Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Aksi Jilid II PMII Makassar Berujung Ricuh! Dugaan Mafia Tanah Lakkang Ca'di Kian Menguat, Mahasiswa Desak Aparat Bongkar Aktor di Balik Sengketa 70,86 Hektare

Rabu, 05 Agustus 2026 | Agustus 05, 2026 WIB Last Updated 2026-08-04T17:45:28Z
Dokumentasi kontributor Celebes Post


MAKASSAR, CELEBES POSTGelombang perlawanan terhadap dugaan praktik mafia tanah di Pulau Lakkang Ca'di kembali memanas. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Makassar menggelar aksi demonstrasi jilid II di depan AAS Building, Kota Makassar, Selasa (4/8/2026), dengan membawa tuntutan keras agar negara segera mengusut tuntas dugaan permainan hukum yang disebut-sebut dijadikan alat untuk mengambil alih lahan milik masyarakat.


Mengusung tema "Siasat Pembebasan Lahan Murah Berkedok Gugatan Hukum", aksi tersebut menjadi lanjutan dari demonstrasi sebelumnya yang menyoroti dugaan adanya pola sistematis dalam sengketa lahan di Pulau Lakkang Ca'di, Kecamatan Tallo, Kota Makassar.


Dalam aksi tersebut, PMII Makassar menegaskan keberpihakannya kepada masyarakat yang selama puluhan tahun bahkan turun-temurun menguasai dan menggarap lahan yang kini menjadi objek sengketa melalui jalur perdata.


Sengketa 70,86 Hektare Jadi Sorotan


Fokus utama demonstrasi tertuju pada dua perkara perdata yang sedang bergulir di Pengadilan Negeri Makassar, yakni:

  • Perkara Nomor 172/Pdt.G/2026/PN Mks

  • Perkara Nomor 254/Pdt.G/2026/PN Mks

Kedua perkara tersebut berkaitan dengan klaim kepemilikan lahan seluas sekitar 70,86 hektare di kawasan Pulau Lakkang Ca'di.


Menurut PC PMII Makassar, mekanisme gugatan perdata tidak boleh menjadi instrumen untuk menghilangkan hak masyarakat yang selama ini menguasai lahan secara nyata. Organisasi mahasiswa tersebut mengingatkan bahwa sengketa agraria bukan sekadar persoalan administrasi, melainkan menyangkut keberlangsungan hidup warga yang menggantungkan kehidupan dari tanah tersebut.


Koordinator aksi, Muhammad Fahril, menegaskan demonstrasi bukan sekadar bentuk protes, melainkan sikap moral untuk mengawal kepentingan masyarakat.


"Ini merupakan aksi kedua kami sebagai bentuk solidaritas terhadap masyarakat Lakkang Ca'di yang kami nilai sedang menghadapi dugaan praktik mafia lahan. Tema aksi hari ini menjadi kritik terhadap dugaan pembebasan lahan murah melalui mekanisme gugatan hukum yang berpotensi merugikan masyarakat," tegas Fahril dalam orasinya.

 

Dugaan Tekanan terhadap Warga


Tak hanya mempersoalkan proses hukum, PMII Makassar juga mengungkap adanya dugaan berbagai bentuk tekanan yang dialami masyarakat selama sengketa berlangsung.


Berdasarkan informasi yang dihimpun organisasi tersebut, warga disebut menghadapi berbagai pendekatan, mulai dari penawaran pembelian lahan dengan nilai yang dianggap rendah hingga dugaan pengambilan dokumen-dokumen pertanahan milik masyarakat.


Apabila dugaan tersebut benar, kondisi itu dinilai semakin memperlihatkan adanya tekanan terhadap masyarakat yang sedang mempertahankan hak atas tanahnya.


PMII meminta aparat penegak hukum tidak berhenti pada proses administrasi semata, tetapi melakukan penyelidikan secara menyeluruh terhadap seluruh pihak yang diduga terlibat apabila ditemukan adanya unsur pidana.


Ketua PMII Mengaku Diteror


Dalam keterangannya, Ketua PC PMII Makassar, Muh. Arfiansyah Aris, mengaku perjuangan organisasinya tidak berjalan tanpa hambatan.


