Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

SATU JAM BERSAMA Hasanuddin Tisi Dg Lewa: HIDUP SINGKAT, JANGAN BIARKAN BANGSA KEHILANGAN ARAH!

Minggu, 19 April 2026 | April 19, 2026 WIB Last Updated 2026-04-19T14:22:35Z
Dokumentasi Kontributor Celebes Post 


CELEBES POST | BEKASI — Di balik ketenangan sebuah patio rumah mewah di Bekasi Barat, Ahad siang (19/4/2026), tersimpan percakapan yang mengguncang kesadaran: tentang hidup, tentang bangsa, dan tentang tanggung jawab yang kian terasa berat di tengah zaman yang retak oleh krisis kepercayaan.


Dalam satu jam penuh makna bersama sosok yang dikenal sebagai Tetta Lewa—Hasanuddin Tisi Dg Lewa—CELEBES POST menangkap lebih dari sekadar obrolan ringan. Ini adalah refleksi tajam, bahkan bisa disebut sebagai alarm keras bagi kondisi bangsa hari ini.


DARI TAKALAR KE PANGGUNG NASIONAL: SOSOK YANG TAK SEKADAR SUKSES


Lahir dari tanah Sabintang, Takalar, Hasanuddin bukan sekadar pengusaha. Ia adalah representasi nilai-nilai kultural Bugis-Makassar yang masih tegak berdiri di tengah arus pragmatisme zaman. Dengan status sebagai Karaeng Mallantikang Maloloa dan Ketua Umum BPN KKTP (Kerukunan Keluarga Takalar Panrannuangku), ia memikul tanggung jawab sosial yang jauh melampaui urusan bisnis.


Jaringannya luas, bahkan menembus lingkar nasional. Namun, bukan itu yang membuatnya menonjol. Melainkan cara berpikirnya yang jernih, lugas, dan membumi—tanpa basa-basi.


“HIDUP INI SINGKAT!” — SEBUAH PERINGATAN, BUKAN SEKADAR KUTIPAN


“Hidup ini singkat, isi dengan perjuangan yang menghadirkan kebaikan.”


Kalimat itu meluncur tenang, namun menghantam keras. Bukan slogan kosong. Itu adalah kesimpulan dari perjalanan panjangnya—dari kampung halaman hingga dunia usaha yang keras.


Di tengah masyarakat yang kian terjebak pada simbol keberhasilan semu, Hasanuddin justru mengingatkan: ukuran hidup bukan pada capaian materi, melainkan pada dampak yang ditinggalkan.


BANGSA DI UJUNG KERENTANAN: KRISIS KEPERCAYAAN YANG MENGANGA


Namun, percakapan tak berhenti pada refleksi personal. Nada berubah lebih serius ketika ia menyoroti kondisi bangsa.


Dengan raut wajah yang mengeras, ia menyinggung fenomena yang semakin mengkhawatirkan: praktik koruptif yang terus berulang, ketimpangan ekonomi yang menekan rakyat, serta lunturnya kepercayaan publik terhadap institusi.


“Jujur, saya prihatin. Saat rakyat sedang sulit, justru praktik-praktik yang tidak berpihak pada publik masih terjadi,” tegasnya.


Ini bukan sekadar kritik. Ini adalah sinyal bahaya.


Menurutnya, krisis terbesar hari ini bukan sekadar ekonomi—melainkan krisis kepercayaan (trust deficit). Ketika publik kehilangan keyakinan terhadap sistem, maka yang terancam bukan hanya stabilitas, tetapi masa depan bangsa itu sendiri.


PERBEDAAN BUKAN MUSUH, TAPI ENERGI YANG TERABAIKAN


Di tengah polarisasi yang semakin tajam, Hasanuddin justru menawarkan pendekatan integratif.


“Perbedaan itu pasti ada. Tapi jangan dibiarkan membeku. Harus dicairkan, agar tidak jadi penghambat pembangunan,” ujarnya.


Pernyataan ini terasa relevan di tengah kondisi sosial-politik yang kerap memecah, bukan menyatukan. Ia melihat perbedaan sebagai potensi—bukan ancaman. Namun sayangnya, energi itu sering gagal dikelola.


PERAN TOKOH DAN ORGANISASI: DIAM ATAU BERTINDAK?


Dalam pandangannya, tokoh masyarakat, pengusaha, dan organisasi seperti KKTP tidak boleh hanya menjadi simbol.


Mereka harus hadir sebagai kekuatan sosial—menjaga nilai, memperkuat solidaritas, dan memberi kontribusi nyata di tengah masyarakat yang sedang terhimpit.


Jika tidak, maka ruang sosial akan diisi oleh kepentingan sempit yang justru memperparah keadaan.


FILOSOFI JEEP: HIDUP ADALAH MEDAN BERAT


Di sela perbincangan serius, terselip sisi lain: kecintaannya pada dunia otomotif, khususnya Jeep.


Namun bagi Hasanuddin, Jeep bukan sekadar hobi. Ia adalah simbol.


Medan berat, jalan terjal, dan rintangan adalah bagian dari perjalanan. Yang dibutuhkan adalah ketahanan, arah, dan keberanian untuk terus melaju.


Filosofi itu pula yang ia bawa dalam kehidupan.


AKHIR YANG MENAMPAK, JEJAK YANG MENENTUKAN


Menutup pertemuan, ia kembali menegaskan satu hal yang terasa seperti pesan terakhir bagi siapa pun yang mau mendengar:


“Yang kita kejar bukan sekadar berhasil, tapi bagaimana keberhasilan itu punya arti bagi orang lain.”


Satu jam itu bukan sekadar waktu. Ia adalah potret kegelisahan, harapan, dan peringatan.


Bahwa hidup memang singkat.
Bahwa bangsa ini sedang diuji.
Dan bahwa setiap individu—terutama mereka yang punya pengaruh—tidak lagi punya kemewahan untuk diam.


CELEBES POST mencatat: jika suara seperti ini terus diabaikan, maka yang terancam bukan hanya arah pembangunan, tetapi juga masa depan kepercayaan rakyat terhadap negeri ini.



Bekasi, 19 April 2026
Pewarta Penyambung Lidah Rakyat

×
Berita Terbaru Update