Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kontrol Humanis di Balik Jeruji: Polres Toraja Utara Gandeng Kemenag Bina Rohani Para Tahanan

Kamis, 27 Agustus 2026 | Agustus 27, 2026 WIB Last Updated 2026-08-26T18:40:51Z
Dokumentasi kontributor Celebes Post 

CELEBES POST | TORAJA UTARA — Di balik pintu ruang tahanan, proses hukum bukan semata tentang pembatasan kebebasan. Ada sisi lain yang tak kalah penting untuk dikawal: bagaimana negara memastikan setiap orang yang sedang menjalani proses hukum tetap diperlakukan secara manusiawi dan diberi ruang untuk memperbaiki diri.


Pesan tersebut terlihat dalam kegiatan pembinaan rohani yang digelar Polres Toraja Utara bersama Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Toraja Utara, Rabu (26/8/2026), di Ruang Tahanan Satuan Perawatan Tahanan dan Barang Bukti (Sat Tahti) Polres Toraja Utara, Panga', Kecamatan Tondon.


Kegiatan ibadah bersama itu dihadiri langsung Kapolres Toraja Utara AKBP Yoseph Adi R. Sudrajat, S.H., S.I.K., M.I.K. Kegiatan tersebut diarahkan sebagai bagian dari pembinaan mental dan spiritual bagi para warga binaan yang tengah menjalani masa tahanan.


Bagi institusi kepolisian, pembinaan semacam ini menjadi pendekatan yang menempatkan tahanan bukan hanya sebagai subjek proses hukum, tetapi juga sebagai manusia yang masih memiliki kesempatan untuk melakukan perubahan.


Kapolres Toraja Utara melalui Kasi Humas AKP Sette Marrung, S.H., menegaskan bahwa pembinaan rohani merupakan bentuk kepedulian kepolisian terhadap sisi kemanusiaan para tahanan.


“Pembinaan ini merupakan langkah nyata kami bersama Kemenag Toraja Utara untuk menyentuh sisi spiritual para tahanan. Kami berharap momentum ibadah ini menjadi sarana introspeksi diri yang mendalam, sehingga kelak ketika mereka kembali ke tengah masyarakat, mereka tumbuh menjadi pribadi yang baru, lebih baik, serta memiliki kesadaran hukum yang tinggi,” ujarnya.

 

Bukan Sekadar Seremonial


CELEBES POST menilai, kegiatan pembinaan rohani di ruang tahanan patut dilihat lebih jauh dari sekadar agenda seremonial.


Pertanyaannya kemudian adalah: sejauh mana pembinaan tersebut mampu memberikan dampak nyata terhadap perubahan perilaku para tahanan?


Sebab, keberhasilan pembinaan tidak hanya diukur dari terlaksananya ibadah atau kunjungan rohani, tetapi juga dari konsistensi program, kualitas pendampingan, serta keberlanjutan pembinaan selama seseorang menjalani proses hukum.


Dalam konteks tersebut, kolaborasi Polres Toraja Utara dengan Kemenag menjadi penting. Kehadiran lembaga keagamaan diharapkan mampu memberikan penguatan spiritual secara terarah, sementara kepolisian tetap menjalankan fungsi hukum dan keamanan sesuai ketentuan yang berlaku.


Pesan Pertobatan dan Kehidupan Baru


Dalam kegiatan tersebut, pelayanan firman Tuhan disampaikan oleh Novianto Rombe dengan mengambil perikop Alkitab Yesaya 43:18-19.


Pesan yang disampaikan mengajak para tahanan untuk tidak terus terjebak pada masa lalu, melainkan menjadikan pengalaman yang sedang dihadapi sebagai momentum introspeksi dan pembaharuan hidup melalui pertobatan.


Rangkaian kegiatan kemudian diisi dengan doa bersama, penyampaian firman, serta penguatan mental dan spiritual.


Kapolres juga memberikan arahan secara langsung kepada para tahanan agar tidak larut dalam keterpurukan selama menjalani masa penahanan.


Dokumentasi kontributor Celebes Post 

Dokumentasi kontributor Celebes Post 

Dokumentasi kontributor Celebes Post 

Dokumentasi kontributor Celebes Post 

Dokumentasi kontributor Celebes Post 

Dokumentasi kontributor Celebes Post 


Masa tahanan, dalam perspektif pembinaan, diharapkan tidak berhenti sebagai konsekuensi atas dugaan atau perbuatan yang sedang diproses secara hukum, tetapi dapat menjadi ruang refleksi untuk membangun kesadaran dan memperbaiki diri.


Kontrol: Jangan Berhenti pada Agenda Ibadah


Namun demikian, ada catatan penting yang patut menjadi perhatian.


Pembinaan rohani harus dijaga agar tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Jika tujuan akhirnya adalah membentuk pribadi yang lebih baik dan menekan potensi pengulangan tindak pidana, maka diperlukan program yang konsisten, terukur, terdokumentasi, dan dievaluasi secara berkala.


Publik juga memiliki kepentingan untuk mengetahui bagaimana pembinaan terhadap tahanan dilaksanakan secara berkelanjutan, termasuk bagaimana aspek kesehatan, psikologis, hak-hak tahanan, keamanan, serta pembinaan keagamaan berjalan secara berimbang.


Sebab, pendekatan humanis terhadap tahanan bukan berarti mengurangi ketegasan hukum. Sebaliknya, penegakan hukum yang kuat justru harus berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap martabat manusia.


Di sinilah nilai kontrol publik menjadi penting: apakah pembinaan benar-benar mampu melahirkan perubahan, atau hanya menjadi agenda yang selesai setelah kegiatan ditutup?


Mengurangi Risiko Residivisme


Polres Toraja Utara berharap pembinaan rohani yang dilakukan secara konsisten dapat menanamkan nilai moral dan keagamaan kepada para tahanan sekaligus menjadi bagian dari upaya mempersiapkan mereka kembali ke tengah masyarakat.


Harapannya jelas: ketika proses hukum telah selesai dan mereka kembali menjalani kehidupan sosial, mereka tidak kembali mengulangi kesalahan yang sama.


Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembinaan bukanlah seberapa sering kegiatan dilaksanakan, melainkan seberapa besar perubahan positif yang lahir setelahnya.


Dan bagi CELEBES POST, setiap upaya memanusiakan manusia di balik jeruji patut diapresiasi—dengan satu catatan: humanisme harus berjalan bersama akuntabilitas, pembinaan harus berjalan bersama evaluasi, dan proses hukum harus tetap berjalan sesuai aturan.



Pewarta Penyambung Lidah Rakyat.


Sumber: Humas Polres Toraja Utara Polda Sulsel.

×
Berita Terbaru Update