Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

KRISIS AIR BERSIH MAKASSAR KEMBALI MENGEMUKA! Kemarau Picu Ancaman Salinitas, Semua Pemangku Kepentingan Didesak Bergerak, Bukan Saling Menyalahkan

Rabu, 05 Agustus 2026 | Agustus 05, 2026 WIB Last Updated 2026-08-04T17:16:32Z
Dokumentasi kontributor Celebes Post


MAKASSAR, CELEBES POSTPersoalan pasokan air bersih yang kembali menghantui ribuan pelanggan di Kota Makassar memasuki babak yang lebih serius. Di tengah keluhan masyarakat akibat terganggunya distribusi air, berbagai pihak mengingatkan bahwa akar persoalan tidak bisa dipersempit hanya pada masalah distribusi ataupun dibebankan kepada satu institusi semata.


Dalam rilis tanggapan dan masukan konstruktif yang diterima redaksi, ditegaskan bahwa krisis air bersih yang terjadi merupakan persoalan lintas sektor yang berkaitan erat dengan pengelolaan sumber daya air baku, kondisi hidrologi, hingga koordinasi antarinstansi yang memiliki kewenangan masing-masing.


Fenomena ini kembali menjadi alarm bahwa setiap musim kemarau, Kota Makassar masih menghadapi persoalan klasik yang belum sepenuhnya terselesaikan secara sistematis.


Kemarau Turunkan Debit Air, Salinitas Sungai Tello Melonjak


Berdasarkan rilis tersebut, salah satu penyebab utama terganggunya produksi air bersih adalah menurunnya debit air baku selama musim kemarau yang diperparah oleh meningkatnya kadar salinitas atau kandungan garam di Sungai Tello.


Ketika kadar garam melampaui ambang batas yang diperbolehkan dalam proses pengolahan air, pengambilan air baku tidak dapat dilakukan secara normal. Langkah penghentian sementara pengambilan air merupakan prosedur teknis untuk memastikan mutu air bersih yang diproduksi tetap memenuhi standar kualitas.


Dampaknya sangat nyata. Berkurangnya volume air baku secara otomatis mengurangi kapasitas produksi instalasi pengolahan air, yang pada akhirnya memengaruhi kontinuitas distribusi kepada masyarakat.


Persoalan tersebut memperlihatkan bahwa tantangan utama bukan hanya berada pada jaringan distribusi, tetapi telah menyentuh aspek paling mendasar dalam sistem penyediaan air minum, yakni ketersediaan air baku yang layak diolah.


Sorotan Tertuju pada Kolaborasi, Bukan Saling Lempar Tanggung Jawab


Dalam rilis itu juga ditegaskan bahwa penyelesaian persoalan tidak dapat dilakukan secara parsial.


Seluruh pemangku kepentingan didorong untuk mengambil peran aktif, mulai dari PT Traya Tirta Makassar sebagai penyedia air baku, Perumda Air Minum Kota Makassar sebagai operator pelayanan air bersih, Pemerintah Kota Makassar sebagai penanggung jawab pelayanan publik, hingga Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan sumber daya air.


Pendekatan kolaboratif dinilai menjadi satu-satunya jalan agar masyarakat tidak terus menjadi pihak yang menanggung dampak dari persoalan yang berulang hampir setiap musim kemarau.


Di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan dasar, publik tentu berharap seluruh instansi terkait tidak berhenti pada penyampaian penjelasan, tetapi segera menghadirkan langkah konkret yang dapat dirasakan langsung oleh pelanggan.


Pelepasan Debit Bendungan Bili-Bili Diusulkan Menjadi Solusi Teknis


Salah satu masukan yang disampaikan dalam rilis adalah perlunya mempertimbangkan pengaturan pelepasan debit air dari Bendungan Bili-Bili secara terukur apabila kondisi hidrologi memungkinkan.


Langkah tersebut dinilai berpotensi meningkatkan aliran air tawar menuju Sungai Tello sehingga mampu menekan intrusi air laut yang menyebabkan tingginya kadar salinitas.


Apabila konsentrasi garam dapat ditekan hingga berada pada batas yang dapat diolah, maka proses pengambilan air baku di Sungai Tello diharapkan kembali berjalan lebih optimal.


Namun demikian, kebijakan tersebut tidak dapat dilakukan secara sepihak karena tetap harus memperhatikan kondisi ketersediaan air di bendungan, kebutuhan wilayah hilir, aspek keselamatan bendungan, serta berada dalam kewenangan BBWS Pompengan Jeneberang.


Optimalisasi Lekko Pancing Dinilai Penting


Selain Sungai Tello, rilis tersebut juga menyoroti pentingnya optimalisasi pasokan air baku dari wilayah Lekko Pancing.


Pengelolaan dua sumber air tersebut secara terpadu dinilai menjadi langkah strategis guna menjaga kontinuitas pelayanan kepada masyarakat, terutama ketika salah satu sumber mengalami penurunan kualitas akibat faktor alam.


Pendekatan ini dinilai mampu memperkuat ketahanan sistem penyediaan air baku sehingga pelayanan tidak terlalu bergantung pada satu sumber tertentu.


Masalah Tahunan Menuntut Solusi Permanen


Lebih jauh, rilis tersebut mengingatkan bahwa persoalan air bersih tidak cukup diselesaikan melalui langkah-langkah darurat setiap musim kemarau.


Kota Makassar dinilai membutuhkan strategi jangka panjang berupa pengembangan sumber air baku baru, peningkatan kapasitas instalasi pengambilan maupun pengolahan air, serta penguatan sistem pemantauan kualitas air baku secara berkelanjutan.


Langkah tersebut menjadi penting mengingat perubahan iklim, musim kemarau yang semakin panjang, serta meningkatnya kebutuhan air akibat pertumbuhan penduduk dan pembangunan kota diperkirakan akan terus memberikan tekanan terhadap sistem penyediaan air bersih.


Tanpa perencanaan yang komprehensif, persoalan serupa berpotensi kembali terulang pada tahun-tahun mendatang.


Masyarakat Menunggu Solusi, Bukan Polemik


Air bersih merupakan kebutuhan dasar sekaligus pelayanan publik yang menyangkut kepentingan jutaan warga.


Karena itu, masyarakat lebih membutuhkan kepastian solusi dibanding polemik mengenai siapa yang paling bertanggung jawab atas kondisi yang terjadi.


Sinergi antarinstansi, pengambilan keputusan berbasis data ilmiah, komunikasi yang terbuka kepada publik, serta percepatan langkah teknis dinilai menjadi kunci agar pelayanan air bersih tetap berjalan secara optimal di tengah tantangan musim kemarau.


Persoalan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ketahanan air baku bukan hanya isu teknis, melainkan bagian dari tanggung jawab bersama dalam menjamin hak masyarakat atas pelayanan dasar yang berkualitas. Publik kini menunggu langkah nyata dari seluruh pemangku kepentingan agar krisis air bersih tidak lagi menjadi persoalan yang berulang setiap datangnya musim kemarau.


(Redaksi CELEBES POST)

×
Berita Terbaru Update