Ia menyebut sejak aksi pertama digelar, dirinya bersama lembaga yang dipimpinnya menghadapi berbagai bentuk intimidasi.


"Sejak aksi pertama saya bersama lembaga menghadapi berbagai bentuk intimidasi, mulai ancaman hingga teror melalui nomor-nomor yang tidak dikenal. Namun kami tidak akan mundur. Kami akan terus berdiri bersama rakyat sampai masyarakat Lakkang Ca'di mendapatkan keadilan," tegas Arfiansyah.

 

Ia juga mendesak aparat kepolisian agar mengusut dugaan mafia tanah secara profesional.


"Kami mendesak kepolisian mengusut tuntas dan menangkap pelaku mafia lahan apabila ditemukan adanya unsur pidana. Negara harus hadir melindungi masyarakat," katanya.

 

Aksi Berujung Ricuh


Situasi yang semula berlangsung kondusif berubah memanas ketika demonstrasi memasuki puncak penyampaian aspirasi.


Menurut keterangan PC PMII Makassar, sekelompok orang yang tidak dikenal tiba-tiba mendatangi lokasi aksi.


Kelompok tersebut disebut membawa karton bertuliskan:

"PMII Orderan Mafia Lahan."


PMII menyebut sebagian besar dari kelompok tersebut mengenakan masker dan penutup wajah sehingga identitas mereka sulit dikenali.


Kericuhan pun tidak dapat dihindari hingga aparat kepolisian yang melakukan pengamanan berupaya mengendalikan situasi.


PMII: Ada Dugaan Upaya Membungkam Aspirasi


Juru bicara aksi, Firman, menilai munculnya kelompok tersebut justru memperkuat dugaan adanya upaya menghalangi penyampaian aspirasi mahasiswa.


"Dugaan kami semakin kuat. Baru pada aksi kedua ini pihak AAS Building memberikan respons. Menurut dugaan kami, mereka mendatangkan orang-orang yang tidak kami kenal untuk membubarkan aksi PMII. Sebelumnya mereka memilih diam terhadap persoalan yang kami suarakan," ujarnya.

 

Sementara itu, seorang peserta aksi bernama Fatul menyebut kelompok yang datang didominasi laki-laki dan perempuan berusia lanjut yang mengenakan masker serta penutup wajah.


Menurut pengamatannya, kelompok tersebut diduga keluar dari area Cafe Coge Lovers sebelum bergerak menuju titik demonstrasi.


"Mereka terdiri dari bapak-bapak dan ibu-ibu yang menggunakan masker serta penutup wajah. Berdasarkan pengamatan kami, mereka keluar dari area Cafe Coge Lovers sebelum menuju lokasi aksi," katanya.

 

Negara Dituntut Hadir


Dalam aksinya, PMII Makassar membawa berbagai spanduk dan poster yang mendesak negara segera mengusut dugaan praktik mafia tanah secara transparan serta memberikan kepastian hukum bagi masyarakat Pulau Lakkang Ca'di yang telah menguasai tanah secara turun-temurun.


Organisasi mahasiswa itu menilai persoalan agraria harus diselesaikan dengan menjunjung tinggi prinsip keadilan, kepastian hukum, dan perlindungan terhadap hak-hak masyarakat, bukan sekadar melalui pendekatan formal di ruang persidangan.


Menunggu Klarifikasi


Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat keterangan maupun tanggapan resmi dari pihak AAS Building ataupun pihak-pihak lain yang disebut dalam pernyataan PC PMII Makassar terkait berbagai dugaan yang disampaikan dalam aksi tersebut.


CELEBES POST menegaskan bahwa seluruh dugaan yang dimuat dalam pemberitaan ini merupakan pernyataan dan sikap resmi PC PMII Makassar sebagaimana disampaikan dalam aksi demonstrasi. Demi menjaga keberimbangan pemberitaan sesuai Kode Etik Jurnalistik, redaksi membuka ruang hak jawab dan hak klarifikasi kepada seluruh pihak yang disebutkan dalam berita ini untuk menyampaikan penjelasan secara proporsional pada pemberitaan berikutnya.


(Redaksi CELEBES POST)

×
Berita Terbaru Update