![]() |
| Dokumentasi kontributor Celebes Post |
CELEBES POST | Jakarta — Kunjungan resmi Perdana Menteri India ke Indonesia pada 6–8 Juli 2026 bukan sekadar agenda diplomasi tingkat tinggi. Di balik penguatan kerja sama ekonomi, investasi, perdagangan, teknologi, hingga pendidikan, muncul sorotan tajam dari kalangan masyarakat sipil yang meminta agar isu perlindungan hak kelompok minoritas, kebebasan beragama, toleransi, dan dialog kemanusiaan tidak dikesampingkan dalam pembicaraan kedua negara.
Desakan tersebut disampaikan OIC Youth Indonesia yang menilai kunjungan kenegaraan itu harus menjadi momentum strategis bagi Indonesia dan India untuk membangun hubungan yang tidak hanya berorientasi pada kepentingan geopolitik dan ekonomi, tetapi juga berpijak pada nilai-nilai universal tentang keadilan, kemanusiaan, serta penghormatan terhadap keberagaman.
Sebagai dua negara demokrasi terbesar di Asia yang memiliki sejarah panjang hubungan persahabatan, Indonesia dan India dinilai memikul tanggung jawab besar dalam menciptakan stabilitas kawasan sekaligus menjadi contoh bagaimana masyarakat majemuk dapat hidup berdampingan secara damai.
Momentum Diplomasi Jangan Hanya Berbicara Investasi
Presiden OIC Youth Indonesia, Astrid Nadya Rizqita, menegaskan bahwa organisasinya memahami kunjungan Perdana Menteri India merupakan bagian dari agenda strategis bilateral sekaligus tindak lanjut atas kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto ke India pada tahun 2025.
Namun menurutnya, eratnya hubungan diplomatik tidak boleh menutup ruang dialog mengenai persoalan kemanusiaan yang menjadi perhatian masyarakat internasional.
Astrid menilai Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia sekaligus penganut politik luar negeri bebas dan aktif, memiliki posisi moral untuk menyampaikan perhatian terhadap berbagai tantangan yang masih dihadapi komunitas Muslim maupun kelompok minoritas di berbagai belahan dunia, termasuk di India.
Ia juga menekankan bahwa Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam mengelola keberagaman agama, budaya, serta etnis melalui semangat persatuan nasional yang dapat menjadi referensi positif dalam memperkuat hubungan kedua negara.
Lebih jauh, Astrid menegaskan bahwa perhatian terhadap perlindungan kelompok minoritas tidak dimaksudkan sebagai bentuk intervensi terhadap urusan domestik negara lain, melainkan merupakan bagian dari komitmen bersama terhadap penghormatan atas martabat manusia, kebebasan menjalankan keyakinan, serta nilai-nilai kemanusiaan universal yang diakui masyarakat internasional.
Generasi Muda Diminta Menjadi Jembatan Perdamaian
Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal OIC Youth Indonesia, Adlan Athori, menilai generasi muda memiliki posisi strategis dalam membangun komunikasi di tengah meningkatnya tantangan global berupa intoleransi, diskriminasi, hingga polarisasi sosial.
Menurutnya, dialog tetap menjadi instrumen paling efektif dibandingkan konfrontasi dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang berkaitan dengan keberagaman.
Karena itu, OIC Youth Indonesia mendorong terbukanya ruang dialog antaragama, antarbudaya, dan antarmasyarakat antara Indonesia dan India guna memperkuat saling pengertian, mengikis prasangka, sekaligus membangun hubungan yang lebih erat dan berkelanjutan.
Adlan berharap kunjungan resmi Perdana Menteri India tidak hanya menghasilkan kesepakatan ekonomi maupun investasi, tetapi juga memperkuat komitmen kedua negara terhadap perlindungan kelompok minoritas, penghormatan atas kebebasan beragama, serta penguatan harmoni sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
Ia menilai berbagai perhatian yang berkembang di tingkat internasional mengenai kondisi komunitas Muslim maupun kelompok minoritas keagamaan di sejumlah negara seharusnya disikapi melalui pendekatan yang konstruktif, inklusif, dan berorientasi pada solusi, bukan dengan memperbesar ketegangan.
Diplomasi Bernilai Akan Lebih Kuat dari Sekadar Kepentingan Politik
OIC Youth Indonesia berpandangan bahwa hubungan Indonesia dan India akan memiliki fondasi yang jauh lebih kokoh apabila tidak hanya dibangun atas dasar kepentingan ekonomi dan geopolitik, tetapi juga diikat oleh penghormatan terhadap nilai keadilan, keberagaman, hak asasi manusia, dan martabat setiap warga negara.
Sebagai organisasi kepemudaan yang aktif dalam diplomasi internasional, pembangunan perdamaian, serta penguatan kerja sama antarbangsa, OIC Youth Indonesia menyatakan kesiapan memfasilitasi berbagai program pertukaran pemuda, dialog lintas agama, kolaborasi masyarakat sipil, hingga forum-forum diskusi yang bertujuan mempererat hubungan Indonesia dan India.
Sorotan CELEBES POST
Kunjungan kenegaraan selalu membawa harapan besar terhadap peningkatan hubungan bilateral. Namun diplomasi modern tidak lagi cukup diukur dari nilai investasi atau besarnya transaksi perdagangan semata. Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap isu hak asasi manusia, kebebasan beragama, dan perlindungan kelompok minoritas, publik juga menaruh harapan agar para pemimpin negara mampu membangun komunikasi yang terbuka, saling menghormati kedaulatan masing-masing, sekaligus mendorong penyelesaian berbagai tantangan kemanusiaan melalui dialog yang damai.
Bagi Indonesia, yang dikenal sebagai negara plural dengan semangat persatuan dalam keberagaman, pengalaman menjaga harmoni sosial dapat menjadi kontribusi penting dalam memperkuat kerja sama internasional. Sebaliknya, hubungan strategis Indonesia–India akan semakin bermakna apabila mampu menghadirkan keseimbangan antara kepentingan ekonomi, stabilitas kawasan, dan komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal.
(Redaksi CELEBES POST)
