Notification

×

Iklan

Gemini-Generated-Image-ga8bifga8bifga8b

Iklan

Gemini-Generated-Image-o40kr0o40kr0o40k

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Maulid Nabi di Tengah Polemik Bid’ah, HMPS Ilmu Hadis Dorong Dialog Kritis tentang Nilai-Nilai Profetik

Selasa, 15 September 2026 | September 15, 2026 WIB Last Updated 2026-09-15T12:36:08Z
Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hadis (HMPS Ilmu Hadis) UIN Alauddin Makassar menggelar Dialog Publik Memperingati Maulid Nabi 


CELEBES POST | MAKASSAR — Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ kembali menjadi ruang refleksi keagamaan sekaligus membuka perdebatan klasik di tengah masyarakat. Di satu sisi, Maulid dipandang sebagai momentum menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Di sisi lain, sebagian kalangan mempertanyakan praktik tersebut karena tidak ditemukan sebagai bentuk perayaan pada masa Nabi dan para sahabat.


Perbedaan pandangan itu kembali menjadi bahan diskusi di kalangan mahasiswa Ilmu Hadis. Bukan sekadar untuk menentukan siapa yang paling benar, melainkan untuk mengkaji bagaimana hadis, sunnah, konsep bid’ah, tradisi, serta perkembangan praktik keagamaan dipahami dalam kehidupan umat Islam.


Dalam konteks tersebut, Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hadis (HMPS Ilmu Hadis) UIN Alauddin Makassar menggelar Dialog Publik Memperingati Maulid Nabi di LT Fakultas Ushuluddin, Makassar, Senin (14/9/2026).


Kegiatan tersebut mengangkat tema “Nabi Muhammad ﷺ dan Aktualisasi Nilai-Nilai Profetik: Refleksi atas Krisis Moral dan Ketimpangan Struktural.”


Dialog menghadirkan Mujadid Sigit Aliah, S.Ag., M.Ag. dan Muhammad Reski sebagai narasumber, dengan Syafi’i Ma’arif bertindak sebagai moderator.


Maulid dan Perdebatan tentang Bid’ah


Perdebatan mengenai Maulid sejatinya tidak berhenti pada pertanyaan apakah perayaan tersebut boleh atau tidak. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana umat Islam menentukan suatu praktik sebagai sunnah, bid’ah, tradisi, atau bentuk ekspresi keagamaan yang dapat diterima.


Sebagian kalangan menilai Maulid tidak memiliki contoh langsung dari Nabi Muhammad ﷺ maupun generasi awal Islam. Pandangan tersebut kemudian menjadi dasar untuk mempertanyakan legitimasi menjadikan Maulid sebagai sebuah perayaan keagamaan.


Sementara itu, terdapat pandangan lain yang membedakan antara perkara ibadah mahdhah dengan bentuk kegiatan yang menjadi sarana untuk melakukan hal-hal yang memiliki dasar dalam ajaran Islam.


Dalam pandangan tersebut, Maulid dapat ditempatkan sebagai momentum untuk mempelajari sirah Nabi, memperbanyak shalawat, mengingat keteladanan Rasulullah ﷺ, serta menumbuhkan kecintaan kepada beliau.


Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa persoalan Maulid memiliki dimensi keilmuan yang cukup luas. Di dalamnya terdapat perbedaan metodologi dalam memahami hadis, konsep bid’ah, batasan mengikuti sunnah, hingga hubungan antara ajaran agama dan tradisi masyarakat.


Karena itu, perbedaan pandangan mengenai Maulid semestinya tidak serta-merta berubah menjadi ruang saling menyalahkan.


Dari Seremoni Menuju Aktualisasi Nilai Kenabian


Di tengah perdebatan tersebut, terdapat pertanyaan yang lebih jauh dan relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini: apa makna Maulid bagi kehidupan umat?


Peringatan kelahiran Nabi akan kehilangan substansinya apabila hanya berhenti pada seremoni tahunan. Nilai-nilai kenabian justru dituntut hadir dalam kehidupan sehari-hari.


Kejujuran, keadilan, kepedulian terhadap kelompok lemah, amanah dalam menjalankan kekuasaan, serta keberanian membela kebenaran merupakan nilai yang dapat direfleksikan dalam kehidupan sosial.


Tema yang diangkat HMPS Ilmu Hadis memperluas pembahasan tersebut dengan menghubungkan keteladanan Nabi dengan persoalan krisis moral dan ketimpangan struktural.


Dengan demikian, sosok Nabi Muhammad ﷺ tidak hanya dipahami dalam konteks hubungan spiritual seorang muslim dengan Allah SWT, tetapi juga melalui bagaimana manusia membangun hubungan yang adil dengan sesama dan lingkungan sosialnya.


Pertanyaan penting kemudian muncul: apakah Maulid hanya dimaknai sebagai peringatan atas kelahiran Nabi, atau menjadi momentum untuk menghadirkan nilai-nilai kenabian dalam kehidupan nyata?


Mahasiswa Ilmu Hadis Didorong Berpikir Kritis


Polemik mengenai Maulid juga memperlihatkan pentingnya tradisi akademik dalam memahami persoalan keagamaan secara kritis dan proporsional.


Mahasiswa Ilmu Hadis dituntut tidak terburu-buru memberikan penilaian terhadap sebuah praktik keagamaan hanya berdasarkan satu dalil atau satu perspektif.


Kajian hadis membutuhkan perhatian terhadap teks, konteks, kualitas dan pemahaman terhadap hadis, pandangan para ulama, serta perkembangan praktik keagamaan di tengah masyarakat.


Perbedaan pendapat dalam khazanah Islam merupakan bagian dari dinamika intelektual yang seharusnya dapat dikelola melalui dialog, kajian, dan argumentasi ilmiah.


Melalui dialog publik tersebut, HMPS Ilmu Hadis UIN Alauddin Makassar berupaya menempatkan Maulid bukan hanya sebagai agenda peringatan tahunan, tetapi juga sebagai ruang refleksi untuk menghubungkan kajian keislaman dengan berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.


Pada akhirnya, perdebatan tentang Maulid dapat menjadi lebih produktif apabila tidak berhenti pada pertanyaan “siapa yang paling benar?”, tetapi dilanjutkan dengan pertanyaan yang lebih substansial: sejauh mana nilai-nilai yang diajarkan Nabi Muhammad ﷺ benar-benar hidup dalam perilaku umat hari ini?


Celebes Post — Pewarta Penyambung Lidah Rakyat

×
Berita Terbaru Update