhir, tetapi awal. Kami akan terus mengawal kebijakan pemerintah, baik di tingkat lokal maupun nasional,” sambungnya dengan nada tegas.

 

Senada dengan itu, Jenderal Lapangan, Muhammad Saipul, menyoroti persoalan klasik yang tak kunjung usai: penunggakan upah dan lemahnya perlindungan hak normatif buruh.


“Kami mendesak Dinas Ketenagakerjaan, Pemda, DPRD, dan perusahaan terkait agar segera menyelesaikan persoalan upah buruh secara adil tanpa penundaan. Ini menyangkut hak hidup,” ujarnya lantang.

 

Tak hanya soal buruh, aksi ini juga menjadi panggung solidaritas bagi aktivis yang mengalami tekanan. Massa secara tegas menuntut jaminan keamanan serta pembentukan tim pencari fakta independen terkait kasus yang menimpa Andri Yunus.


Koordinator Lapangan, A. Reifaldi Jamal, menyebut aksi ini sebagai cermin kondisi sosial yang masih timpang.


“Ini harus menjadi refleksi bersama. Ketimpangan masih nyata, kebijakan belum berpihak. Pertanyaannya, setelah ini esok apa lagi?” ucapnya penuh makna.

 

Menurutnya, isu buruh tidak bisa dipandang sempit. Ia berkaitan erat dengan kebebasan berekspresi, keadilan sosial, hingga perlindungan terhadap aktivis yang kerap menjadi korban intimidasi.


Tuntutan Tegas yang Menggema


Dalam mimbar bebas tersebut, massa menyuarakan sejumlah tuntutan krusial:

  • Mendesak Dinas Ketenagakerjaan Bone mengawasi dan memediasi perusahaan yang menunggak upah

  • Menuntut perusahaan membayar penuh hak buruh tanpa penundaan

  • Mendesak Pemda menjamin perlindungan hak normatif buruh

  • Mendorong DPRD Bone mengawasi dan menindak pelanggaran upah

  • Menuntut pembentukan tim independen untuk mengusut kasus Andri Yunus

  • Mendesak aparat menjamin keamanan aktivis dari intimidasi dan kekerasan

  • Meminta Satpol PP mengedepankan pendekatan humanis dalam pengamanan aksi

  • Menuntut evaluasi menyeluruh agar tindakan represif tidak terulang


Aksi Mimbar Bebas May Day 2026 di Bone menjadi penanda bahwa suara rakyat belum padam. Di tengah derasnya arus ketidakpastian, mahasiswa dan masyarakat memilih berdiri, bersuara, dan melawan—dengan cara yang damai namun menggugah.


CELEBES POST mencatat, gaung dari Tugu Jam Bone hari ini bukan sekadar gema sesaat, melainkan alarm keras bagi pemerintah dan pemangku kepentingan: keadilan sosial belum sepenuhnya hadir, dan perjuangan masih panjang.


×
Berita Terbaru Update