Notification

×

Iklan

Iklan

Pentas Seni Dipersoalkan, Guru Tetap Mengajar dengan Hati: Pendidikan Anak Jangan Diukur dengan Rupiah!

Sabtu, 31 Januari 2026 | Januari 31, 2026 WIB Last Updated 2026-01-31T06:43:26Z
Kepala Sekolah SMP Negeri 27 Makassar H. Nurdin S.Pd.SH.M.Pd


CELEBES POST | MAKASSAR — Pasca viralnya perdebatan antara Kepala Sekolah SMP Negeri 27 Makassar dengan salah satu LSM di Kota Makassar, publik kembali dihadapkan pada polemik klasik dunia pendidikan: perlukah Pentas Seni (Pensi) di sekolah?


Sebagian masyarakat menyuarakan dukungan, sebagian lainnya menolak. Titik perdebatan hampir selalu sama—biaya. Namun, di balik hiruk-pikuk angka dan narasi “membebani orang tua”, ada satu hal penting yang kerap luput dari perhatian: Pentas Seni adalah bagian dari proses belajar siswa, bukan sekadar acara hiburan.


“Hilangnya Pentas Seni di sekolah berarti hilangnya sebagian dari kurikulum kita.”

 

Pensi Bukan Seremonial, Tapi Amanah Kurikulum


Pentas Seni bukan kegiatan seremonial tanpa dasar hukum. Ia merupakan bagian dari amanah kurikulum, khususnya pada mata pelajaran Seni Budaya dalam Kurikulum Merdeka. Hal ini ditegaskan dalam Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kemendikbudristek Nomor 032/H/KR/2024 tentang Capaian Pembelajaran.


Pada Capaian Pembelajaran (CP) Seni Budaya Fase D (kelas VII–IX), siswa diarahkan untuk mengalami, mencipta, merefleksi, berpikir artistik, dan menghadirkan dampak melalui seni rupa, musik, tari, dan teater. Nilai-nilai yang dibangun bukan hanya keterampilan seni, tetapi juga kreativitas, empati, kolaborasi, hingga pemahaman konteks budaya dan nilai lokal.


Di kelas IX, CP tersebut umumnya diimplementasikan melalui materi Manajemen Pameran dan Pementasan, yang diwujudkan dalam bentuk Pameran dan Pentas Seni dengan pendekatan Project Based Learning (PjBL).


Pensi: Proyek Pembelajaran yang Panjang dan Bermakna


Berbeda dengan anggapan banyak pihak, Pensi bukan kegiatan instan. Prosesnya bisa berlangsung 3 hingga 6 bulan, mulai dari perencanaan konsep, pembagian peran, penyusunan anggaran, latihan, monitoring, hingga pelaksanaan dan evaluasi melalui laporan pertanggungjawaban.


Dalam proses ini, siswa menjadi aktor utama, sementara guru berperan sebagai fasilitator. Pensi menjadi ruang belajar nyata yang menempatkan siswa sebagai subjek, bukan objek pendidikan.


Apa yang Dipelajari Siswa dari Pensi?


Nilai pembelajaran dari Pensi jauh melampaui panggung pertunjukan. Dengan prinsip Merdeka Belajar dan Student-Centered Learning, setiap siswa belajar sesuai minat dan potensinya. Ada yang menjadi panitia, penata artistik, koreografer, penari, pemusik, penata kostum dan rias, pengelola anggaran, hingga tim dokumentasi.


Di sanalah siswa belajar:

  • merancang dan mengeksekusi ide,

  • berkomunikasi dan berkolaborasi,

  • memecahkan masalah nyata,

  • serta bertanggung jawab terhadap keputusan bersama.


Bagi guru, Pensi menjadi penilaian autentik yang menilai kompetensi kognitif, afektif, dan psikomotor secara utuh. Setiap siswa memiliki kesempatan adil untuk mencapai ketuntasan belajar sesuai potensinya.


Soal Biaya: Fleksibel, Kontekstual, dan Edukatif


Isu biaya sering kali dibingkai dengan istilah “pungli” atau “tidak semua siswa mampu”, tanpa memahami mekanisme pembelajaran berbasis proyek. Padahal, biaya adalah bagian dari perencanaan yang disusun dan disepakati siswa sejak awal semester.


Besarannya pun tidak seragam—bergantung konsep, skala kegiatan, kebutuhan alat, dan kondisi sosial ekonomi siswa. Sumber pembiayaan juga beragam: dana BOS, skema berbagi dengan siswa, sponsor, hingga kegiatan kreatif seperti bazar. Bahkan, praktik subsidi silang justru menjadi pembelajaran sosial yang nyata.


Sekolah dan guru pada prinsipnya memahami kondisi siswanya dan merancang kegiatan secara proporsional, bukan memaksakan.


Menilai Pensi: Rupiah atau Kompetensi?


Pada akhirnya, pertanyaan mendasar yang perlu dijawab bersama adalah:
Apakah Pentas Seni akan kita nilai hanya dari nominal rupiahnya, atau dari kompetensi, karakter, dan pengalaman belajar bermakna yang diperoleh siswa?


Perbedaan pendapat adalah hal wajar dalam demokrasi. Namun, melihat Pentas Seni secara utuh akan membuka mata kita bahwa di balik sebuah panggung, ada proses pendidikan yang kaya, mendalam, dan berdampak jangka panjang bagi tumbuh kembang peserta didik.


Di sanalah guru terus berkarya—mengajar bukan sekadar dengan kurikulum, tetapi dengan hati.



Redaksi CELEBES POST 

Banner Utama

coklat-inspirasi-berita-baru-instagram-post-20241022-060924-0000
×
Berita Terbaru Update