![]() |
| Sertijab di Aula Mappaodang Kota Makassar |
CELEBES POST | Makassar, Sulsel — Dinamika tubuh kepolisian kembali menggeliat. Kepolisian Resor Kota Besar Makassar resmi menggelar upacara serah terima jabatan (sertijab) sejumlah pejabat utama hingga Kapolsek jajaran, Senin (13/4), di Aula Mappaoddang.
Upacara tersebut dipimpin langsung oleh Kapolrestabes Makassar, Arya Perdana, dalam suasana formal yang sarat makna regenerasi dan konsolidasi kekuatan internal. Namun di balik seremoni itu, publik menanti lebih dari sekadar pergantian kursi—yakni bukti nyata perubahan di lapangan.
Pergantian Strategis, Harapan Besar Dipertaruhkan
Rotasi jabatan kali ini menyentuh posisi-posisi vital. Tongkat komando Satuan Lalu Lintas kini berada di tangan Siska Dwimarita Susanti, menggantikan Andi Husnaeni. Pergantian ini menjadi sorotan, mengingat kompleksitas persoalan lalu lintas di Makassar yang kian hari makin semrawut dan membutuhkan terobosan nyata.
Sementara itu, posisi Kasat Samapta kini dijabat Joko Pamungkas, menggantikan Justian. Di sektor intelijen, Surahman menggantikan Asdar—sebuah posisi krusial dalam membaca potensi gangguan keamanan di kota metropolitan ini.
Tak kalah penting, jabatan Kabag SDM kini diemban Arsyad menggantikan Muhammadong, yang diharapkan mampu memperkuat manajemen internal personel agar lebih profesional dan berintegritas.
Kapolsek Berganti, Wajah Pelayanan Publik Dipertaruhkan
Rotasi juga merambah ke tingkat Polsek—ujung tombak pelayanan langsung ke masyarakat. Jabatan Kapolsek Biringkanaya kini dipegang Setiawan A Malik menggantikan Andik Wahyu Cahyono.
Di wilayah Ujung Pandang, estafet kepemimpinan beralih ke Muh Yusuf dari Asep Wahyudi.
Sementara itu, Mustari Alam kini memimpin Tamalanrea setelah sebelumnya menjabat Kapolsek Mamajang, posisi yang kini diisi Tri Husada Andromeda.
Pergantian ini bukan sekadar administratif. Di baliknya, ada ekspektasi besar dari masyarakat yang selama ini mengeluhkan pelayanan lambat, respons penanganan kasus yang tak merata, hingga isu klasik—kepercayaan publik yang masih naik turun.
“Penyegaran” atau Ujian Nyata?
Kasi Humas Polrestabes Makassar, Wahiduddin, menyebut mutasi ini sebagai hal yang lumrah dalam tubuh Polri.
“Ini bagian dari pembinaan karier dan penyegaran organisasi. Kami harap pejabat baru cepat beradaptasi dan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat,” ujarnya.
Namun, publik tak lagi cukup puas dengan jargon “penyegaran”. Di tengah kompleksitas persoalan kota Makassar—dari kemacetan, kriminalitas jalanan, hingga potensi konflik sosial—rotasi ini diuji oleh satu hal: hasil nyata, bukan sekadar seremoni berganti nama di papan jabatan.
Sorotan CELEBES POST: Saatnya Buktikan, Bukan Sekadar Menjabat
CELEBES POST menilai, rotasi besar ini adalah momentum emas sekaligus titik krusial. Jika tidak diiringi dengan gebrakan konkret, maka mutasi hanya akan menjadi rutinitas birokrasi tanpa dampak signifikan.
Masyarakat kini menunggu:
Apakah wajah baru ini akan membawa perubahan?
Atau justru hanya melanjutkan pola lama yang stagnan?
Yang pasti, satu pesan menguat dari publik: jabatan adalah amanah, bukan sekadar posisi—dan Makassar butuh lebih dari sekadar pergantian nama.
DDL CELEBES POST
