![]() |
| Ilustrasi DEMA UIN ALAUDDIN MAKASSAR |
CELEBES POST | Makassar — Di tengah duka akibat bencana yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, secercah harapan hadir dari kampus UIN Alauddin Makassar. Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) kampus tersebut mengambil langkah tegas dan konkret:
memperjuangkan pembebasan Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa asal Sumatera yang orang tuanya terdampak langsung oleh bencana.
Langkah ini bukan sekadar simbol empati. Ini adalah keputusan nyata yang menyentuh jantung persoalan mahasiswa:
keberlangsungan pendidikan di tengah krisis keluarga.
Solidaritas yang Tidak Berhenti di Kata-Kata
Presiden Mahasiswa DEMA UIN Alauddin Makassar, Muh. Zulhamdi Suhafid, menegaskan bahwa kebijakan ini lahir dari keprihatinan mendalam atas kondisi mahasiswa yang keluarganya sedang menghadapi cobaan berat.
“Kami tidak ingin mahasiswa kehilangan masa depan hanya karena musibah yang menimpa orang tua mereka. Kami sudah melakukan tracking dan pendataan untuk memastikan yang benar-benar terdampak mendapatkan bantuan pembebasan UKT,” tegasnya.
Menurut Zulhamdi, DEMA tidak hanya menyampaikan aspirasi, tetapi juga mengawal proses hingga kebijakan tersebut benar-benar direalisasikan oleh pimpinan kampus. Sinergi antara mahasiswa dan rektorat dinilai menjadi bukti bahwa kampus tidak boleh menutup mata terhadap realitas sosial mahasiswanya.
![]() |
| Bencana Sumatera |
Kampus Merespons Cepat
Keputusan pembebasan UKT ini mendapat apresiasi luas karena menunjukkan respons cepat pimpinan universitas terhadap kondisi darurat. Dalam situasi di mana banyak keluarga kehilangan sumber penghasilan akibat bencana, kebijakan tersebut menjadi penyelamat bagi mahasiswa agar tetap bisa melanjutkan studi tanpa tekanan finansial tambahan.
Langkah ini sekaligus menjadi pesan moral bahwa institusi pendidikan bukan sekadar tempat transfer ilmu, melainkan ruang solidaritas dan keberpihakan.
Suara Mahasiswa: “Bantuan Ini Sangat Berarti”
Salah satu penerima bantuan, Asmaul Husna Sinaga, mahasiswi jurusan Manajemen Pendidikan Islam asal Sibolga, Sumatera Utara, mengaku sangat bersyukur atas kebijakan tersebut. Orang tuanya terdampak langsung oleh bencana yang terjadi di wilayahnya.
“Kondisi orang tua kami benar-benar sulit setelah bencana kemarin. Bantuan pembebasan UKT ini sangat meringankan beban kami. Kami berterima kasih kepada DEMA dan pimpinan kampus,” ujarnya dengan haru.
Hal serupa disampaikan Abd Rohim Hasibuan, mahasiswa jurusan Farmasi asal Mandailing, Sumatera Utara. Ia berharap pemulihan di daerahnya segera berjalan agar masyarakat bisa kembali bangkit.
“Semoga Sumatera segera pulih. Kami ingin orang tua kami kembali beraktivitas seperti biasa,” katanya.
Pendidikan Tidak Boleh Kalah oleh Musibah
Kebijakan pembebasan UKT ini bukan hanya soal angka rupiah. Ini soal keberpihakan. Di saat sebagian keluarga mahasiswa kehilangan rumah, lahan, atau sumber penghasilan, kampus memilih berdiri bersama mereka.
DEMA UIN Alauddin Makassar menegaskan komitmennya untuk terus hadir dalam setiap situasi darurat yang menimpa mahasiswa.
“Pendidikan tidak boleh terhenti karena musibah. Kami akan terus memastikan tidak ada mahasiswa yang terhambat studinya akibat kondisi di luar kendali mereka,” tutup Zulhamdi dengan tegas.
Langkah ini menjadi contoh bahwa solidaritas di lingkungan kampus bukan sekadar slogan. Ia harus diwujudkan dalam kebijakan nyata, keberanian mengambil sikap, dan keberpihakan yang jelas kepada mahasiswa yang sedang terpuruk.
Di tengah derita akibat bencana, kampus ini memilih untuk tidak diam. Dan dalam dunia pendidikan, sikap seperti itulah yang paling keras dan paling bermakna.
MZS_ CELEBES POST


