![]() |
| Dari Peluh di Pagi Hari hingga Seragam Kehormatan: Kisah Ibu yang Mengantar Tiga Putranya Mengabdi untuk Negeri |
CELEBES POST | HUMANIORA NASIONAL Setiap pagi, bahkan sebelum matahari benar-benar bangun dari peraduannya, seorang ibu sederhana sudah lebih dulu bergelut dengan waktu. Tangannya yang renta namun terlatih meracik nasi hangat, sayur segar, dan sambal pecel di sebuah dapur kecil. Dari sanalah ia mendorong gerobak sederhana—bukan hanya membawa dagangan, tetapi juga harapan besar yang ia titipkan pada doa.
Ibu itu adalah penjual nasi pecel. Tak dikenal media, tak punya gelar, tak pula bergelimang harta. Modal hidupnya hanya satu: keteguhan hati dan doa yang tak pernah putus untuk ketiga anak lelakinya.
Hujan turun, panas menyengat—ia tetap berjualan. Bukan demi kemewahan, bukan pula demi pujian. Semua dilakukan agar anak-anaknya tetap bisa sekolah, tetap bisa bermimpi, dan suatu hari kelak hidup lebih baik darinya. Ia jarang mengeluh. Bahkan nyaris tak pernah meminta balasan. Baginya, melihat anak-anaknya tumbuh menjadi manusia baik sudah cukup menjadi kebahagiaan.
![]() |
| Dari Peluh di Pagi Hari hingga Seragam Kehormatan: Kisah Ibu yang Mengantar Tiga Putranya Mengabdi untuk Negeri |
Tak pernah terlintas di benaknya, bahwa uang receh hasil jualan pecel yang ia kumpulkan dengan sabar, kelak akan mengantar tiga anaknya berdiri gagah dalam seragam kehormatan negara.
Hari ini, doa itu benar-benar menembus langit.
Tiga putranya telah menjadi abdi negara.
Anak sulungnya, Irjen Pol Ahmad Luthfi, kini menyandang pangkat jenderal di Kepolisian Republik Indonesia. Kariernya dikenal panjang dan terjal, ditempa dari bawah, jauh dari privilese kemewahan.
Anak keduanya, Brigjen TNI Zainul Bahar, perwira tinggi TNI yang telah melewati berbagai penugasan strategis demi menjaga kedaulatan bangsa.
Sementara si bungsu, AKBP Sinwan, merupakan perwira Polri yang dikenal ramah, membumi, dan dekat dengan masyarakat.
Dua jenderal, satu perwira.
Semua lahir dari dapur kecil, dari gerobak pecel, dari doa seorang ibu yang tak pernah berhenti berharap.
Namun ada satu hal yang jauh lebih menyentuh dari pangkat dan jabatan.
Dalam sejumlah foto yang beredar, ketiganya tampak berdiri gagah mengapit sang ibu. Tak ada jarak. Tak ada aura kuasa. Tak ada sikap pejabat. Yang terlihat hanyalah tiga anak lelaki yang menjaga ibu mereka—ibu yang telah mengorbankan hidupnya demi masa depan mereka.
Seolah dunia ingin diberi tahu:
“Di balik seragam dan bintang itu, ada ibu yang tak pernah menyerah.”
Sang ibu mungkin tak paham soal pangkat, struktur militer, atau kehormatan institusi negara. Namun satu hal pasti: doanya telah sampai ke langit. Gerobak pecel yang dulu sederhana, kini menjadi saksi lahirnya tiga pengabdi bangsa.
Kisah ini menjadi pengingat keras bagi siapa pun:
bahwa kesuksesan sejati bukanlah jabatan, bukan pula pangkat tertinggi, melainkan ketika seorang ibu bisa tersenyum bangga melihat anak-anaknya tumbuh dengan akhlak, pengabdian, dan kehormatan.
Dan dari kisah ini, satu pesan abadi kembali ditegaskan:
Tak ada doa yang sia-sia.
Terlebih doa seorang ibu.
— CELEBES POST
Mengabarkan dengan nurani, menulis dengan hati.


