![]() |
| Dokumentasi kontributor Celebes Post |
CELEBES POST | MAKASSAR — Dugaan kejadian kesehatan yang dialami bayi Al Fayyad Faisal setelah mendapatkan imunisasi di Posyandu Asoka V pada 10 September 2026 menjadi perhatian dan mendorong perlunya penjelasan terbuka dari pihak fasilitas kesehatan.
Sorotan tersebut bukan semata untuk mencari pihak yang disalahkan, melainkan memastikan apakah seluruh tahapan pelayanan imunisasi telah berjalan sesuai prosedur, bagaimana kondisi medis bayi sebelum imunisasi, serta bagaimana tindak lanjut dilakukan setelah muncul kondisi kesehatan yang kemudian membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Puskesmas Maccini Sombala melalui drg. Sitti Hamsia memberikan sejumlah penjelasan kepada redaksi CELEBES POST.
![]() |
| Kepala Puskesmas Maccini Sombala melalui drg. Sitti Hamsia |
Laporan Disebut Sudah Diterima dan Ditindaklanjuti
Pihak Puskesmas Maccini Sombala menyatakan telah menerima laporan terkait kondisi bayi tersebut. Menurut keterangan yang disampaikan, laporan diterima pada pekan sebelumnya dan kemudian dilakukan klarifikasi serta tindak lanjut kepada pihak keluarga.
Puskesmas juga menyebut pihak keluarga telah mendapatkan penjelasan dari dokter anak yang menangani Al Fayyad di rumah sakit.
“Sudah menerima laporannya, kemudian sudah langsung diklarifikasi,” demikian keterangan pihak Puskesmas Maccini Sombala kepada redaksi.
Pihak Puskesmas menegaskan bahwa tindak lanjut tidak berhenti pada klarifikasi, tetapi dilanjutkan dengan koordinasi dan pemantauan kondisi bayi.
BCG Disebut Tidak Berkaitan dengan Kondisi Medis Bayi
Dalam keterangannya, Puskesmas menyampaikan bahwa bayi tersebut mendapatkan imunisasi BCG.
Namun, berdasarkan penjelasan dokter yang menangani bayi di rumah sakit, kondisi medis yang dialami disebut tidak memiliki hubungan dengan pemberian vaksin BCG.
Dokter anak yang disebut menangani bayi, dr. Min Ayatina, disebut telah memberikan penjelasan kepada orang tua mengenai kondisi tersebut.
Menurut keterangan Puskesmas, bayi memiliki riwayat prematuritas serta ditemukan kondisi pneumonia berdasarkan pemeriksaan dan hasil rontgen.
Puskesmas juga menyampaikan bahwa kadar hemoglobin (Hb) awal bayi tercatat 7,7, kemudian bayi mendapatkan transfusi darah dan kondisinya disebut mengalami perbaikan.
“Bisa jadi anemia karena prematur dan sesak karena pneumonia, ada hasil rontgennya,” demikian keterangan yang disampaikan kepada redaksi.
Namun demikian, secara jurnalistik, hubungan sebab-akibat antara imunisasi dan kondisi medis tertentu tetap merupakan ranah penilaian medis berdasarkan pemeriksaan serta mekanisme penilaian Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).
Bagaimana Skrining Sebelum Imunisasi?
Pertanyaan penting berikutnya adalah apakah bayi telah menjalani skrining sebelum imunisasi, mengingat terdapat riwayat prematuritas dan kondisi medis sebelumnya.
Puskesmas Maccini Sombala menyatakan bahwa skrining telah dilakukan.
Pihak Puskesmas juga menyebut bahwa sebelum imunisasi, resume medis bayi telah diperlihatkan dan kondisi bayi dinilai terlebih dahulu.
Dalam keterangannya, pihak Puskesmas mengatakan orang tua juga menyampaikan bahwa dokter anak yang menangani sebelumnya telah memberikan izin atau menyatakan bayi dapat menerima imunisasi, dengan pertimbangan kondisi bayi yang disebut telah memiliki berat sekitar 3,1 kilogram.
Keterangan tersebut menjadi bagian penting untuk menjawab apakah keputusan pemberian imunisasi telah didasarkan pada informasi medis yang tersedia pada saat pelayanan berlangsung.
Petugas Imunisasi Disebut Berasal dari Puskesmas
Terkait siapa tenaga kesehatan yang melakukan tindakan, pihak Puskesmas menjelaskan bahwa kegiatan imunisasi di Posyandu Asoka V dilakukan oleh petugas imunisasi Puskesmas yang ditugaskan dalam kegiatan Posyandu.
Namun, nama petugas yang memberikan vaksin kepada bayi tidak disebutkan secara eksplisit dalam klarifikasi tertulis yang diterima redaksi.
Hal tersebut penting untuk memastikan dokumentasi pelayanan, termasuk pencatatan jenis vaksin, petugas pelaksana, waktu pemberian, serta hasil skrining sebelum imunisasi.
Apakah Ini KIPI? Puskesmas Sebut Ada Mekanisme Penilaian
Salah satu pertanyaan utama dalam kasus ini adalah apakah kejadian tersebut telah dikategorikan sebagai KIPI.
