![]() |
| Dokumentasi Kontributor Celebes |
CELEBES POST | BARRU, SULAWESI SELATAN – Di tengah sorotan rendahnya minat baca dan minimnya perhatian terhadap fasilitas pendidikan di daerah, sebuah gerakan sunyi namun mengguncang hadir dari Desa Bacu-Bacu, Kecamatan Pujananting, Kabupaten Barru. Program Kerja KKN 78 tampil bukan sekadar formalitas akademik, tetapi menjadi gebrakan nyata melalui restorasi perpustakaan di SD 158 Ammerung Bacu-Bacu.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Perpustakaan yang selama ini terkesan mati suri—kurang terawat, sepi, dan tak menarik—kini disulap menjadi ruang hidup yang menggugah semangat belajar siswa. Bagi KKN 78, perpustakaan bukan sekadar tempat menumpuk buku, melainkan “jantung literasi” yang menentukan denyut masa depan generasi muda.
Pembenahan dilakukan secara menyeluruh. Mulai dari penataan ulang koleksi buku, perbaikan ruang, hingga menghadirkan suasana yang nyaman dan ramah anak. Rak-rak buku ditata rapi, area baca diperindah, dan visual ruangan didesain lebih menarik—sebuah sentuhan sederhana namun berdampak besar dalam membangun ketertarikan siswa terhadap dunia baca.
Tak berhenti di situ, KKN 78 juga menghadirkan inovasi melalui pojok baca interaktif. Ruang ini dirancang lebih santai agar siswa dapat menikmati aktivitas membaca tanpa tekanan. Sebuah pendekatan yang secara halus namun efektif menanamkan budaya literasi sejak dini.
Lebih tajam lagi, sistem klasifikasi buku mulai diperkenalkan. Tabel klasifikasi pada rak menjadi alat bantu bagi siswa untuk mengenal cara mencari dan mengelompokkan informasi. Ini bukan sekadar penataan, tetapi pendidikan literasi informasi yang menjadi fondasi penting di era pengetahuan saat ini.
Program ini juga diarahkan pada target yang lebih besar: menghidupkan kembali fungsi perpustakaan sekaligus mendorong proses akreditasi. Dengan standar yang mulai dibenahi, perpustakaan SD 158 Ammerung diharapkan tak hanya aktif secara fungsi, tetapi juga diakui sebagai pusat sumber belajar yang berkualitas.
Namun di balik semua itu, pesan paling kuat adalah soal budaya. Minat baca tidak bisa dipaksakan. Ia tumbuh dari ruang yang mengundang rasa ingin tahu. Dan kini, ruang itu telah hadir di Bacu-Bacu.
Ahmad Hilaluddin, mahasiswa Ilmu Perpustakaan yang terlibat langsung dalam program ini, menegaskan bahwa perpustakaan adalah lebih dari sekadar tempat membaca.
“Perpustakaan adalah wahana pengetahuan dan ruang tumbuhnya imajinasi anak-anak. Kami berharap, dari ruang sederhana ini lahir kebiasaan membaca yang akan menjadi fondasi generasi kritis dan kreatif di masa depan,” ujarnya.
Program ini menjadi tamparan halus bagi berbagai pihak yang selama ini abai terhadap fasilitas pendidikan dasar. Di saat anggaran besar sering kali diperdebatkan tanpa hasil nyata, KKN 78 justru membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil yang dikerjakan dengan kesungguhan.
Kini, perpustakaan SD 158 Ammerung bukan lagi ruang sunyi yang terlupakan. Ia telah bertransformasi menjadi simbol harapan—tempat di mana ilmu, imajinasi, dan masa depan anak-anak Bacu-Bacu mulai dirajut.
CELEBES POST
Pewarta Penyambung Lidah Rakyat
