Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dari Ayat ke Aksi: Revolusi Pendidikan Qur’ani di Makassar, Mencetak Generasi Berakhlak Baja dan Berjiwa Cahaya!

Kamis, 23 April 2026 | April 23, 2026 WIB Last Updated 2026-04-23T05:32:46Z


Nasaruddin Linggi Allo, Direktur Pendidikan sekolah Sekolah Islam Terpadu Takwa Cendekia Makassar 

CELEBES POST | MAKASSAR — Di tengah arus globalisasi yang kian menggempur nilai-nilai moral generasi muda, sebuah konsep pendidikan berbasis Al-Qur’an kembali digaungkan dengan nada keras dan penuh harapan. Sekolah Islam Terpadu Takwa Cendekia Makassar tampil sebagai garda depan dalam membangun karakter anak bangsa melalui pendekatan yang tak sekadar akademik, melainkan menyentuh dimensi terdalam manusia: akal, hati, dan amal.


Gagasan ini disampaikan oleh Nasaruddin Linggi Allo, Direktur Pendidikan sekolah tersebut, yang menegaskan bahwa pendidikan Islam sejatinya bukan hanya transfer ilmu, tetapi proses pembentukan manusia seutuhnya—berkepribadian Islam, terikat nilai syariat, serta memiliki integritas moral yang kokoh.


Al-Qur’an Bukan Sekadar Bacaan, Tapi Fondasi Peradaban


Di sekolah ini, mata pelajaran Al-Qur’an bukan pelengkap, melainkan pilar utama pendidikan. Pembelajarannya dirancang secara sistematis untuk menyentuh tiga aspek penting dalam diri siswa: kognitif (pemahaman makna dan pesan), afektif (kepekaan hati), dan psikomotorik (implementasi nyata dalam kehidupan).


“Ini bukan sekadar menghafal ayat. Ini tentang bagaimana ayat itu hidup dalam diri anak,” tegas Nasaruddin.


Pendekatan ini menjadi kritik tersirat terhadap sistem pendidikan yang selama ini dinilai terlalu menitikberatkan pada capaian akademik, namun kerap abai dalam membangun karakter dan moralitas.


Suasana Munaqasyah utk jilid 6 dan kenaikan jilid 1 s/d 5 metode Tilawati SDIT TAKWA CENDEKIA MAKASSAR


Sorotan Utama: Adab Sebelum Ilmu


Pada jenjang dasar, konsep “adab sebelum ilmu” menjadi fondasi yang tak bisa ditawar. Anak-anak tidak hanya didorong untuk cerdas, tetapi juga dibentuk menjadi pribadi yang berakhlak mulia.


Nilai-nilai utama yang ditanamkan meliputi:

  • Integritas (Siddiq): Menumbuhkan kejujuran dengan kesadaran bahwa setiap perbuatan diawasi oleh Allah.

  • Empati (Rahmah): Menanamkan kasih sayang melalui pemahaman sifat Ar-Rahman.

  • Tanggung Jawab dan Kemandirian: Melatih anak menjaga amanah, termasuk dalam hal sederhana seperti perlengkapan ibadah.


Nilai-nilai ini tidak diajarkan secara teoritis, tetapi melalui pembiasaan harian yang konsisten—sebuah metode yang dinilai lebih efektif dalam membentuk karakter jangka panjang.


Atmosfer Qur’ani: Antara Idealisme dan Realitas


Namun, tantangan terbesar bukan pada kurikulum, melainkan pada implementasi. Membangun atmosfer Qur’ani yang hidup menjadi pekerjaan rumah besar, tidak hanya bagi sekolah, tetapi juga keluarga.


Program seperti tahfidz dan tahsin di pagi hari selama 35–70 menit menjadi langkah konkret yang diterapkan. Aktivitas ini diyakini mampu menciptakan ketenangan batin (sakinah) dan kesiapan mental siswa sebelum menerima pelajaran lain.


Selain itu, literasi Qur’ani melalui media visual seperti poster ayat-ayat akhlak serta peran guru dan orang tua sebagai teladan menjadi kunci utama keberhasilan.


“Guru dan orang tua harus menjadi Al-Qur’an berjalan. Jika tidak, semua konsep hanya akan berhenti di atas kertas,” kritik tajam yang tak bisa diabaikan.


Antara Harapan dan Kenyataan


Di tengah realitas sosial yang sering memperlihatkan krisis moral—dari perilaku menyimpang remaja hingga lunturnya nilai kejujuran—pendekatan ini menjadi oase sekaligus tamparan keras bagi dunia pendidikan nasional.


Apakah sistem seperti ini mampu menjadi solusi? Ataukah hanya akan menjadi konsep ideal yang sulit diterapkan secara luas?


Yang jelas, Sekolah Islam Terpadu Takwa Cendekia Makassar telah mengambil langkah berani: mengembalikan Al-Qur’an sebagai pusat pendidikan, bukan sekadar simbol.


Penutup: Mencetak Generasi, Bukan Sekadar Lulusan


Membangun karakter melalui Al-Qur’an bukan proses instan. Ia membutuhkan kesungguhan, konsistensi, dan yang paling penting—keteladanan nyata.


Ketika Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi dihidupkan, maka lahirlah generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan kokoh dalam akhlak.


Inilah wajah pendidikan yang sesungguhnya: bukan sekadar mencetak lulusan, tetapi melahirkan manusia yang utuh—berpikir benar, bersikap lurus, dan bertindak adil.



(Redaksi CELEBES POST)

×
Berita Terbaru Update