Pihak Puskesmas menjelaskan bahwa penilaian KIPI memiliki mekanisme tersendiri dan melibatkan tim yang berwenang, termasuk unsur terkait di tingkat Dinas Kesehatan.
Karena itu, Puskesmas menyatakan kondisi bayi tersebut tidak serta-merta dapat disebut sebagai KIPI hanya berdasarkan adanya kejadian kesehatan setelah imunisasi.
Penentuan KIPI membutuhkan proses penilaian untuk melihat hubungan temporal maupun kemungkinan hubungan kausal antara imunisasi dengan kondisi yang terjadi.
Dengan demikian, istilah “setelah imunisasi” dan “akibat imunisasi” merupakan dua hal yang berbeda dan tidak semestinya disamakan tanpa pemeriksaan medis yang memadai.
Bayi Sempat Dirawat dan Mendapat Transfusi
Kondisi bayi sebelumnya juga menjadi bagian yang perlu mendapat perhatian publik.
Berdasarkan keterangan Puskesmas, Al Fayyad sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit dan disebut masih berada dalam pemantauan dokter anak.
Bayi disebut mengalami pneumonia dan memiliki kadar Hb awal 7,7. Setelah mendapatkan transfusi darah, kondisi bayi dikabarkan mengalami perbaikan.
Pihak Puskesmas menyebut kondisi terakhir bayi sudah jauh lebih baik, termasuk sudah dapat minum susu.
Informasi tersebut juga disampaikan oleh drg. Sitti Hamsia yang menegaskan bahwa kondisi bayi telah mengalami perkembangan positif.
Puskesmas Klaim Follow Up ke Rumah Keluarga
Sebagai bentuk tindak lanjut, Puskesmas Maccini Sombala menyatakan telah melakukan koordinasi dengan pihak keluarga dan berencana melakukan kunjungan langsung ke rumah.
Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari pemantauan kondisi bayi setelah mendapatkan perawatan.
Di sisi lain, komunikasi internal yang diperoleh redaksi juga menunjukkan adanya koordinasi dengan pihak tenaga medis lain untuk memastikan penanganan terhadap bayi dapat dilakukan secara berkesinambungan apabila dibutuhkan.
![]() |
| Dokumentasi Klaim Follow Up ke Rumah Keluarga |
![]() |
| Dokumentasi Klaim Follow Up ke Rumah Keluarga |
![]() | |
| Dokumentasi Klaim Follow Up ke Rumah Keluarga |
Sorotan CELEBES POST: Klarifikasi Bukan Akhir, Transparansi Tetap Penting
Kasus ini memperlihatkan bahwa pelayanan imunisasi tidak hanya berbicara tentang pemberian vaksin, tetapi juga menyangkut skrining, pencatatan medis, komunikasi dengan orang tua, pemantauan pascaimunisasi, serta mekanisme pelaporan apabila muncul kejadian kesehatan setelah imunisasi.
Puskesmas Maccini Sombala telah memberikan klarifikasi bahwa skrining dilakukan, resume medis disebut telah diperlihatkan, dan kondisi bayi telah ditindaklanjuti.
Pihak Puskesmas juga menyampaikan bahwa dokter anak yang menangani bayi telah menjelaskan kepada keluarga bahwa kondisi medis yang dialami tidak berkaitan dengan vaksin BCG.
Namun, untuk memastikan seluruh persoalan terang secara objektif, masih terdapat sejumlah hal yang layak didokumentasikan secara jelas, antara lain jenis dan nomor batch vaksin, identitas petugas pemberi imunisasi, hasil skrining sebelum penyuntikan, pencatatan pelayanan imunisasi, serta status resmi penilaian KIPI apabila memang dilakukan.
Dokumen dan mekanisme tersebut penting bukan untuk memperbesar persoalan, tetapi justru untuk memberikan kepastian kepada keluarga pasien sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan imunisasi di Posyandu dan Puskesmas.
Kondisi Bayi Disebut Membaik
Terlepas dari polemik yang berkembang, pihak Puskesmas menyampaikan bahwa kondisi Al Fayyad saat ini telah membaik setelah menjalani perawatan dan transfusi darah.
Pihak Puskesmas juga menyatakan bahwa keluarga telah memperoleh penjelasan dari dokter anak yang menangani.
CELEBES POST menilai, informasi tersebut perlu disampaikan secara berimbang agar masyarakat tidak mengambil kesimpulan hanya berdasarkan urutan waktu bahwa suatu kondisi kesehatan yang muncul setelah imunisasi otomatis disebabkan oleh vaksin.
Sebaliknya, setiap kejadian pascaimunisasi juga tetap perlu dicatat, ditindaklanjuti, dan dinilai melalui mekanisme medis yang berlaku agar keluarga memperoleh kepastian dan fasilitas kesehatan dapat melakukan evaluasi apabila ditemukan hal yang perlu diperbaiki.
Redaksi CELEBES POST akan terus membuka ruang klarifikasi dan hak jawab bagi seluruh pihak terkait.
Adi Kruch/eKarca






