![]() |
| Ilustrasi Kontributor Celebes Post |
CELEBES POST | WAJO, SULSEL — Fenomena sindikat penipuan online yang dikenal dengan sebutan Sobis kian mengkhawatirkan di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Praktik kejahatan digital ini tak hanya tumbuh masif, tetapi juga diduga kuat beroperasi secara terstruktur, tertutup, dan terorganisir dengan sokongan oknum aparat.
Investigasi awal yang dihimpun CELEBES POST mengungkap fakta mencengangkan: aktivitas Sobis tersebar di sedikitnya 12 titik basecamp di Kecamatan Tanasitolo. Di balik itu, muncul dugaan adanya praktik setoran rutin kepada oknum tertentu demi “keamanan” operasional mereka.
Seorang sumber yang merupakan mantan pelaku Sobis mengaku, setiap kelompok diwajibkan menyetor uang bulanan berkisar Rp8 juta hingga Rp10 juta. Dana tersebut diduga mengalir ke sejumlah oknum aparat, mulai dari level bawah hingga unit tertentu.
“Setiap bulan kami setor. Ada yang mengkoordinir dari oknum TNI, lalu dibagi ke Polsek sampai Resmob. Kalau ada tim dari Polda Sulsel turun, kami diminta lagi untuk biaya operasional,” ungkapnya, Kamis (16/4/2026).
Sumber tersebut menyebut wilayah operasi mereka meliputi Desa Pakkanna, Kelurahan Tancung, Kelurahan Mappadaelo hingga Desa Palippu. Bahkan dalam satu desa, bisa terdapat lebih dari satu kelompok aktif.
“BISNIS GELAP” YANG MENGGIURKAN DAN MENJERAT
Pengakuan lain datang dari seseorang yang mengaku sebagai “bos Sobis”. Ia mengungkap sisi lain dari aktivitas ini—penuh risiko, namun menjanjikan keuntungan besar.
“Walaupun kadang tidak ada pemasukan, kami tetap harus bayar bulanan sampai satu juta. Kadang pakai uang pribadi atau pinjam dulu. Tapi kalau lagi beruntung, bisa dapat ratusan juta, itu dibagi ke pekerja dan beli pulsa,” ujarnya.
DUA WAJAH REALITAS: RAHASIA UMUM, TAPI TAK TERSENTUH
Warga di Desa Palippu membenarkan bahwa aktivitas Sobis bukan hal baru. Namun, ketakutan dan dugaan kuat adanya “backing” membuat masyarakat memilih diam.
“Semua orang tahu, tapi tidak berani bicara. Takut, karena katanya ada yang lindungi dari belakang,” ungkap seorang warga.
Lebih ironis, praktik ini disebut-sebut turut melibatkan anak-anak sebagai bagian dari operasional. Kondisi ini memantik keprihatinan serius tentang masa depan generasi muda di daerah tersebut.
“Sudah banyak anak-anak yang dipekerjakan, kasihan mereka,” tambah warga lainnya.
PERAN APARAT DIPERTANYAKAN
Hingga berita ini diturunkan, belum terlihat langkah tegas dari aparat penegak hukum di wilayah tersebut. Dugaan keterlibatan oknum dari berbagai institusi, termasuk Polsek Tanasitolo, Resmob Pajanojago, hingga unit Tipiter Polres Wajo, semakin memperkeruh situasi.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: apakah negara benar-benar hadir dalam melindungi masyarakat dari kejahatan digital yang kian brutal?
DESAKAN: KODAM DAN POLDA HARUS TURUN
Sejumlah pihak kini mendesak agar tim dari Kodam dan Polda Sulsel segera turun langsung melakukan razia dan investigasi menyeluruh di Kecamatan Tanasitolo.
Jika benar dugaan ini terbukti, maka ini bukan sekadar kasus penipuan online biasa—melainkan potret krisis moral, hukum, dan institusi yang mengancam kepercayaan publik.
CELEBES POST menegaskan: praktik ini harus dibongkar hingga ke akar. Siapa pun yang terlibat, tanpa pandang bulu, wajib diproses hukum. Negara tidak boleh kalah oleh sindikat.
(TIM/RED)
